Hukum Jual Beli dalam Islam, Dalil yang Memperbolehkan dan Syarat-Syarat Sahnya

Dinar | Rabu, 8 Desember 2021 18:14

Reporter : Widya Resti Oktaviana

Jual-beli dalam Islam diperbolehkan, dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan.

Dream – Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentunya sering melakukan aktivitas jual beli. Baik itu di pasar, toko, supermarket, dan sebagainya. Aktivitas jual beli sangat penting untuk menghidupkan perekonomian masyarakat. Apalagi setiap orang perlu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari yang tentu saja membutuhkan uang.

Namun, Sahabat Dream juga perlu untuk memerhatikan aktivitas jual beli seperti apa yang boleh dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan. Oleh karena itu, kamu haruslah mengetahui bagaimana hukum jual beli dalam Islam agar nantinya bisa menjalankan kegiatan tersebut sesuai dengan syariat Allah SWT.

Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri sejak kecil sudah terbiasa berdagang yang dibimbing oleh pamannya sendiri yang bernama Abu Thalib. Dari pengalaman berdagang itulah, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai orang yang jujur dan berintegritas. Inilah yang menjadi kunci dari kesuksesan Nabi Muhammad saw dalam berdagang. Di mana semuanya beliau lakukan dengan baik dan sesuai dengan syariat Islam.

Bagi sahabat Dream yang ingin mengetahui bagaimana hukum jual-beli dalam Islam dan syarat sah jual-beli dalam Islam, berikut sebagaimana telah dirangkum Dream melalui berbagai sumber.

Hukum Jual Beli dalam Islam, Dalil yang Memperbolehkan dan Syarat-Syarat Sahnya
Hukum Jual-beli Dalam Islam (Foto Ilustrasi: Pixabay.com)
2 dari 4 halaman

Pengertian Jual Beli dalam Islam

 Pengertian Jual-Beli dalam Islam© Pixabay.com

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jual adalah tukar sesuatu dengan uang. Sedangkan beli adalah memperoleh atau memiliki sesuatu dengan membayar. Kedua kata tersebut jelas memiliki arti yang berbeda, namun keduanya saling berkaitan dalam aktivitas perekonomian yang dilakukan masyarakat setiap harinya.

Seperti dikutip dari qazwa.id, jual-beli secara bahasa berasal dari kata al-bay’u yang berarti mengambil dan memberikan sesuatu. Tetapi ada juga yang mengartikan al-bay’u sebagai aktivitas menukar harta dengan harta.

Sedangkan menurut istilah dalam kitab Taudhibul Ahkam, jual-beli dalam Islam adalah transaksi tukar menukar yang memberikan dampak, yakni bertukarnya kepemilikan (taqabbudh) yang tidak akan sah jika tidak dilakukan dengan akad yang baik dan benar dan dilakukan secara ucapan atau pun perbuatan.

3 dari 4 halaman

Hukum Jual Beli dalam Islam

Diceritakan dalam sirah nabawiyah bahwa Nabi Muhammad saw sudah berdagang sejak masih kecil. Tentunya sudah banyak sekali pengalaman yang beliau dapatkan. Bahkan sikap Nabi Muhammad saw saat berdagang pun banyak dipuji karena beliau berdagang dengan sangat baik. Di mana semua beliau lakukan dengan penuh kejujuran.

Nah, dalam aktivitas jual-beli hal ini sebenarnya tidaklah dilarang. Hukum jual-beli dalam Islam membolehkan kegiatan ekonomi ini untuk mendapatkan keuntungan. Asal dilakukan sesuai dengan syariat Islam.

Disyariatkannya jual-beli dalam Islam ini telah dijelaskan dalam Al-Quran pada surat Al-Baqarah ayat 275 berikut ini:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

 Artinya: “ …padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al-Baqarah: 275).

Sedangkan dalam sunah Nabi pun juga dijelaskan tentang jual-beli ini. Sebagaimana dikutip melalui Muslim.or.id, Nabi saw pernah mendapat pertanyaan tentang profesi apa yang baik. Lalu Nabi saw pun menjawab bahwa profesi yang terbaik adalah segala pekerjaan yang dilakukan dengan kedua tangannya dan transaksi jual-beli tanpa melanggar batasan syariat. Nabi saw bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

Artinya: Emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama beratnya dan langsung diserahterimakan. Apabila berlainan jenis, maka juallah sesuka kalian namun harus langsung diserahterimakan/secara kontan.” (HR. Muslim: 2970).

4 dari 4 halaman

Syarat Sah Jual Beli dalam Islam

 Syarat Sah Jual-Beli dalam Islam© Pixabay.com

Setelah mengetahui bahwa hukum jual-beli dalam Islam diperbolehkan, sahabat Dream juga harus mengatahui apa saja syarat sah jual-beli dalam islam. Dalam melakukan jual-beli, Islam sendiri telah mengaturnya sedemikian rupa agar tidak melanggar syariat. Berikut adalah beberapa syarat sah jual-beli dalam Islam yang dikutip melalui m.oase.id:

Jual-Beli Dilakukan Tanpa Paksaan

Dalam melakukan jual-beli, sebaiknya tidak dengan memaksa. Di mana hal ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan bisa menimbulkan konflik. Transaksi jual-beli haruslah dilandasi dengan rasa ridha dan sukarela. Hal ini pun telah dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 29 sebagai berikut:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ‌ ۚ وَلَا تَقۡتُلُوۡۤا اَنۡـفُسَكُمۡ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيۡمًا

 Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29).

Barang yang Diperjualbelikan Haruslah Suci

Hukum jual-beli dalam Islam diperbolehkan dengan syarat barang yang diperjualbelikan dalam kondisi yang suci. Dalam artian barang tersebut tidaklah najis atau pun haram. Selain itu, barang yang dijual adalah sepenuhnya milik penjual. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

 Artinya: Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Dawud: 3503).

Tidak Menutupi Kecacatan

Dalam hal ini barang yang diperjualbelikan harus dijelaskan sesuai dengan kondisi aslinya. Jika ada bagian barang yang cacat, maka jangan ditutup-tutupi agar barang tersebut laku terjual. Dalam transaksi jual-beli sangatlah penting menjunjung tinggi kejujuran. Hal inilah yang membuat hukum jual-beli dalam Islam diperbolehkan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ

 Artinya: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak halal bagi seorang muslim menjual barang dagangan yang memiliki cacat kepada saudaranya sesama muslim, melainkan ia harus menjelaskan cacat itu kepadanya.” (HR. Ibnu Majah: 2246).

Itulah dalil-dalil dari Al-Quran dan hadis yang menjadi landasan hukum jual-beli dalam Islam. Selain itu ada beberapa syarat sah dari jual-beli sehingga transaksi yang dilakukan sejalan dengan perintah Allah SWT.

Join Dream.co.id