Inilah 9 Agen Asuransi Syariah Terbaik Versi AASI

Dinar | Jumat, 8 November 2019 13:30
Inilah 9 Agen Asuransi Syariah Terbaik Versi AASI

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Tenaga pemasar menjadi ujung tombak industri untuk meningkatkan literasi dan pemahaman masyarakat akan asuransi syariah.

Dream – Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) mengganjar para tenaga pemasar asuransi syariah terbaik dengan penghargaan. Dengan penghargaan ini, pihak asuransi berharap profesionalisme tenaga pemasar bisa meningkat.

Apalagi, mengingat agen pemasar merupakan senjata asuransi untuk meningkatkan literasi dan pemahaman masyarakat akan asuransi syariah.

Dalam acara Sharia Insurance Convention and Award (SICA), ada sembilan tenaga pemasar yang mendapatkan penghargaan. Berikut ini adalah rinciannya, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Jumat 8 November 2019. 

Ada 10 penghargaan yang diberikan kepada sembilan agen tenaga pemasar terbaik. Berikut ini adalah rinciannya.

Penghargaan Asuransi Jiwa Syariah

1. Kategori Best Sharia Telemarketer: Yulianti (PT AXA Mandiri)

2. Best Sharia Bancassurance Agent: Fernandes (PT AXA Mandiri Financial Services)

3. Best Sharia Leader by Contribution: Oktin Utama(PT Asuransi Takaful Keluarga)

4. Best Sharia Agent by Policy: Sri Kartini (PT Sunlife Financial Indonesia)

5. Best Sharia Agent by Policy: Teriyani Susmiati (PT Prudential Life Assurance)

6. The Best Sharia Agent: Teriyani Susmiati (PT Prudential Life Assurance)

Penghargaan Asuransi Umum Syariah

1. Best Sharia General Insurance Marketer Agent by Performance 2019: Dwi Putranto (PT Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967)

2. Best Sharia General Insurance Marketer Agent by Growth 2019: B. Urip Hartono (PT Asuransi Chubb Syariah Indonesia)

3. Best Sharia General Insurance Leader by Contribution and Growth 2019: Nur Hidayat Budi Gunawan (PT Asuransi Adira Dinamika)

4. Best Sharia General Insurance Marketer Agent by Contribution 2019: Hendro Widyatmoko (PT Asuransi Adira Dinamika).

" Dengan ajang seperti ini, kami ingin terus mendorong motivasi para tenaga pemasar agar dalam memberikan performa terbaik sehingga menjadi kebanggaan untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan, serta perusahaan tempat di mana tenaga pemasar asuransi tersebut bergabung,” kata Ketua Panitia SICA 2019, Srikandi Utami, dalam acara " Sharia Insurance Convention & Award (SICA)" di Jakarta.

2 dari 5 halaman

Sebar Penghargaan kepada Para Agen Pemasar Terbaik

Deputi Komisioner Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), M. Ichsanuddin, mengatakan, ajang penghargaan untuk tenaga pemasar asuransi syariah ini menjadi inisiatif yang positif untuk terus membesarkan ekonomi syariah nasional.

Presiden Joko Widodo pada periode pemerintahannya kali ini semakin fokus mendorong setiap pemangku kepentingan yang ingin memajukan ekonomi syariah nasional hingga ke tingkat global.

“ AASI telah memulainya dan ini mesti dilanjutkan karena membangun ekonomi syariah tidak cukup satu dua hari, butuh konsistensi dan komitmen yang tinggi dari semua pemangku kepentingan agar menumbuhkan edukasi, literasi, hingga inklusi keuangan syariah di masyarakat,” kata Ichsanuddin.

3 dari 5 halaman

Tumbuh Positif

AASI mencatat industri asuransi syariah tumbuh hingga September 2019. Asosasi menilai pertumbuhan asuransi syariah didorong oleh peningkatan demografi dan tren hijrah yang terus berkembang saat ini.

