Generasi Milenial Ingin Menikah Tapi Khawatir dengan Budget?

Dinar | Kamis, 13 Februari 2020 15:36
Generasi Milenial Ingin Menikah Tapi Khawatir dengan Budget?

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Jangan khawatir. Baca trik-triknya di sini.

Dream - Menikah menjadi momen paling dinanti oleh pasangan kekasih. Agar momen istimewa itu menjadi sempurna, banyak pasangan mempersiapkan kebutuhan pernikahan sampai sedetail mungkin.

Salah satu yang menjadi pertimbangan sebelum melakukan pernikahan adalah biaya. Memnbuat pesta pernikahan memang butuh uang yang tak sedikit. Sehingga ada pasangan yang membagi beban anggaran tersebut.

Namun jangan lupa. Pesta pernikahan bukan segalanya. Kehidupan rumah tangga justru dimulai setelah pesta pernikahan bubar. Keluarga baru perlu banyak biaya untuk menapaki kehidupan bersama.

“ Menikah adalah awal membangun rumah tangga, kehidupan pernikahan justru dimulai setelah pesta,” kata Senior Manager Business Development Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis 13 Februari 2020.

Dia menyarankan pernikahan tidak dibiayai dari utang. “ Masih banyak tahapan kehidupan yang membutuhkan biaya,” kata Yan.

2 dari 5 halaman

Bagaimana dengan Generasi Milenial?

Namun, pernikahan yang dasarnya murah bisa menjadi mahal karena generasi milenial makin peduli dengan pencitraan dan penampilan. Mereka biasanya menginginkan pernikahan yang modern dan visual.

Sebagai contoh, ada beberapa detail yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya di pesta pernikahan era lama, seperti tambahan photobooth dan layar LCD untuk penayangan live pesta pernikahan.

Estimasi biaya pernikahan juga terus meningkat. Misalnya, resepsi pernikahan di hotel bintang lima kawasan Jakarta, pada 2020, bisa mencapai lebih dari Rp500 juta.

 Bagaimana dengan Generasi Milenial?© Dream

“ Nilai ini belum termasuk jasa fotografer, photobooth, undangan, suvenir, hantaran, dan lainnya,” kata Yan.

Apalagi, media sosial juga sangat lekat dengan kehidupan milenial. Pernikahan yang ditampilkan pada unggahan media sosial ini semakin berkembang sehingga para milenial tidak mau menikah sekadarnya dan dengan cara konservatif.

“ Dengan fakta di atas, bisa kami katakan bahwa biaya pernikahan untuk milenial memerlukan biaya yang besar,” kata dia.

3 dari 5 halaman

Jadi Polemik

Fenomena ini membuat polemik bagi mereka yang belum secara finansial. Ada yang maju untuk menikah dengan berutang, ada juga yang yang menunda pernikahan.

“ Jika mau menyesuaikan kemampuan keuangan dan mengerti akan tujuan pernikahan, tidak perlu menunda karena gengsi. Pernikahan tetap dilangsungkan dengan cara sederhana,” kata Yan.

Akan tetapi, jika jatuh kepada pilihan ke dua, Yan menyarankan milenial memanfaatkan fasilitas pinjaman tanpa bunga atau marjin yang sangat kecil.

“ Ini mengingat pernikahan dibiayai dengan anggaran yang dipersiapkan sebelumnya,” kata dia.

4 dari 5 halaman

Mau Nikah dan Sesuai dengan Kemampuan Finansial Milenial?

Setelah menikah, pasangan akan berhadapan dengan sejumlah kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan masa depan. Kalau dibiayai dengan utang, sebagian usia pernikahan akan dipenuhi tuntutan membayar utang biaya pernikahan. Urusan ini bisa saja berdampak pada relasi antar pasangan dan harus menunda kebutuhan lainnya.

“ Jika ingin menikah tetapi penghasilan tidak mencukupi membiayai pesta, mulailah hidup lebih hemat, menahan diri untuk tidak belanja yang bukan urgensi, seperti baju, sepatu, atau belanja online, mengurangi kebiasaan hang out di kafe, tidak perlu tergoda promo diskon atau cashback untuk hal-hal yang bukan menjadi prioritas hidup saat ini,“ kata dia.

 Mau Nikah dan Sesuai dengan Kemampuan Finansial Milenial?© Dream

Menurut survei Bridestory Indonesia Wedding Industry Report, pesta pernikahan dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu affordable, moderate, premium, dan luxurious dengan kisaran tamu undangan mulai dari 50 pax sampai 1.000 pax Untuk kategori affordable, biaya yang diperlukan Rp20-Rp400 juta, moderate berkisar Rp40 juta-Rp800 juta, premium Rp100 juta-Rp2 miliar.

Untuk tipe luxurious, seperti pernikahan di luar kota atau luar negeri, mengundang selebritis sebagai pengisi acara, dan menggunakan jasa vendor premium, kisaran dananya Rp350 juta-Rp7 miliar.

Dari empat kategori di atas, kisaran angka yang dianggap wajar untuk pesta pernikahan tergantung dari jumlah tamu yang diundang dan tingkat kemewahan acara, tipe pesta pernikahan yang diimpikan, pemilihan lokasi serta pilihan jenis hidangan (katering).

5 dari 5 halaman

Kalau Belum Yakin dengan Bujet?

Lalu, bagaimana jika ingin menikah tapi bujetnya meragukan? Yan menyarankan untuk mempersiapkan rincian anggaran pernikahan yang rasional.

Panduannya, ada 40 persen anggaran untuk biaya konsumsi, 20 persen dekorasi, 5 persen akad nikah, 8 persen pakaian, venue, dan dokumentasi, serta 3 persen untuk suvenir dan 5 persen biaya lainnya.

Yan juga menyarankan ada 10 persen bujet yang disisihkan untuk biaya tak terduga, misalnya tambahan katering.

Nah, kalau bujet sudah ada, giliran kamu meninjau kembali anggaran pernikahan. Sahabat Dream bisa memilih anggaran mana yang dipangkas dan dihilangkan. Misalnya, kalau biaya videografi lebih besar, kamu bisa menghapus photobooth dan hanya menyediakan tempat foto dengan dekorasi yang sederhana.

Untuk menyiasati bujet, tentunya kamu bisa mensurvei dulu untuk harga paket pernikahan termasuk survei barang perlengkapan pernikahan. Beberapa vendor biasanya dapat diikat harganya dengan down payment (DP) sekitar satu tahun menjelang hari-H pernikahan dan sisa pembayarannya bisa dicicil kemudian di sepanjang tahun tersebut.

“ Hal ini tentu bisa meringankan kita untuk mengalokasikan mana bujet yang prioritas dan mana yang bisa ditunda,” kata dia.

Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup
Join Dream.co.id