Grab Indonesia Didenda Rp30 Miliar

Dinar | Jumat, 3 Juli 2020 14:30
Grab Indonesia Didenda Rp30 Miliar

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Begini penjelasannya.

Dream – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutus PT Solusi Transportasi Indonesia (Grab Indonesia) dan PT Teknologi Pengangkutan Indonesia (TPI) telah bersalah atas dugaan diskriminasi terhadap mitra pengemudi mereka.

Grab Indonesia, sebagai terlapor 1, dikenakan sanksi sebesar Rp7,5 miliar atas pelanggaran pasal 14 dan Rp22,5 miliar atas pelanggaran pasal 19 huruf d Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999, sehingga secara total, Grab Indonesia dikenakan denda Rp30 miliar.

Sementara untuk PT TPI sebagai terlapor 2 dikenakan sanksi Rp4 miliar atas pelanggaran pasal 4 dan Rp15 miliar atas pasal 19 huruf d, dengan total denda Rp19 miliar.

Kasus ini awalnya diinisiasi oleh KPPU pada 2019 lalu dengan laporan Nomor 13/KPPU-I/2019. Perkara ini ditindaklanjuti ketahap penyelidikan mengenai dugaan pelanggaran integrasi vertikal (Pasal 14), tying-in (Pasal 15 ayat 2), dan praktek diskriminasi (Pasal 19 huruf d).

" Di awal perkara, KPPU menduga telah terjadi beberapa pelanggaran persaingan usaha melalui order prioritas yang diberikan Grab kepada mitra pengemudi di bawah TPI yang diduga terkait rangkap jabatan antar kedua perusahaan tersebut," jelas KPPU.

2 dari 6 halaman

Perjanjian Kerja Sama

Dalam proses persidangan, Majelis Komisi menilai bahwa perjanjian kerjasama penyediaan jasa oleh Grab Indonesia selaku perusahaan penyedia aplikasi dan TPI selaku perusahaan yang bergerak di bidang jasa sewa angkutan khusus, bertujuan untuk menguasai produk jasa penyediaan aplikasi angkutan sewa khusus berbasis teknologi di Indonesia dan mengakibatkan terjadinya penurunan persentase jumlah mitra dan penurunan jumlah orderan dari lengemudi mitra non-TPI.

Majelis Komisi menilai tidak adanya upaya tying-in yang dilakukan Grab Indonesia terhadap jasa yang diberikan oleh TPI. Majelis menilai bahwa telah terjadi praktik diskriminasi yang dilakukan oleh GRAB dan TPI atas mitra individu dibandingkan mitra TPI, seperti pemberian order prioritas, masa suspend, dan fasilitas lainnya.

" Praktik tersebut telah mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat terhadap mitra non-TPI dan mitra individu," jelas KPPU.

Terkait hal ini, Majelis Komisi memeritahkan agar para terlapor melakukan pembayaran denda paling lambat 30 hari setelah Putusan memiliki kekuatan hukum tetap.

(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)

3 dari 6 halaman

Wabah Corona Bikin 360 Pegawai Grab Kehilangan Pekerjaan

Dream – Bisnis jasa transportasi berbasis aplikasi turut goyah terkena dampak Pandemik Covid-19. Kondisi ini dialami penyedia jasa Grab yang terpaksa memakai ratusan pegawainya.  

Mengutip laman Deal Street Asia, Rabu, 17 Juni 2020, perusahaan memberhentikan 360 karyawan. Pemecatan ini akibat dampak pandemic Covid-19 dan resesi berkepanjangan yang disebabkan oleh virus corona.

Pendiri Grab, Anthony Tan, mengatakan perusahaan memutuskan memecat ratusan karyawan setelah peninjauan berbulan-bulan dan diskusi tentang cara menghadapi tantangan ekonomi pasca pandemi.

 

 Wabah Corona Bikin 360 Pegawai Grab Kehilangan Pekerjaan© Dream

 

Saat pandemi ini meledak, Grab meninjau semua biaya, mengurangi pengeluaran, dan menerapkan pemotongan gaji untuk manajemen senior. Perusahaan ini juga masih melihat ada kebutuhan pemotongan jumlah pekerja untuk menurunkan biaya.

“ Saat mulai menavigasi melalui krisis kesehatan global, saya berharap tidak perlu mengirimkan memo (pemecatan) seperti ini. Dengan berat hati, kami akan melepaskan 360 Grabbers atau hanya 5 persen dari karyawan kami,” kata Anthony.

4 dari 6 halaman

Lakukan Efisiensi

Selain pemecatan, Grab juga berencana untuk menghilangkan beberapa proyek non-inti, mengkonsolidasikan fungs, dan tim yang tepat untuk bisnis pengirimanya.

“ Latihan penempatan kembali menyelamatkan banyak pekerjaan,” kata dia.

Anthony memastikan pemecatan kali ini menjadi yang terakhir untuk tahun ini. PHK terjadi setelah Grab meminta karyawan di seluruh wilayah pada April 2020 mengambil jadwal kerja yang fleksibel seperti cuti tanpa gaji, pengurangan jam kerja, dan cuti panjang. Pada Maret 2020, Grab mengumumkan memotong gaji eksekutif hingga 20 persen.

