Regulator Penerbangan Sipil AS Tahu Boeing 737 Max 8 Masih Berpotensi Kecelakaan

Dinar | Jumat, 13 Desember 2019 13:36
Regulator Penerbangan Sipil AS Tahu Boeing 737 Max 8 Masih Berpotensi Kecelakaan

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Tapi…

Dream - Federal Aviation Administration (FAA) tetap mengizinkan Boeing MAX 737 terbang pada tahun lalu. Padahal, lembaga regulator penerbangan sipil Amerika Serikat itu tahu bahwa pesawat ini berpotensi lebih sering mengalami kecelakaan.

Dikutip dari Travel and Leisure, Jumat 13 Desember 2019, analisis FAA dilakukan setelah terjadi kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP rute Jakarta Pangkalpinang pada 2018. Kajian ini dirilis selama rapat dengar pendapat dengan Komisi Transportasi parlemen AS.

Dalam kajian ini, ditemukan bahwa pesawat berbadan bongsor itu berpotensi mengalami kecelakaan setidaknya 15 kali selama 45 tahun. Potensi tersebut bakal terjadi bila Boeing tidak mengubah desain yang signifikan.

Sayangnya, FAA tetap mengizinkan Boeing 737 MAX untuk terbang sampai akhirnya kecelakaan ke dua terjadi lima bulan setelah jatuhnya Lion Air di Tanjung Karawang.

“ Terlepas dari perhitungannya sendiri, FAA mengabaikan keselamatan publik dan membiarkan MAX terus terbang sampai Boeing bisa merombak perangkat lunak MCAS-nya,” kata Ketua Komite Transportasi Parlemen, Peter DeFazio, D-Ore.

2 dari 8 halaman

Malah Keluarkan Kelaikan Udara

Alih-alih menghukum pesawat, FAA justru mengeluarkan surat layak terbang kepada pilot. Perangkat lunak yang ada di pesawat ini terlibat dalam kedua kecelakaan yang fatal. Jika digabungkan total korban pesawat 737 MAX sebanyak 346 orng.

FAA menyampaikan jiika masalah tak diselesaikan, bisa-bisa 2.900 orang bisa mati karena perangkat lunak pesawat berbadan bongsor itu.

Boeing mengatakan kecelakaan ini terjadi karena mengikuti arahan FAA bahwa pesawat ini laik terbang.

3 dari 8 halaman

Gagal

DeFazio menilai FAA gagal melakukan tugasnya. “ Dia gagal memberikan pengawasan peraturan yang diperlukan untuk memastikan keamanan publik penerbangan,” kata dia dalam rapat dengar pendapat.

Rapat ini juga mengulangi kesalahan Boeing yang tetap melanjutkan produksi meskipun ada masalah keamanan. Manajer Boeing mengatakan bahwa masalah kualitas produksi pesawat ini telah dilaporkan kepada direksi produsen pesawat berbulan-bulan sebelum kecelakaan pesawat pertama terjadi.

Kepala FAA Stephen Dickson mengatakan bahwa Boeing tidak akan disertifikasi ulang untuk terbang sampai 2020.

4 dari 8 halaman

Tak Tahan Lagi Hidup Sengsara, 400 Pilot 737 MAX Tuntut Boeing

Dream - Lebih dari 400 pilot pesawat Boeing 737 Max menuntut perusahaannya karena telah menyebabkan hidup mereka sengsara. Kehidupan mereka berubah sejak banyak pesawat dikandangkan karena dua kecelakaan fatal salah satunya menimpa Lion Air.

Para pilot ini menuduh perusahaan menyembunyikan informasi penting tentang kesalahan dalam desain pesawat yang membuat Boeing 737 Max dikandangkan. Alhasil mereka menganggur dan keuangan terganggu.

Mengutip laporan dari firma hukum berbasis di Chicago dan Australi, tuntutan class action itu ditujukan kepada Boeing pada Jumat pekan lalu karena alasan keuangan dan kerugian lain akibat dikandangkannya armada Max.

 Tak Tahan Lagi Hidup Sengsara, 400 Pilot 737 MAX Tuntut Boeing

 

Meski belum ada perhitungan resmi, para pilot diduga mengalami kerugian hingga jutaan dollar akibat lama menganggur.

Seperti diketahui armada Boeing 737 Max dilarang terbang sejak Maret 2019 setelah terjadi kecelakaan fatal kedua yang menewaskan 157 orang di Ethiopia. Di Oktober 2018, musibah serupa dialami Lion Air yang menewaskan 189 orang.

Dalam laporannya, firma hukum ini melaporkan dampak dari larangan terbang 737 MAX telah mengganggu pendapatan dan masa depan karier para pilot.

Tuntutan sendiri sengaja diajukan saat perhelatan Paris Air Show untuk memberikan pesan bahwa tingkat penjualan takkan lagi mengabaikan faktor keselamatan.

Sementara dalam dokumen di pengadilan, tuntutan pilot menyebutkan mereka kehilangan sumber pemasukan secara signifikan diantara kerugian ekonomi dan non ekonomi lainnya sejak maskapai penerbangan dunia mengandangkan pesawat 737 MAX.

