Dipuji Tumbuh Luar Biasa, Ekspor Makanan Halal Indonesia Tembus US$10 M

Dinar | Senin, 11 Oktober 2021 06:48

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Tak heran, sektor makanan halal Indonesia memegang peringkat empat dunia.

Dream – Pertumbuhan pasar makanan halal Indonesia mencatat kinerja luar biasa pada kuartal II-2021. Indonesia saat ini menguasai 13 persen pasar makanan halan dunia dengan nilai ekspor mencapai ratusan triliun rupiah.

Dikutip dari Merdeka.com, Jumat 8 Oktober 2021, Bank Indonesia (BI) mencatat ekspor makanan halal Indonesia pada kuartal II-2021 mencapai US$10,36 miliar, atau sekitar Rp200,76 triliun menggunakan kurs saat ini. Dibandingkan periode sebelumnya, terjadi pertumbuhan hingga 46 persen. 

“ Ini pertumbuhan yang luar biasa,” kata Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Bambang Himawan, dalam Konferensi Pers Kick Off Online Exhibition ISEF 2021 secara online.

Sektor makanan halal selama ini telah menjadi unggulan industri halal Indonesia. Menurut Bambang, Indonesia menduduki peringkat keempat dunia untuk sektor industri makanan halal.

Secara umum, mengutip laporan State of The Global Islamic Economy (SGIE) tahun 2020-2021, peringkat Indonesia dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah naik satu tingkat dari urutan lima pada 2020 ke urutan empat pada 2021.

Dipuji Tumbuh Luar Biasa, Ekspor Makanan Halal Indonesia Tembus US$10 M
Pangsa Pasar Makanan Halal Indonesia Capai Dua Digit. (Foto: Shutterstock)
2 dari 7 halaman

Lebih Tinggi dari PDB

Dia mengatakan sektor unggulan dalam industri halal Indonesia saat ini cenderung didominasi makanan halal serta fesyen.

Pertumbuhan sektor unggulan industri halal yang terdiri dari makanan halal, busana Muslim, dan pariwisata ramah Muslim pun mencapai 8,2 persen pada triwulan kedua tahun ini.

“ Pertumbuhan itu lebih tinggi dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang sebesar 7,07 persen pada triwulan II 2021,” kata dia.

Bambang menilai Indonesia sebagai negara yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia harus mampu mengambil manfaat dari besarnya pasar produk halal. Para pelaku industri halal di Indonesia pun juga harus mampu berkompetisi di pasar atau panggung global dengan negara lainnya.

3 dari 7 halaman

Potensi Besar, tapi Masalah Ini Jadi Penghalang Industri Makanan Halal

Dream – Pasar makanan halal 'terlalu lezat' untuk dilewatkan. Dengan jumlah penduduk Muslim dunia sebanyak 1,8 miliar orang, tentunya pasar ini menjadi menarik bagi kalangan usaha.

Bagaimana tidak, berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report 2018/2019, pengeluaran Muslim untuk belanja makanan halal, secara global, diperkirakan mencapai US$1,3 triliun, sekitar Rp18.945,62 triliun, pada 2017.

Angka ini diprediksi mencapai US$1,86 triliun, sekitar Rp27.088,31 triliun, pada 2023 atau naik 6,1 persen.

Tak hanya itu, tercatat ada investasi makanan halal sebesar US$667 juta, ekspor US$124,75 miliar, atau sekitar Rp1.813,92 triliun, dan impor US$191,53 miliar, atau sekitar Rp2.784,86 triliun.

 

 Potensi Besar, tapi Masalah Ini Jadi Penghalang Industri Makanan Halal© Dream

 

Jika dilihat dari belanja makanan halal, orang Muslim di negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), mengeluarkan uang paling banyak untuk belanja produk sayuran sebesar US$92,45 miliar, sekitar Rp1.334,34 triliun, makanan olahan US$63,2 miliar atau sekitar Rp918,98 triliun, serta daging dan hewan hidup US$35,86 miliar, atau Rp521,54 triliun.

Makanya, tak heran banyak negara berlomba-lomba menikmati “ kue” pasar makanan halal. Tapi, ada satu hal yang menjadi tantangan industri halal. Apa itu? Sertifikasi.

© Dream
4 dari 7 halaman

Mengapa?

Ya, sertifikasi makanan halal memang menjadi penanda bahwa makanan itu halal, baik dari bahan maupun proses. Sayangnya, biaya sertifikasi tidaklah sedikit. Sebab, sertifikasi makanan halal yang berlaku secara global terbilang minim. Inilah yang membuat industri merogoh kocek untuk biaya sertifikasi makanan halal dan situasi itu bisa merusak nilai.

Bicara tentang sertifikasi makanan halal yang berlaku global, industri terpaksa merogoh kocek untuk mendapatkan sertifikasi dari negara lain. Hal ini disebabkan oleh standardisasi badan sertifikasi secara global masih sedikit.