Sekadar informasi, hingga September 2019, aset asuransi syariah tumbuh 6,21 persen menjadi Rp44,4 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi asuransi syariah tumbuh 8,2 persen menjadi Rp11,7 triliun dan nilai klaim juga naik 43,64 persen menjadi Rp7,3 triliun pada periode tahun ini.

“ AASI akan terus bekerja sama dengan para stakeholders untuk mendorong kinerja asuransi syariah yang kami yakini bisa menjadi pilihan perencanaan keuangan masyarakat dan menjawab kemungkinan risiko pada masa depan,” kata Ketua AASI, Ahmad Sya’roni.

Untuk menggenjot pertumbuhan, salah satu cara yang dilakukan oleh AASI adalah meningkatkan pemahaman syariah kepada masyarakat. Tenaga agen pemasar menjadi ujung tombak asuransi syariah untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat. Sekadar catatan, jumlah tenaga asuransi syariah yang tersertifikasi pada Oktober 2019 sebanyak 323.767 orang. AASI terus mendorong agen agar jadi tenaga pemasar yang handal, kredibel, dan tepercaya.

“ Tak hanya mengenai produk dan layanan, yang paling penting adalah tenaga pemasar karena juga menjadi ujung tombak bagi asosiasi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di tanah air,” kata dia.

4 dari 5 halaman

2020, UUS Asuransi Syariah Harus Sudah Punya Rencana Pisah dari Induk

Dream - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta industri asuransi syariah menyerahkan rencana bisnis pemisahan usaha (spin off) dari induknya paling lambat 17 Oktober 2020. OJK menetapkan batas waktu pelaksaan spin off untuk sektor asuransi pada adalah 17 Oktober 2024.

" Sudah ada tahapan kerja yang harus disampaikan kepada OJK," kata Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank II OJK, Moh. Ichsanuddin, dalam acara " Bronis" di Jakarta, Kamis 16 Mei 2019.

Ichsanuddin menjelaskan spin off merupakan kewajiban yang tertuang dalam UU No. 14 Tahun 2014 tentang Perasuransian. Dalam regulasi itu, disebutkan unit syariah harus spin off dalam jangka waktu 10 tahun setelah UU 40 Tahun 2014 berlaku.

Aturan ini juga mewajibkan syarat minimum aset sebesar 50 persen dibandingkan aset perusahaan induk.

 

 2020, UUS Asuransi Syariah Harus Sudah Punya Rencana Pisah dari Induk

 

Direktur Industri Keuangan Non Bank Syariah OJK, Moch. Muchlasin, menambahkan saat ini ada empat unit syariah yang telah melakukan spin off menjadi full fledged. Mereka adalah Jasindo Syariah, Askrida Syariah, Asuransi Jiwa Syariah Bumiputera, dan Reindo Syariah.

" Masih ada 48 UUS yang belum spin off," kata Muchlasin.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 10 asuransi telah menyampaikan menyampaikan rencana bisnis spin off. " Ada 2 asurasi jiwa dan 8 asuransi umum," kata Muchlasin.

5 dari 5 halaman

Terkendala Modal?

Ichsanuddin mengaku spin off UUS asuransi terkendala modal. Dalam Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2018, ada aturan pembatasan dan syarat kepemilikan asing, baik untuk perusaha existing maupun perusahaan baru.

Dikatakan bahwa batas maksimal kepemilikan asing sebesar 80 persen. Dengan demikian, dikatakan bahwa kepemilikan investor lokal sebesar 20 persen.

Ichsanuddin mengatakan modal yang dibutuhkan UUS menjadi full fledged dari investor lokal cukup besar.

Misalnya, kata Ichsanuddin, aset suatu UUS sebesar Rp500 miliar. " Kalau harganya 1-2 buku, satu perusahaan saja memerlukan Rp2 triliun dari investor dalam negeri," kata dia.

Kalaupun ada, lanjut Ichsanuddin, belum tentu yang bersangkutan bersedia berbisnis syariah. Ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi regulator untuk mencari jalan keluarnya.

" Harus ada sosialisasi kepada investor agar 2024, ada banyak spin off yang cukup banyak," kata dia.

Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone
Join Dream.co.id