Ini Sumber Harta Mansa Musa, Manusia Terkaya Sepanjang Sejarah

Dinar | Senin, 8 April 2019 16:15
Ini Sumber Harta Mansa Musa, Manusia Terkaya Sepanjang Sejarah

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Ada pria yang paling kaya dari orang terkaya dunia. Namanya, Mansa Musa.

Dream – Mansa Musa. Inilah manusia terkaya dunia, sepanjang sejarah. Saking kayanya, jumlah harta Musa tak bisa dibayangkan. Orang paling tajir di muka bumi saat ini, Jeff Bezos, bahkan tak bisa menandingi kekayaannya.

Dikutip dari Mirror, Senin 8 April 2019, Mansa Musa adalah raja dari Kerajaan Mali, Afrika, pada abad ke-14. Jika Bezos tercatat memiliki harta senilai US$115 miliar, sekitar Rp1.629,43 triliun, kekayaan ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekayaan Musa.

Raja ini juga disebut-sebut lebih kaya dari Kaisar Romawi, Augustus Caesar, yang memiliki harta senilai US$4,6 triliun, sekitar Rp65.178,26 triliun.

Majalah Time menyebut kaisar Mali ini merupakan orang yang lebih kaya dari yang bisa dideskripsikan. Saking tajir melintirnya, Musa juga bersedekah kepada orang-orang miskin ketika mengunjungi Kairo, Mesir. Bukan uang atau makanan yang disumbang, pria itu bersedekah emas.

Karena sumbangan inilah, perekonomian di Mesir acak-acakan kala itu. Butuh waktu 12 tahun untuk memperbaiki perekonomian di Mesir. Musa membeli kembali sebagian emas yang dibeli dengan bunga yang tinggi.

Profesor sejarah di University of Michigan, Amerika Serikat, Rudolph Ware, mengatakan, Musa merupakan seorang pria yang kaya raya. Dia bisa menguasai dan “ menggandakan” emas yang dimiliki.

“ Pria terkaya yang pernah dilihat orang,” kata Ware.

2 dari 5 halaman

Dari Mana Sumber Kekayaannya?

Sebelumnya, Musa diangkat menjadi raja di Kerajaan Mali, Afrika Barat, pada 1312. Dia menggantikan raja terdahulu, Abu Bakar II, yang lenyap di Samudera Atlantik. Dikatakan bahwa raja terdahulu bepergian dengan 2 ribu kapal serta ribuan pria, wanita, dan budak, namun tak kembali.

Musa menjadi penguasa kerajaan ketika bangsa Eropa sedang berjuang dalam perang sipil dan kekurangan sumber daya alam.

Kekayaan Musa ini berasal dari sumber daya alam, terutama emas.

Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Mali tumbuh tiga kali lipat. Luas kerajaan meningkat 2 ribu mil (3.218,67 kilometer) dari pantai Atlantik dan mencakup sembilan wilayah Afrika Barat (saat ini). Musa juga menguasai 24 kota, terutama hub kota dagang, Timbuktu.

British Museum mencatat kekayaannya ini mencakup setengah dari emas Dunia Lama. Spesialis di Block Museum of Art, Kathleen Bickford Berzock, mengatakan Musa punya akses emas yang hampir tak terbatas .

“ Sebagian besar perdagangannya meliputi emas dan barang-barang lainnya yang ada di wilayah kekuasaan. Dia memupuk kekayaan dari perdagangan,” kata dia.

3 dari 5 halaman

Muslim yang Taat

Sebagai seorang Muslim yang patuh, Musa tak lupa menjalankan rukun Islam yang ke-5, yaitu naik haji. Dia meninggalkan Mali dengan sebuah karavan. Pengiringnya sebanyak 60 ribu orang.

Raja membawa semua pejabat, tentara, dan bintara. Tak lupa, pedagang, pelawak, “ pengendara” unta, serta 12 ribu budak ikut naik haji. Orang-orang ini memakai sutra Persia terbaik dan brokat emas. Emas-emas juga tak kupa dibawa.

Kovoi rumit ini juga membawa unta dan kuda yang membawa ratusan kilogram emas. Serta kereta panjang untuk membawa kambing dan domba yang akan diolah menjadi makanan.

Seorang sejarahwan kala itu, Ibnu Khaldun, mewawancarai salah satu teman perjalanan raja. Dikatakan bahwa Musa akan menghibur orang-orangnya dengan makanan langka dan permen.

4 dari 5 halaman

Perjalanan Haji `Berbuah` Kerugian

Setibanya di Kairo, Musa diundang untuk bertemu dengan penguasa kota, Al Malik Al Nasir. Awalnya, dia menolak karena harus bersujud dan mencium tangan sultan.

Selama di Kairo, Musa melanjutkan belanja yang mewah serta membagikan emas dengan senang hati, terutama bagi orang miskin kota.

Meskipun niatnya mulia, perbuatan Musa membuat inflasi Mesir menjadi tinggi. Perjalanan haji Musa ini membuat negara-negara Timur Tengah tekor US$1,5 miliar, sekitar Rp21,25 triliun.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Musa mencoba membantu perekonomian Mesir dengan membeli kembali sebagian emas yang diberikan dengan tingkat bunga yang terlalu tinggi.

5 dari 5 halaman

Dikritik Rakyat

Karena pengeluarannya yang wah, rakyat Mali mengkritik sang raja. Dikatakan bahwa Musa telah menyia-nyiakan sumber daya yang bisa digunakan di dalam kerajaan.

Walaupun dikritik, Musa juga memperoleh wilayah Gao di dalam kerajaan Songhai. Kerajaan Mali meluas sampai tepi selatan Gurun Sahara, tepat di sepanjang Sungai Niger.

Penaklukan favoritnya adalah Timbuktu. Kota ini disebut-sebut sebagai El Dorado-nya Afrika. Orang-orang datang mendekat untuk mengagumi bangunan dan jalan yang berlapis emas.

Tak hanya bagi-bagi emas, Musa juga membangun masjid-masjid. Beberapa di antaranya masih berdiri sampai sekarang.

Sang raja juga membayar penyair dengan 200 kg emas. Kalau dirupiahkan, emas ini senilai Rp116,87 miliar. Musa juga mendanai biaya literatur serta membangun sekolah dan perpustakan. Pria ini menjadikan Timbuktu sebagai pusat pendidikan—tempat orang-orang dari seluruh dunia untuk belajar.

Pada 1337, Musa meninggal dunia saat berusia 57 tahun. Kekaisarannya diwarisi oleh putra-putranya. Sayangnya, anak-anak Musa tak secakap sang ayah sehingga kerajaan tak bisa disatukan. 

BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id