Selain sertifikasi, industri makanan halal juga terganjal dengan pengawasan makanan halal. Ada 300 lembaga sertifikasi makanan di seluruh dunia. Tapi, yang pengawasnya masih sedikit. Ini yang membuka celah bagi oknum nakal untuk melanggar aturan halal. 

5 dari 7 halaman

Indonesia Konsumen Makanan Halal Terbesar di Dunia

Dream – Bicara tentang pasar halal, makanan halal memiliki potensi yang sangat besar. Selain makananya aman dari zat-zat yang berbahaya dan haram, jumlah penduduk Muslim juga terbilang banyak, yaitu 1,8 miliar orang.

Besarnya angka ini membuat pengeluaran Muslim untuk belanja makanan tidak main-main.

Dikutip dari Salaam Gateway, Jumat 23 November 2018, berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report 2018/2019, pengeluaran Muslim untuk belanja makanan halal, secara global, diperkirakan mencapai US$1,3 triliun (Rp18.945,62 triliun) pada 2017.

Angka ini diprediksi mencapai US$1,86 triliun (Rp27.088,31 triliun pada 2023 atau naik 6,1 persen.

 

 Indonesia Konsumen Makanan Halal Terbesar di Dunia© Dream

 

Tak hanya itu, tercatat ada investasi makanan halal sebesar US$667 juta, ekspor US$124,75 miliar (Rp1.813,92 triliun) dan impor US$191,53 miliar (Rp2.784,86 triliun).

Jika dilihat dari belanja makanan halal, orang Muslim di negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), mengeluarkan uang paling banyak untuk belanja produk sayuran sebesar US$92,45 miliar (Rp1.334,34 triliun), makanan olahan US$63,2 miliar (Rp918,98 triliun), serta daging dan hewan hidup US$35,86 miliar (Rp521,54 triliun).

© Dream
6 dari 7 halaman

Indonesia Konsumen Terbesar Makanan Halal

Setelah membahas potensi pasarnya, mari kita lihat konsumen terbesar pasar ini.

Ada 10 negara yang menjadi konsumen terbesar makanan halal, yaitu Indonesia, Turki, Pakistan, Mesir, Bangladesh, Iran, Arab Saudi, Nigeria, Rusia, dan India.

Sebagai negara yang penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi peringkat teratas konsumen makanan halal.

 Indonesia Jadi Konsumen Makanan Halal Terbesar di Dunia© MEN

 

Pada 2017, belanja makanan halal di Indonesia mencapai US$170 miliar (Rp2.471,79 triliun).

Turki mengeluarkan uang US$127 miliar (Rp1.846,58 triliun) untuk belanja makanan halal dan Pakistan US$118 miliar (Rp1.715,72 triliun).

Berikut ini adalah pengeluaran Muslim untuk makanan halal.

1. Indonesia: US$170 miliar (Rp2.471,72 triliun)

2. Turki: US$127 miliar (Rp1.846,58 triliun)

3. Pakistan: US$118 miliar (Rp1.715,72 triliun)

4. Mesir: US$86 miliar (Rp1.250,44 triliun)

5. Bangladesh: US$76 miliar (Rp1.105,04 triliun)

6. Iran: US$63 miliar (Rp916,02 triliun)

7. Arab Saudi: US$51 miliar (Rp741,54 triliun)

8. Nigeria: US$47 miliar (Rp683,38 triliun)

9. Rusia: US$41 miliar (Rp596,14 triliun)

10. India: US$38 miliar (Rp552,52 triliun)

7 dari 7 halaman

Pantas Banyak Negara `Rebutan` Pasar Makanan Halal

Melihat besarnya pasar ini, tak heran banyak negara beramai-ramai turut andil di pasar makanan halal.

Misalnya, Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok yang menggenjot bisnis makanan halal. Ada juga Arab Saudi yang memperketat syarat makanan halal --persyaratan ini mengancam daging Brazil ke pasar Timur Tengah.

Bagaimana di Indonesia? Indonesia berencana akan menerapkan sertifikasi halal wajib pada 2019.

 Ilustrasi makanan halal© Ilustrasi makanan halal (Foto: Shutterstock)

Malaysia telah membentuk Badan Otoritas Halal Internasional untuk mengatur dan mengawasi lembaga sertifikasi, serta melarang perilaku mencari keuntungan dan Turki membentuk Otoritas Akreditasi Halal.

Uni Emirat Arab juga tak mau ketinggalan. Negara ini membentuk Forum Akreditasi Halal Internasional. Forum ini memiliki anggota, seperti Spanyol, Kyrgystan, sampai Filipina.

Jepang juga ikutan nyemplung ke pasar makanan halal. Salah satu perusahaan Jepang, Mitsubishi Corporation, mengakuisisi saham minoritas di UEA Al Islami Foods. Jepang percaya makanan halal populer dan bisa diterima banyak orang. (ism)

© Dream
Join Dream.co.id