Ini Biang Kerok yang Sebabkan Angkasa Pura I Terlilit Utang Rp35 Triliun

Dinar | Rabu, 8 Desember 2021 08:12

Reporter : Eko Huda S

erusahaan pelat merah ini bahkan terlilit utang Rp35 miliar dan terancam membengkak bila tak segera diatasi.

Dream – Pandemi Covid-19 membuat banyak usaha dalam kondisi kritis. Demikian pula dengan PT Angkasa Pura I. Perusahaan pelat merah ini bahkan terlilit utang Rp35 miliar dan terancam membengkak bila tak segera diatasi.

“ Manajemen tengah berupaya keras untuk menangani situasi sulit ini,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi, dikutip dari Merdeka.com, Selasa 7 Desember 2021.

Menurut Fahmi, pandemi yang menggulung Indonesia sejak Maret 2020 telah menyebabkan penurunan jumlah penumpang di 15 bandara Angkasa Pura I. Angka penurunannya lumayan signifikan.

Pada 2019 –sebelum pandemi, trafik penumpang di bandara Angkasa Pura I menyentuh angka 81,5 juta. Tapi pada 2020, penumpang tinggal 32,7 juta. Tahun ini bahkan diperkirakan Cuma 25 juta penumpang saja.

Ini Biang Kerok yang Sebabkan Angkasa Pura I Terlilit Utang Rp35 Triliun
YIA (Shutterstock.com)
2 dari 3 halaman

Kondisi itu semakin parah karena saat pandemi melanda Angkasa Pura I sedang mengembangkan berbagai bandara yang berada dalam kondisi lack of capacity, seperti Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo (YIA), yang menelan biaya pembangunan hampir Rp12 triliun.

Selain itu, Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dengan dana Rp2,3 triliun, Terminal Baru Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sebesar Rp2,03 triliun.

Kemudian, pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebesar Rp2,6 triliun. Selain itu pengembangan bandara lainnya seperti Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Lombok Praya, Terminal 1 Bandara Juanda Surabaya, Bandara Pattimura Ambon, Bandara El Tari Kupang.

3 dari 3 halaman

Proyek-proyek itu dibiayai melalui skema penggunaan dana internal dan berbagai sumber lain seperti kredit sindikasi perbankan serta obligasi. Pengembangan dilakukan untuk menjaga konektivitas udara tanah air tetap terbuka, serta mempercantik gerbang udara daerah lebih menarik.

Karena segala pengeluaran itulah kondisi keuangan dan operasional Angkasa Pura I mengalami tekanan besar. Pendapatan 2019 yang mencapai Rp8,6 triliun anjlok di 2020, menjadi Rp3,9 triliun.

Penurunan diprediksi masih akan terjadi pada 2021 akibat anjloknya jumlah penumpang yang hanya mencapai 25 juta orang. Dengan situasi trafik yang menurun dan adanya tekanan keuangan, Angkasa Pura I harus dihadapkan dengan kewajiban membayar pinjaman sebelumnya yang digunakan untuk investasi pengembangan bandara.

“ Seperti diketahui, sektor aviasi dan pariwisata merupakan sektor yang sangat terdampak pandemi Covid-19 di mana pandemi ini masih belum dapat diprediksi kapan akan berakhir,” kata Fahmi.

Join Dream.co.id