Dulu Isi Tabungan Cuma Rp6 Ribu, Kini Jadi Miliarder di Usia 26 Tahun

Dinar | Kamis, 27 Februari 2020 09:36
Dulu Isi Tabungan Cuma Rp6 Ribu, Kini Jadi Miliarder di Usia 26 Tahun

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Apa bisnis yang ditekuninya sehingga dia menjadi miliarder di usia belum sampai 30 tahun?

Dream - Keinginan menjadi seorang miliarder tak perlu menunggu usia sudah memasuki lanjut usia. Tak perlu juga kamu menunggu warisan atau seseorang memberikan modal dengan nilai fantastis.

Hal yang paling dibutuhkan untuk menjadi seorang miliarder adalah kemampuan melihat sebuah peluang sekaligus ketekunan merintis bisnis. 

Inilah yang dibuktikan seorang pemuda India yang usia belum genap memasuki 30 tahun. Hanya dengan modal kurang dari Rp10 ribu, pria ini bisa mengubah statusnya menjadi seorang hartawan.

Dikutip dari akun Facebook Nas Daily, Kamis 27 Februari 2020, vlogger ini membuat wawancara khusus dengan Ritesh Agarwal. Dia adalah seorang miliarder yang berasal dari Rayagada, India.

Daerah ini terbilang miskin karena penduduknya menghasilkan uang kurang dari US$10 (Rp138.257) per hari.

Saat berusia 18 tahun, lelaki kelahiran tahun 1993 ini tak sempat menginjak bangku kuliah. Dia juga tidak memiliki pekerjaan. Kehidupannya hanya di dalam lingkaran kemiskinan.

“ Saat itu, saya merasa bagaikan sampah. Ini merupakan periode tersulit bagiku untuk menanggung beban hidup,” kata Ritesh.

Seorang kurang menderita, pria ini didepak dari kontrakannya. Saldo uang yang tersisa di rekening cuma 50 sen dolar AS (Rp6.912,85).

2 dari 7 halaman

Lihat Peluang di Hotel

Ritesh mengatakan uang bukanlah masalah yang benar-benar dipedulikan. Yang dipedulikannya adalah memecahkan masalah. 

“ Itu saya lakukan,” kata Ritesh bersemangat.

Dia melihat sebuah hotel di dekatnya dan memiliki banyak kamar kosong. Namun sang pemiliknya tak bisa mendapatkan banyak uang dari bisnisnya.

Dengan memberanikan diri Ritesh menghampiri sang pemilik dan menjanjikan akan membuat hotelnya menjadi lebih baik. Lelaki ini mendekorasi hotel, mulai dari menganti bohlam, kasur, serta mempercantik hotelnya dengan meletakkan lukisan dan menyediakan fasilitas air minum.

Foto-foto penampakan hotel hasil renovasi kecil itu diunggah di internet. Tak diduga, tindakan kecil itu membuat hotel yang tadinya sepi pengunjung menjadi penuh pemesan.

Ritesh merasa mengubah hotel pertama adalah yang paling sulit. “ Saya yakin bisa mengubah ratusan hotel,” kata dia.

3 dari 7 halaman

Jadi Miliarder Setelah 6 Tahun Berusaha

Pada usia 20 tahun, Ritesh mendapatkan uang dari banyak investor. Setahun kemudian, dia menjaring 50 karyawan. Pada usia 22 tahun, ada 500 hotel di bawah pengelolaannya.

Di usia 24 tahun, Ritesh sudah mendapatkan pendanaan senilai US$1 miliar (Rp13,82 triliun). Saat berusia 26 tahun, Ritesh memiliki 43 ribu hotel.

Bisnisnya ini bernama OYO Rooms. Bisnisnya ini menjadi jaringan hotel terbesar kedua di dunia.

4 dari 7 halaman

Percaya Keberuntungan

Ritesh mengatakan banyak orang yang menyarankannya masuk ke universitas saat masa-masa kelam. Dia juga diminta untuk meminta bantuan dari orang gila.

“ Jadi, tak hanya kerja. Itu gila,” kata Ritesh.

Dengan duit 50 sen dolar AS, yang-dulunya-anak-miskin ini bisa menjadi miliarder muda dalam enam tahun. Bahkan, dia bisa membantu 350 ribu orang untuk mendapatkan pekerjaan.

Ritesh mengatakan hasil ini tak hanya berasal dari keberuntungan, tapi juga kerja keras. Misalnya, kerja sampai malam hari, mengetuk pintu orang-orang, sampai meminta untuk rapat.

