Modal Rp20 Ribu, Penjual Songket Kini Beromzet Rp200 Juta

Dinar | Jumat, 27 Juli 2018 07:43
Modal Rp20 Ribu, Penjual Songket Kini Beromzet Rp200 Juta

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Krisisi Moneter membuat bisnisnya malah maju.

Dream – Membangun usaha bersama, memang tidaklah mudah. Butuh ketekunan, keseriusan, dan konsistensi menjaga kualitas produk. Belum lagi jika sudah berbenturan dengan urusan modal.

Tantangan inilah yang pernah dirasakan pria asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yus Lusi. Bersama sang istri, Dorce Lusi, Yus mendirikan Sentra Tenun Ina Ndao dengan modal Rp20 ribu pada 1991.

Dengan uang itu, Yus membeli benang dan bahan baku menenun. Kala itu, dia juga mengajak seorang rekannya untuk mendirikan Ina Ndao. Tak lupa sang mertua turut diajak untuk mengembangkan tenun ikat.

“ Memang di tahun-tahun awal penjualan sangat minim. Sebulan mungkin laku 1-2 lembar kain seharga Rp50 ribu—Rp60 ribu per lembar. Itu berjalan sepanjang tahun,” kata dia di Kupang, dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Koperasi dan UKM yang diterima Dream, Jumat 27 Juli 2018.

Sentra tenun ikat ini mulai “ bernapas” saat krisis moneter 1997. Ketika itu, ada pesanan dari Ikatan Wanita Buruh Indonesia sebanyak 200 lembar dengan harga Rp500 ribu per lembar. Inilah awal mula Yus mengembangkan bisnis tenun ikat bersama sang istri.

Kini, Ina Ndao telah mendidik ribuan UKM tenun dan meminjamkan modal usaha bagi 200-300 UKM tenun dengan dana Rp1 juta—Rp5 juta per UKM setiap tahun. Setiap bulannya, Ina Ndao bisa menghasilkan 40 lembar kain tenun dari belasan penenun tetap. Jumlah ini belum termasuk dari hasil tenunan mitra binaannya.

Yus mengatakan hubungan mitra binaan dengan Ina Ndao tidak mengikat. UKM binaannya bebas menjual tenun ikat kepada siapa pun.

“ Kalau harga jual ditawar lebih tinggi ditempat lain silahkan. Kalau lebih rendah dari Inda Ndao, silahkan jual ke kita. Tetapi syaratnya teta jaga kualitas. Kami tidak menerima sembarangan produk tenun,” kata dia.

Yus mengatakan pihaknya menghargai satu lembar kain dari harga bahan baku, lama penenunan, keindahan, jenis benang, dan pewarnaan. Harga tenunnya bervariasi, dari Rp30 ribu sampai Rp4 juta per lembar. Dalam sebulan, sentra tenun ikat ini membukukan omzet hingga Rp200 juta. Yus dan Dorce menyisihkan 10 persen dari keuntungan untuk memajukan Ina Ndao.

 

2 dari 3 halaman

Latih UKM

Pasangan suami istri ini juga membuka pelatihan menenun kepada warga yang berminat. Mereka mendapatkan dukungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta lembaga swadaya masyarakat di NTT. Ina Ndao juga mendapatkan bantuan senilai Rp2,5 juta dari PT Pupuk Sriwijaya melalui Dinas Perindustrian NTT. Kini, pelatihan menenun dikelola serius di bawah Lembaga Pendidikan Pelatihan Masyarakat Seni Flobamora.

“ Kami mulai pelatihan sejak tahun 1997. Tiap tahun, Ina Ndao menerima hingga lima angkatan menenun. Dalam satu angkatan, setidaknya ada 25 murid,” kata Yus.

Sejak berdiri dari tahun 1997, sentra tenun ikat ini telah melatih ribuan orang. Mereka memberikan pelatihan seperti pemintalan, pewarnaan, sampai kerapian menenun.

3 dari 3 halaman

Dirikan Koperasi

Di balik keberhasilan sentra tenun ini, ada peran Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Ando. Koperasi ini didirikan oleh Yus dan mitra UKM pada 2003. Pria ini sadar UKM yang baru lahir memerlukan modal untuk berkembang.

“ Dengan 20 anggota yang ada, kami sepakat mendirikan KSU Karya Ando dengan modal awal Rp20 juta. Lalu, kami mendapatkan modal dari Kementerian Koperasi sebesar Rp150 juta,” kata dia.

Yus mengatakan, melalui koperasi, pelaku UKM tenun yang memiliki wawasan dan pemikiran yang sama, diajak untuk mengembangkan tenun ikat. Dia juga mengajak mantan UKM binaan untuk menjadi mitra dan bergabung di KSU Karya Ando. UKM-UKM tenun ikat juga bisa menjual karyanya di KSU Karya Ando.

“ Kalau Ina Ndao mendapatkan orderan dalam jumlah besar, para mitra perajin itu diikutsertakan agar bisa menggarap di rumahnya masing-masing,” kata dia.

BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id