Manajemen Boeing sendiri belum berkomentar terkait munculnya laporan tuntutan hukum tersebut.

(Sah, Sumber: bussinessinsider.com)

5 dari 8 halaman

Pengakuan Mengejutkan Pilot AS yang Terbang dengan Boeing 737 Max 8

Dream - Keamanan Boeing 737 Max tengah dipertanyakan. Dua musibah fatal maskapai Ethiopian Airlines dan Lion Air dalam kurun waktu lima bulan merenggut seluruh awak dan penumpang di dua pesawat buata Boeing itu.

Di awal kemunculannya, Boeing 737 Max berhasil memikat pengelola maskapai penerbangan. Janji kenyamanan dan efisiensi bahan bakar membuat jumlah pemesan pesawat ini mencapai 5000 unit..

Tetapi reputasi burung besi canggih ini ternoda oleh dua kecelakaan baru-baru ini yang telah menarik perhatian internasional.

Pihak Boeing sendiri sudah membantah kabar soal keamanan pesawat terlaris tersebut. Namun badai sepertinya takkan cepat berlalu.

Setelah banyak maskapai mengandangkan pesawat ini, muncul keluhan tentang Boeing 737 Max 8 dari para pilot di tanah kelahiran Boeing, Amerika Serikat.

6 dari 8 halaman

Sudah 5 Kali Dilaporkan

Keluhan tentang keamanan Boeing 737 Max 8 sebenarnya sudah disuarakan beberapa pekan setelah terjadi kecelakaan Lion Air JT610.

The Dallas Morning News mengungkapkan lima pilot AS sudah melaporkan keluhan tersebut kepada Federal Aviation Administration (FAA), pengawas penerbangan di AS.

Mereka mengeluhkan sistem penerbangan autopilot dan fitur The Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang sangat mengkhawatirkan.

MCAS merupakan fitur keamanan baru pada Boeing 737 Max 8 yang secara otomatis mengembalikan pesawat pada posisi yang normal setelah lepas landas.

Ketika pesawat lepas landas, MCAS akan mengambil alih kontrol agar hidung pesawat tidak berada dalam kondisi menukik ke atas terus.

Menurut satu insiden di AS pada November 2018, seorang pilot maskapai penerbangan komersial melaporkan bahwa saat lepas landas, autopilot dinyalakan.

" Dalam 2 hingga 3 detik, pesawat tiba-tiba menukik tajam ke bawah hingga memicu sistem peringatan pesawat 'Don't sink, don't sink!'," kata pilot tersebut.

Namun setelah sistem autopilot dengan cepat dimatikan, pesawat naik seperti biasa dan penerbangan berjalan normal. Insiden ini terjadi beberapa pekan setelah kecelakaan Lion Air JT610 di Jawa Barat.

Dalam sebuah insiden terpisah di AS pada bulan November 2018, seorang pilot melaporkan bahwa masalah dimulai ketika ia menggunakan autopilot untuk menstabilkan posisi pesawat setelah lepas landas.

" Co-pilot berkata 'DESCENDING,' yang langsung disusul peringatan 'Don't sink, Don't sink!'. Namun pesawat bisa distabilkan kembali setelah sistem autopilot dimatikan," kata pilot itu.

7 dari 8 halaman

Pelatihan dan Manual Penerbangan yang Tak Memadai

Dalam laporan lain, seorang pilot maskapai komersial mengeluh tentang bagaimana FAA dan Boeing menangani masalah fitur MCAS.

" Meski telah mengeluarkan arahan darurat pada 7 November 2018, FAA tidak melakukan apa pun untuk mengatasi masalah sistem," tulis pilot itu.

Pilot tersebut lebih lanjut mengatakan bahwa petunjuk manual penerbangan belum diperbarui dengan informasi yang memadai pada waktu itu.

" Sungguh sangat riskan ketika pabrikan, FAA, dan maskapai menyuruh pilot terbang tanpa pelatihan yang baik, atau bahkan memberikan penjelasan melalui manual bahwa model ini lebih kompleks dari sebelumnya," katanya.

 

8 dari 8 halaman

Laju Pesawat Tak Sesuai Perintah

Dalam laporan terpisah dari Oktober 2018, seorang pilot mengeluh bahwa sistem autothrottle Boeing 737 MAX 8 tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Autothrottle adalah bagian kendali pesawat yang memerintahkan pesawat untuk berakselerasi ke kecepatan yang ditetapkan dalam parameter tertentu.

Padahal, kru sudah yakin telah menggunakannya sesuai dengan manual yang ada. Beruntung, sang pilot menyadarinya dengan cepat, dan dapat menyesuaikan dorongan secara manual agar pesawat bisa mendaki.

" Tidak lama kemudian saya mendengar tentang kecelakaan (JT610) dan saya bertanya-tanya apakah ada kru lain yang mengalami insiden serupa dengan sistem autothrottle pada MAX?" kata pilot tersebut.

Dalam laporannya, pilot itu menulis bahwa dia dan kaptennya masih baru menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8.

" Jadi, saya tidak dapat mengidentifikasi apakah itu masalah pada pesawat atau saya yang tidak tahu caranya," pungkasnya.

(Sah/ Sumber: Dallas News)

Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup
Join Dream.co.id