1 dari 6 Anak Muda di Dunia Berhenti Kerja karena Corona

Dinar | Kamis, 28 Mei 2020 15:36
1 dari 6 Anak Muda di Dunia Berhenti Kerja karena Corona

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Kalau kondisi seperti ini dibiarkan, perekonomian juga bisa kena getahnya.

Dream – Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan 1 dari 6 generasi muda saat ini berhenti kerja karena pandemi corona. Laporan organisasi ini juga menyebut karyawan muda yang bekerja mengalami pemotongan jam kerja sebanyak 23 persen.

Dikutip dari Merdeka.com, Kamis 28 Mei 2020, Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder mengatakan, krisis ekonomi akibat pandemi corona telah menghantam kehidupan generasi muda. Kalangan perempuan mendapat tekanan lebih berat dan cepat dibandingkan kelompok lainnya.

" Jika kita tidak mengambil aksi yang signifikan dan segera untuk memperbaiki situasi mereka, imbas virus ini dapat kita rasakan beberapa dasawarsa ke depan," kata Ryder.

Kalau energi dan bakat karyawan muda tak termanfaatkan denan baik, ini akan membahayakan masa depan. Ditambah lagi, perekonomian juga akan semakin sulit dibangun pasca Covid-19.

Kaum muda yang terdampak pandemi secara tidak proporsional, serta terjadi peningkatan yang besar dan cepat dalam pengangguran muda sejak Februari 2020. Hal itu lebih banyak berdampak kepada perempuan muda dibandingkan laki-laki muda.

Dalam laporan tersebut, dituliskan bahwa pandemi ini memberikan kejutan tiga kali lebih besar bagi kaum muda. Tidak hanya menghancurkan pekerjaan mereka, tetapi juga mengganggu pendidikan dan pelatihan serta memberikan hambatan besar bagi mereka yang sedang berupaya memasuki pasar kerja atau berpindah pekerjaan.

2 dari 5 halaman

Pengangguran Muda Lebih Tinggi

Pada angka 13,6 persen, tingkat pengangguran muda di 2019 terbilang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Ada sekitar 267 juta kaum muda yang tidak dalam pekerjaan, pendidikan atau pelatihan di seluruh dunia.

Mereka yang berusia 15-24 tahun dan bekerja umumnya berada dalam bentuk pekerjaan rentan seperti profesi berupah rendah, pekerjaan di sektor informal, atau sebagai pekerja migran.

ILO menyerukan tanggapan berskala besar dengan kebijakan yang tersasar untuk mendukung kaum muda, termasuk program yang memastikan lapangan kerja dan pelatihan yang luas di negara-negara berkembang, serta program yang kaya pekerjaan di negara dengan pendapatan ekonomi rendah dan menengah.

3 dari 5 halaman

Kebijakan New Normal Bisa Tekan Risiko PHK

Dream – Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendukung keputusan pemerintah untuk menerapkan New Normal. Keputusan ini bisa menggerakkan kehidupan masyarakat menuju ke fase kenormalan baru.

" Pemerintah akan menerapkan new normal sebagai percobaan apakah program tersebut akan terus menerus diterapkan karena pandemi Covid-19 belum ada kepastian kapan selesainya," kata Ketua Umum BPP HIPMI, Mardani H. Maming, dalam keterangan tertulisnya, Rabu 27 Mei 2020.

Menurut Maming, kegiatan ekonomi memerlukan kepastian dan tidak boleh berhenti terlalu lama dalam penerapan new normal. Kalau tidak, ini berisiko menambah pemutusan hubungan kerja (PHK) dan berujung kepada resesi.

“ Karena pemerintah mau mengeluarkan keputusan ini, jadi boleh tetap bekerja. Tetapi, tetap mengikuti anjuran standar protokol kesehatan penanganan Covid-19,” kata dia.

Dalam  Forum Ketum BPP dan BPD HIPMI se-Indonesia melalui virtual conference, ada beberapa arahan yang diberikan oleh Maming. Salah satunya tentang penyamaan persepsi terkait pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) secara virtual.

Forum ini membahas hal-hal yang luput dari pandemi Covid-19, dia menghimbau kepada Ketum BPD di 34 provinsi untuk tidak terlalu memikirkan pandemi yang berujung membawa dampak.

" Kalau ikuti pandemi Covid-19 terus yang dipikirkan tidak ada habisnya. Anggota HIPMI harus diberikan siraman rohani, jasmani, dan mental biar tidak terbuai dengan pandemi Covid-19," kata dia.

4 dari 5 halaman

Menteri Erick Thohir: New Normal Bisa Optimal Dalam 4 Bulan

Dream - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan keberhasilan penerapan New Normal tak bisa langsung dipetik secara instan. Dalam perkiraannya, gaya hidup normal baru ini baru bisa optimal dalam kurun waktu 4-5 bulan. sejak diberlakukan.

Menurut Erick Thohir, masyarakat tentu harus membiasakan diri dengan kebiasaan baru dan periode adaptasi.

" Jadi nggak langsung jadi karena ini mengubah habbit (kebiasaan) masyarakat," ujar Erick dalam acara Silaturahome, Selasa, 26 Mei 2020.

Erick melanjutkan, penerapan New Normal versi BUMN cenderung lebih melebar. Aktivitas bisnis yang selama ini dijalani tentu akan mengalami penyesuaian. Sebagai contoh BUMN pertambangan nantinya mungkin membuat sistem pelaporan dengan menerapkan jaga jarak plus memanfaatkan teknologi.

 

5 dari 5 halaman

Masih Ada yang Perlu Dibimbing

Namun, ada juga sejumlah BUMN yang tidak bisa sepenuhnya menjalankan sistem kerja jarak jauh. Para pegawai BUMN yang mengelola Bandara kemungkinan masih harus melayani para penumpang pesawat.

" Struktur yang ada di sistem kita juga akan berubah, ini harus trial dan error. Kan nggak ada yang sempurna. Yang namanya protokol harus diuji coba dulu, mana yang bagus, mana yang kurang. Ini memang nggak mudah dijabarkan tapi harus dilakukan," jelas Erick.

Hingga saat ini diperkirakan 86 persen BUMN telah siap menjalankan protokol New Normal di lingkungan kerjanya masing-masing. Sementara sisanya masih akan dinimbing agar sistem baru di lapangan tak lantas menjadi blunder.

Pelaksanaan protokol New Normal juga masih harus memperhatikan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di masing-masing daerah.

" Makanya kemarin kita keluarkan surat edaran, bukan berarti tanggal 25 kita nggak libur Lebaran. Itu karena supaya kalau tiba-tiba tanggal 26 nya ada pelonggaran, BUMN nggak bingung," jelas Erick.(Sah)

Join Dream.co.id