Terapkan WFH, Google Kekurangan Stok Laptop Buat Karyawan

Dinar | Sabtu, 16 Mei 2020 14:01
Terapkan WFH, Google Kekurangan Stok Laptop Buat Karyawan

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Ini alasannya.

Dream – Pandemi virus corona turut berpengaruh pada perusahaan raksasa Google yang bermarkas di Silicon Valley, Amerika Serikat. Google telah memutuskan kebijakan bekerja dari rumah (work from home) untuk para pekerjanya. Fasilitas bagi pegawai seperti laptop dan ponsel disediakan oleh perusahaan.

Meski berstatus perusahaan raksasa, rupanya Google juga menghadapi kesulitan memberikan fasilitas penunjang ngWFH tersebut.

Dilansir dari CNBC, Jumat 15 Mei 2020, Google belum lama ini mengumumkan bahwa hardware seperti pasokan laptop untuk pegawai sangat terbatas. Google diketahui mewajibkan sekitar 300 ribu pegawainya untuk bekerja dari rumah.

" Perangkat (laptop dan ponsel) tidak tersedia di beberapa lokasi. Kami melakukan upaya terbaik untuk mendapatkan laptop sebanyak mungkin, tapi saat ini tidak mungkin membekali setiap orang dengannya," jelas juru bicara Google.

Selain banyaknya karyawan Google, produsen laptop pun kian mengalami gangguan produksi karena imbas corona. Google saat ini memprioritaskan pemberian perangkat pada karyawan baru atau pada karyawan yang mengalami kerusakan alat kerja.

2 dari 6 halaman

Butuh Penyesuaian

Kebijakan work from home memang membutuhkan banyak penyesuaian. Seorang juru bicara Google mengakui bahwa proses WFH jauh lebih lambat daripada secara langsung, tetapi saat ini Google tetap memenuhi target.

Selain kesulitan untuk pemenuhan target, karyawan google tidak lagi mendapat fasilitas makan gratis yang biasanya disediakan pihak perusahaan dan tidak mendapat 'uang makan'.

Dalam memo internal yang didapat dari sumber, Google mendesak karyawan untuk tetap bersabar terkait peralatan kerja dan fasilitas lainnya. CEO Alphabet, Sundar Pichai mengubah pernyataan terkait sistem work from home yang dijalani para pegawai Google.

Sebelumnya, Pichai menyebutkan para pegawai Google harus bekerja remote dari rumah hingga 1 Juni 2020. Namun menurut The Information, Pichai meralat kebijakan tersebut dan mengatakan para pegawai Google akan WFH hingga akhir 2020.

3 dari 6 halaman

Bernilai Rp13.660 T, Valuasi Induk Google Kini Setara Apple

Dream - Induk perusahaan Google, Alphabet, kini bisa sejajar dengan Apple dan Amazon. Perusahaan ini mencetak nilai kapitalisasi pasar mencapai US$1 triliun atau sekitar Rp13.660,4 triliun.

Dikutip dari The Verge, Jumat 17 Januari 2020, valuasi perusahaan meningkat setelah harga saham naik 0,87 persen menjadi US$.1.451,7 atau Rp19,83 juta per lembar saham pada penutupan perdagangan saham, Kamis, 16 Januari 2020.

CEO Google, Sundar Pichai, mengambil alih posisi CEO Alphabet pada Desember 2019. Pengambilalihan ini dilakukan setelah pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, melepaskan kendali atas Alphabet.

 

Bernilai Rp13.660 T, Valuasi Induk Google Kini Setara Apple© Dream

 

Alphabet dijadwalkan melaporkan pendapatan kuartal keempat pada 3 Februari 2020. Analis Wall Street memperkirakan pendapatan perusahaan raksasa asal Amerika Serikat ini naik 20 persen jadi US$46,9 miliar (Rp640,67 triliun). 

