Bukan Bank, Aset Terbesar Keuangan Syariah Indonesia Ada di Bisnis Ini

Dinar | Selasa, 27 Oktober 2020 19:12
Bukan Bank, Aset Terbesar Keuangan Syariah Indonesia Ada di Bisnis Ini

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Indonesia masih harus bekerja keras karena pangsa pasar keuangan syariah baru mencapai 9,6%.

Dream – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kinerja industri keuangan syariah memuaskan di tengah pandemi Covid-19. Hal ini diukur dari aset keuangan syariah Indonesia yang tumbuh 21,34 persen (yoy) pada Agustus 2020.

“ Per Agustus 2020, total aset keuangan syariah Indonesia (tak termasuk saham syariah) mencapai Rp1.678,94 triliun atau US$115,36 miliar,” kata Direktur Penelitian dan Pengembangan Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK, Deden Firman Hendarsyah dalam “ Webinar: Potensi Ekonomi Syariah Pasca Pandemi: Peran Sektor Keuangan Syariah dalam Pemulihan Ekonomi”, Selasa 27 Oktober 2020.

Aset keuangan syariah Indonesia terbesar berada di pasar modal dengan nilai Rp1.016,5 triliun. DIsusul perbankan syariah sebesar Rp550,63 triliun dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah Rp111,81 triliun.

Meski meningkat, diakui Deden, pangsa pasar keuangan syariah di Tanah Air masih relatif kecil yaitu 9,6 persen.

2 dari 4 halaman

Bagaimana dengan Perbankan Syariah?

Khususnya, perbankan syariah, Deden mengatakan industri ini tumbuh 2,29 persen selama Januari-Agustus 2020. Sayangnya dana pihak ketiga, yang biasanya dalam bentuk tabungan ataupund eposito, masih 3-4 persen dari pembiyaan yang diberikan

Untuk saat ini, masyarakat yang memiliki rekening di perbankan syariah tercatat sudah mencapai 34,88 juta rekening.

Berdasarkan data OJK pada Juni 2020, pertumbuhan aset perbankan syariah sebesar 9,22 persen, DPK 8,99 persen, dan pembiayaan 10,13 persen.

" Meskipun pertumbuhan sempat turun pada Maret 2020, kinerja perbankan syariah pada masa pandemi cenderung stabil dan lebih tinggi dibandingkan konvensional, baik aset, pembiayaan, dan DPK," kata dia.

3 dari 4 halaman

Diakui `Tahan Banting`, Ekonomi Syariah Hadapi Kendala Literasi Masih Minim

Dream – Sistem ekonomi syariah bisa menjadi salah satu solusi untuk memulihkan perekonomian nasional yang terdampak pandemi Covid-19. Ekonomi syariah memiliki sistem yang lebih stabil dan tahan banting, serta memegang prinsip berkelanjutan dan berkeadilan.

“ Sistem ekonomi syariah diharapkan bisa menjadi salah satu solusi karena telah membuktikan diri sebagai sistem ekonomi yang mampu bertahan dalam keadaan pandemi Covid-19,” kata Direktur Utama BRIsyariah, Ngatari, dalam “ Workshop Perbankan Syariah: Memacu Literasi Keuangan Syariah Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional”, Senin 5 Oktober 2020.

 

Diakui Tahan Banting, Ekonomi Syariah Hadapi Kendala Literasi Masih Minim© Dream

 

Meski terbukti ampuh, Ngatari mengatakan perbankan syariah masih menghadapi tantangan dari masih rendahanya pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah. Dia mendorong kegiatan literasi ekonomi dan keuangan syariah dimaksimalkan. Tujuannya agar masyarakat bisa memahami kekuatan dan keuntungan sistem perekonomian ini.

“ Masih banyak ruang yang harus bersama-sama diisi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ekonomi dan keuangan syariah,” kata dia.

4 dari 4 halaman

Perlu Inovasi?

Chief Investment Strategies&Direktur PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, mengatakan upaya dari berbagai pihak diperlukan untuk meningkatkan literasi masyarakat. Terutama, berkaitan dengan pilihan instrumen investasi berbasis syariah. Pilihan instrumen investasi yang beragam bisa mendorong masyarakat agar berinvestasi, terutama generasi milenial.

“ Masih banyak masyarakat yang bertanya soal halal-haram,” kata Budi.

Dia menyarankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) membuat terobosan untuk menggenjot angka literasi keuangan syariah.

“ Mungkin ke depannya OJK, BEI, atau dewan syariah bisa menyarankan masjid-masjid untuk mencontohkan di sukuk dan instrumen syariah lainnya,” kata dia. 

Join Dream.co.id