“ Saya percaya keberuntungan. Kalau kerja keras, keberuntungan akan naik signifikan,” kata dia.

5 dari 7 halaman

Berawal dari Permen Karet, Miliarder Ini Sukses Sulap Lotte Jadi `Raksasa`

Dream - Kabar duka berembus dari Lotte Group. Sang pendiri, Shin Kyuk-ho meninggal dunia pada Minggu 19 Januari 2020. Sosoknya termasuk salah satu pengusaha terkenal yang membangun salah satu raksasa perusahaan di Korea Selatan.

Dikutip dari CNN Business, Selasa 21 Januari 2020, Shin meninggal karena penyakit tua. Di akhir hayatnya di usia 98 tahun, Shin telah mewariskan sebuah perusahaan terbesar di Korea Selatan bernama Lotte.

Sekadar informasi, lima “ raksasa” Korea Selatan lainnya adalah Hyundai, LG, Samsung, dan perusahaan kecantikan, SK.

Kesuksesan Shin membangun Lotte berawal saat dia pindah ke Jepang di tahun 1921. Kala itu, Shin mendirikan perusahaan susu dan koran sebelum membangun pabrik minyak pada 1944.

 

 Berawal dari Permen Karet, Miliarder Ini Sukses Sulap Lotte Jadi Raksasa© Dream

 

Malang keberuntungan belum berpihak kepadanya. Bisnis yang dirintisnya hancur berantakan setelah dibom oleh militer udara Amerika Serikat sebagai tanda Perang Dunia II.

Kemalangan yang dialami tak membuat Shin patang arang. Di tahun 1948, Shin melihat peluang usaha saat sebuah camilan berupa permen karet begitu populer di kalangan militer Amerika Serikat di Jepang.

Melihat potensi ini, dia mendirikan pabrik permen karet di negara asalnya, pabrik ini bernama Lotte Confectionary pada 1967.

6 dari 7 halaman

Menjelma Jadi `Raksasa`

Lotte menjadi salah satu perusahaan keluarga terbesar di Korea Selatan. Gurita bisnisnya tak lagi sekadar permen karet. Lotte bertransformasi menjadi perusahaan ritel, taman bermain, hotel, dan konsutruksi.

Bahkan Lotte mempunyai tim baseball profesional, Lotte Giants, dan punya properti seperti The New York Palace Hotel di Madison Avenue, Amerika Serikat. Salah satu aset yang terkenal dan banyak dikunjungi orang yang datang ke Korea adalah Lotte World Tower yang menjadi pencakar langit tertinggi dengan 123 lantai.

Asosiasi Industri Korea mengapresiasi sumbangsih Shin terhadap perekonomian Korea Selatan. Dia dianggap jadi pelopor pembangun negara pascaperang.

“ Shin meletakkan dasar bagi perekonomian nasional setelah Korea Selatan pulih dari reruntuhan perang,” kata asosiasi ini dalam sebuah pernyataan.

7 dari 7 halaman

Tapi Penuh Konflik?

Sama seperti pendiri perusahaan keluarga lainnya, “ warisan” Shin diwarnai konflik. Pada 2015, putra Shin terlibat dalam permusuhan korporasi untuk mengambil kendali Lotte. Akhirnya, putranya, Shin Dongbin menang.

Tak hanya itu, pada 2017, Dong-bin dan beberapa anggota keluarganya didakwa melakukan penggelapan pajak, penggelapan pajak, dan transaksi bisnis ilegal. Pengadilan Korea Selatan akhirnya menghukum Shin yang berusia 95 tahun. Tapi karena kesehatannya memburuh, pengadilan mengizinkannya bebas.

Sang putralah yang menerima hukuman penjara yang ditangguhkan, menurut laporan media setempat. Lalu, dia terseret kasus skandal korupsi politik yang melengserkan Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye.

Dia membantah tuduhan itu, tetapi dinyatakan bersalah oleh pengadilan Korea Selatan pada tahun berikutnya, menerima hukuman penjara yang ditangguhkan. Sekadar informasi, Shin Dong-bin kini menjabat sebagai ketua Lotte Group.

" Kami menghormati keputusan pengadilan yang bijak. Kami akan menjadi perusahaan yang bekerja untuk berkontribusi pada perekonomian negara dan mengambil tanggung jawab sosial," kata Lotte Group saat itu.

Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya
Join Dream.co.id