Aplikasi Sosmed Terbanyak Dipakai Orang Indonesia Buat Belanja Online, Rata-Rata Habis Rp275 Ribu Sebulan

Dinar | Kamis, 22 September 2022 16:47

Reporter : Alfi Salima Puteri

Social commerce pun menjadi opsi baru untuk berbelanja online secara mudah dan memungkinkan interaksi langsung dengan penjual sambil menjelajahi media sosial, tanpa harus berpindah aplikasi.

Dream - Platform belanja online atau e-Commerce mulai kedatangan pesaing baru. Terbukti sukses selama masa pandemi beberapa tahun terakhir, para pengelola media sosial (Medsos) juga mulai mengembangkan fitur yang menyediakan layanan jual beli melalui aplikasi mereka. 

Dianggap lebih praktis dan banyak menawarkan promo menarik, tren social commerce telah menjadi pilihan baru untuk masyarakat yang ingin berbelanja online secara mudah. Pembeli juga bisa berinteraksi langsung dengan penjual sambil menjelajahi media sosial, tanpa harus berpindah aplikasi.

Tren social commerce yang makin pesat ini terbukti dari survei yang baru-baru ini dirilis oleh Populix dalam laporan berjudul The Social Commerce Landscape in Indonesia. Survei tersebut mencoba menggali pengalaman dan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam menggunakan platform social commerce.

Hasil survei menunjukkan bahwa 52 persen masyarakat Indonesia sudah mengetahui tren transaksi jual beli melalui media sosial atau yang dikenal sebagai social commerce. Di sisi penjual, social commerce memungkinkan mereka untuk menjangkau calon pelanggan yang lebih luas. 

“ Sebagian besar masyarakat Indonesia mengetahui dan pernah mencoba berbelanja melalui social commerce untuk transaksi sehari-hari seperti membeli pakaian dan produk kecantikan," ungkap Dr. Timothy Astandu, Co-Founder dan CEO Populix dalam keterangannya, Kamis, 22 September 2022.

Aplikasi Sosmed Terbanyak Dipakai Orang Indonesia Buat Belanja Online, Rata-Rata Habis Rp275 Ribu Sebulan
Foto: Pixabay.com
2 dari 3 halaman

Lebih dari itu, pesatnya tren social commerce selama pandemi Covid-19 lalu turut mendorong kemunculan platform-platform jual beli berbasis interaksi sosial sebagai alternatif pilihan medium berbelanja bagi masyarakat.

" Lebih dari itu, pesatnya tren social commerce yang dibawa oleh pandemi Covid-19 juga turut mendorong kemunculan platform-platform jual beli berbasis interaksi sosial sebagai alternatif pilihan medium berbelanja bagi masyarakat," kata Timothy.

Laporan Populix menunjukkan bahwa 86 persen masyarakat Indonesia pernah berbelanja melalui platform media sosial. Meski baru dibandingkan pesaingnya, TikTok Shop menjadi platform terbanyak digunakan orang Indonesia dengan persentase 45 persen.

Di bawah TikTok Shop ada WhatsApp dengan persentase 21 persen, Facebook Shop 10 persen, dan Instagram Shop 10 persen.

Adapun barang yang dibeli masyarakat di platform tersebut adalah pakaian (61 persen), produk kecantikan (43 persen), makanan dan minuman (38 persen), serta handphone dan aksesoris (31 persen) dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp 275 ribu setiap bulan.

3 dari 3 halaman

Temuan lainnya, masyarakat juga mengatakan akan tetap menggunakan TikTok Shop dan Facebook Shop, serta mempertimbangkan untuk lebih banyak menggunakan Instagram Shop dalam berbelanja di masa depan.

Dari segi pengguna, saat ini TikTok Shop merupakan medium yang paling banyak digunakan oleh perempuan. Sedangkan WhatsApp dan Instagram Shop paling banyak digunakan oleh lelaki berusia 36-45 tahun.

Ke depannya, pengguna TikTok Shop akan terus didominasi oleh perempuan, terutama mereka yang berusia 18-25 tahun di kota-kota kecil di seluruh Jawa.

Sementara, Instagram Shop akan didominasi oleh konsumen dengan SES atas, dan WhatsApp akan lebih banyak digunakan oleh generasi yang lebih senior.

" Dengan meningkatnya tren social commerce di Indonesia, ke depannya kami berharap dapat terus memberikan insights menarik bagi ekosistem ini agar dapat membuka semakin banyak peluang pasar baru bagi UMKM, mendorong percepatan UMKM go digital, dan semakin meningkatkan pertumbuhan pasar digital di tanah air," jelas Timothy.

Join Dream.co.id