Karyawan yang dipecat akan mendapatkan bantuan keuangan dan pendampingan untuk pekerja yang diberhentikan. Ini termasuk pesangon, pencabutan cuti hamil, dan akses tiga bulan ke program bantuan Grabber.

5 dari 6 halaman

Kala Grab dan Gojek `Maju Bersama` Perangi Wabah Corona

Dream – Pandemi virus corona yang makin meluas di Indonesia membuat perusahaan ride hailing mengambil langkah kuda-kuda. Kedua perusahaan jasa transportasi online yang bersaing ketat itu sejenak melupakan perseteruan mereka dan bersama-sama membantu pemerintah menanggulangi wabah virus Covid-19.

Baik Grab dan Gojek berusaha menjaga kualitas keamanan dan sanitasi bagi pelanggannya.

Grab telah menyediakan edukasi dan aksi lini transportasi secara offline dan online untuk menjaga keamanan berkendara. Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengatakan Grab menyediakan GrabHealth untuk melakukan screening Covid-19 melalui telekonsultasi. Fitur ini dikerjasamakan dengan GoodDoctor dan telah dipercaya oleh Kementerian Kesehatan.

 

 Kala Grab dan Gojek Maju Bersama Perangi Wabah Corona© Dream

 

“ Grab melihat pentingnya untuk memperkuat amanat tersebut dengan menyiapkan armada luar biasa agar upaya penanganan darurat COVID-19 juga dapat tetap berjalan secara fisik,” kata Neneng di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat 3 April 2020.

Untuk membantu pemerintah, Grab bahkan secara khusus menyediakan armada bagi tenaga medis, media, dan militer yang menjadi garda terdepan penanggulangan wabah virus corona.

“ Armada Grab tersebut akan dikhususkan untuk mendukung mobilitas para tenaga medis yang berjuang melawan pandemi virus Covid-19,” kata dia.

Khusus tenaga medis, Grab sengaja membuat fitur GrabNow yang bisa dimanfaatkan saat mereka memerlukan mobilitas. Sebanyak 1.000 mobil GrabCar dan 1.000 GrabBike di seluruh Indonesia telah disiagakan agar tenaga medis Indonesia bisa tetap bisa menjalankan tugas mulianya tanpa perlu memusingkan sarana mobilisasi sehari-hari.

“ Grab Indonesia juga sedang memasuki tahap akhir perjanjian kerja sama untuk mengimplementasikan kerja sama ini dengan Kementerian Pariwisata dan Kreatif Republik Indonesia,” kata dia.

Grab memastikan stasiun disinfektan akan disiapkan di rumah sakit terpilih untuk memastikan sterilisasi kendaraan sebelum memasuki area kritis. 

6 dari 6 halaman

Bagaimana dengan Gojek?

Gojek tak kalah cepat membantu pemerintah menanggulangi wabah virus corona. Gojek telah mendapatkan izin impor masker dari BNPB dan Kementerian Kesehatan untuk mitra driver. Dengan begitu, impor tersebut tidak akan mengganggu ketersediaan dan alokasi produksi masker dan alat-alat kesehatan lain di Indonesia yang saat ini dialokasikan sepenuhnya untuk kebutuhan rumah sakit.

“ Diberikannya izin impor masker ini akan memastikan tidak terganggunya ketersediaan dan produksi masker dan alat-alat perlindungan diri lain di Indonesia yang saat ini dialokasikan sepenuhnya untuk kebutuhan rumah sakit dan tenaga kesehatan,” kata Komisaris Utama Gojek, Garibaldi Thohir, di Jakarta.

Sampai hari ini Gojek telah menyediakan ratusan ribu paket kesehatan (safety kit) yang dibagikan di lebih dari 1.300 titik kepada puluhan ribu mitra driver di lebih dari 80 kota di seluruh Indonesia. Paket kesehatan tersebut berupa masker, hand sanitizer, vitamin, dan penyemprotan desinfektan pada sepeda motor serta mobil mitra driver.

Jumlah paket di masing-masing daerah disesuaikan dengan ketersediaan dari masing-masing alat kesehatan yang saat ini jumlahnya sangat terbatas.

“ Pandemi COVID-19 menempatkan jutaan mitra driver di garda terdepan untuk membantu masyarakat yang harus membatasi ruang geraknya guna meminimalisir penyebaran virus di masa pandemi ini. Gojek melakukan berbagai upaya untuk menyediakan alat perlindungan diri agar mereka bisa bertugas secara prima dan terminimalisir dari risiko penularan,” katadn dia.

Perusahaan juga akan mendonasikan masker impor kepada Yayasan Anak Bangsa Bisa yang akan dialokasikan bagi mitra driver Gojek dan disumbangkan kepada Pemerintah untuk para tenaga medis di rumah sakit rujukan COVID-19.

“ Tidak hanya untuk mitra driver, Gojek juga memahami pentingnya memastikan para tenaga kesehatan tetap mendapat pasokan masker yang dibutuhkan. Itu sebabnya Gojek juga akan menyalurkan sebagian masker yang diimpor ini kepada pemerintah untuk dapat dialokasikan kepada para tenaga kesehatan yang ditempatkan di rumah sakit rujukan pemerintah,” kata Chief Operations Officer Gojek, Hans Patuwo.

Join Dream.co.id