Dengan menjadi perusahaan US$1 triliun, Alphabet menambah daftar perusahaan yang memiliki nilai pasar serupa. Ketiga “ pendahulu” Alphabet adalah Apple, Amazon, dan Microsoft. Perusaahan selanjutnya yang akan mengekor Alphabet adalah Facebook.

4 dari 6 halaman

Bukan Apple, Perusahaan Termahal Sepanjang Sejarah Ada di Indonesia

Dream – Ketika ditanya perusahaan termahal di dunia, kita pasti akan langsung menyebut nama Apple, Microsoft, atau Saudi Aramco. Jawaban itu memang tak sepenuhnya salah. Setidaknya untuk saat ini.

Tahukah Sahabat Dream jika perusahaan termahal di dunia sepanjang sejarah ternyata berdiri di Indonesia. 

Perusahaan yang bernilai paling tinggi di dunia sepanjang masa yang ada di Indonesia itu adalah Verenidge Oost—Indische Compagnie atau sering disingkat VOC.

 

Bukan Apple, Perusahaan Termahal Sepanjang Sejarah Ada di Indonesia© Dream

Nama VOC yang merupakan perusahaan kongsi dagang milik Belanda ini pasti dikenal oleh semua orang Indonesia.

Dikutip dari Visual Capitalist, Selasa 11 Juni 2019, VOC didirikan pada 1602. Meskipun berupa sekutu dagang, perusahaan ini mendapatkan hak istimewa dari pemerintah Belanda. Mereka mendapatkan monopoli perdagangan dan melakukan perjalanan ke tempat-tempat misterius dan asing.

 

5 dari 6 halaman

Nilai Perusahaan VOC Rp112.634 Triliun

VOC bisa mendapatkan barang-barang eksotis, membangun koloni, bahkan bisa menciptakan militer dan memulai perang atau konflik!

VOC menjadi perusahaan terkaya di dunia.© Visual Capitalist.

Selama 21 tahun, perusahaan ini diberikan monopoli dagang oleh pemerintah Belanda untuk berdagang rempah-rempah di Asia. VOC mengirim lebih dari satu juta pelayaran ke Asia. Jumlah ini melebihi pelayaran seluruh Eropa.

Sekadar informasi, tak ada tolok ukur yang nyata untuk menentukan nilai perusahaan ini. Tapi, VOC bisa “ diukur” dari masa kejayaannya pada 1637. Kala itu terjadi Tulip Mania di Belanda.

Para periode tersebut, perusahaan yang juga sempat mencengkeram pengaruh mereka di Indonesia ini bernilai 78 juta gulden atau sekitar US$7,9 triliun (Rp112.634,77 triliun) pada zaman modern.

 

6 dari 6 halaman

Setara 20 Perusahaan Berkelas Dunia

Menariknya, VOC memiliki nilai yang sama dengan PDB Jepang senilai US$4,8 triliun (Rp68.436,32 triliun) ditambah dengan Jerman US$3,4 triliun (Rp48.475,72 triliun).

Lalu, nilai VOC sama dengan 20 perusahaan terbesar dunia. Sebut saja, Microsoft, Apple, Amazon, ExxonMobil, dan Tencent. Bahkan, nilai Apple hanya 11 persen dari VOC.

Perusahaan kongsi dagang ini memiliki 70 ribu karyawan dan bertahan lebih dari 400 tahun (perusahaan ini bangkrut pada 1799).

Sebagai perbandingan, ini adalah perusahaan kelas dunia yang mencapai puncak.

  • Saudi Aramco: US$4,1 triliun (Rp58.456,02 triliun) mendapatkan puncak pada 2010.
  • PetroChina: US$1,4 triliun (Rp19.960,59 triliun) pada 2007.
  • Standard Oil: US$1 triliun (Rp14.257,57 triliun).
  • Microsoft: US$912 miliar (Rp13.002,9 triliun).
Join Dream.co.id