Harga Pembalut Rp300 Ribu, Wanita Lebanon Pakai Handuk atau Potongan Kain

Dinar | Sabtu, 10 Juli 2021 11:03

Reporter : Sugiono

Sebagian wanita Lebanon kini belajar membuat pembalut dari potongan kain yang bisa dipakai ulang.

Dream - Dalam beberapa hari terakhir Lebanon dilanda krisis ekonomi yang sangat parah. Terjadinya hiperinflasi membuat berbagai kebutuhan mengalami kelangkaan dan kenaikan harga yang tak masuk akal.

Bahkan kaum wanita di Lebanon menjerit karena harga pembalut yang sebagian besar impor meroket tajam hingga tidak bisa terbeli.

Dilansir Global Times, Jumat 9 Juli 2021, kenaikan harga pembalut wanita yang tidak masuk akal ini dipicu oleh krisis ekonomi yang melanda Lebanon.

Harga Pembalut Rp300 Ribu, Wanita Lebanon Pakai Handuk atau Potongan Kain
Seorang Wanita Membawa Bendera Lebanon. (Foto: Mohamed Azakir/Google Images)
2 dari 5 halaman

Harga Pembalut Naik Hingga 500 Persen

Disebutkan jika harga pembalut wanita di Lebanon mengalami kenaikan hingga 500% sejak dimulainya krisis ekonomi.

Bank Dunia menyebut krisis ekonomi di Lebanon sebagai salah satu yang terburuk di dunia sejak tahun 1850-an.

Sekitar dua tahun yang lalu pembalut wanita dijual antara 3.000-4.000 pound Lebanon atau sekitar Rp28.860 hingga Rp38.480.

3 dari 5 halaman

Sekotak Pembalut Bisa Rp300 Ribu-an

Namun sekarang harga pembalut yang sama sudah naik puluhan kali lipat. Sekotak pembalut kini dibanderol 13.000 pound atau sekitar Rp 125.000.

Bahkan ada yang melaporkan kalau pembalut sekarang dijual hingga 32.000 pound Lebanon atau Rp307.000 per paketnya.

Melonjaknya harga pembalut ini membuat seorang perempuan bernama Sherine tidak mampu lagi membelinya.

" Dengan semua kenaikan harga dan rasa frustrasi, saya lebih baik berhenti menstruasi sama sekali," kata wanita 28 tahun itu sambil berurai air mata.

© Dream
4 dari 5 halaman

Pembalut Murahan Ikut Naik Harga

Sherine mengatakan awalnya dia beralih ke pembalut yang lebih murah meski konon bisa menyebabkan iritasi pada kulit.

Tetapi akhir-akhir ini pembalut murahan ini malah ikut naik harganya sehingga dia terpaksa memakai handuk atau potongan kain.

Dia lebih mendahulukan kebutuhan putrinya. Uang untuk membeli pembalut dipakai untuk membeli susu untuk putrinya.

" Saat ini saya menggunakan handuk dan potongan kain. Saya memilih untuk mendahulukan putri saya yang lebih membutuhkan susu," tuturnya.

5 dari 5 halaman

Terpaksa Bikin Pembalut Sendiri dari Kain

Cerita Sherine mengingatkan pada krisis Covid-19 ketika harga masker tiba-tiba melonjak tinggi hingga orang-orang terpaksa memakai masker kain.

Seperti Sherine, sebagian wanita Lebanon kini belajar membuat pembalut dari potongan kain yang bisa dipakai ulang.

Dengan lebih dari separuh populasi hidup dalam kemiskinan, puluhan ribu wanita Lebanon sekarang putus asa mencari alternatif pembalut yang terjangkau.

Sumber: Global Times

© Dream
Join Dream.co.id