Bukan Item Fashion Branded, Roti Kini jadi Simbol Kekayaan di Korea Utara

Dinar | Senin, 4 Juli 2022 10:36

Reporter : Alfi Salima Puteri

Menurut laporan Radio Free Asia (RFA), fenomena ini disebabkan oleh kelangkaan tepung terigu sebagai bahan utama pembuatan roti.

Dream - Tas branded, perhiasan atau jam tangan mewah tidak berlaku untuk dipameraan sebagai harta kekayaan di Korea Utara. Untuk saat ini, rakyat dari negara yang dipimpin Kim Jong-un itu lebih memandang sepotong roti sebagai simbol status sosial tinggi.

Menurut laporan Radio Free Asia (RFA), fenomena ini disebabkan kelangkaan tepung terigu sebagai bahan utama pembuatan roti.

Melansir laman Insider, Minggu, 3 Juli 2022, harga tepung terigu menjadi sangat mahal di negara yang kabarnya masih menjalankan ideologi komunis secara murni itu. Akibatnya, seseorang atau keluarga yang bisa makan roti dipandang sebagai orang kaya.

Bukan Item Fashion Branded, Roti Kini jadi Simbol Kekayaan di Korea Utara
Foto: Pixabay.com
2 dari 4 halaman

Harga tepung terigu di Korut saat ini dijal tiga kali lebih mahal daripada beras. Tak seperti di Indonesia, beras sebelumnya dianggap sebagai makanan mewah yang hanya bisa dinikmati kalangan masyarakat dengan status sosial tinggi di negara itu.

Sebagai makanan utama, sebagian besar warga Korea Utara mengonsumsi jagung dan biji-bijian kasar lainnya.

“ Roti dan pangsit mandu tiba-tiba menjadi makanan yang hanya bisa dinikmati oleh pejabat tinggi dan orang yang sangat kaya. Jadi makanan yang terbuat dari tepung kini menjadi simbol kekayaan," ungkap seorang sumber kepada RFA.

 

3 dari 4 halaman

Sumber lainnya mengungkapkan bahwa tepung terigu kini menjadi bahan makanan mewah yang dipamerkan orang-orang kaya Korut. Mereka segaja menyuguhkan makanan ini kepada tamu yang datang ke rumah untuk menunjkan statusnya.

Harga tepung terigu di Korea Utara awalnya sekitar 4 ribu hingga 6 ribu won (sekitar Rp46 ribu - Rp69 ribu) per kilogram.

Setelah pandemi Covid-19 melanda, harganya melonjak naik di 30 ribu won atau sekitar Rp346 ribuan per kilogram.

4 dari 4 halaman

Saat Covid-19 menyebar di berbagai negara khususnya Asia, Korut segera menutup perbatasan dan menghentikan impor di awal 2020. Hal itulah yang membuat kelangkaan tepung terigu hingga harganya sangat mahal untuk bisa dinikmati rakyat jelata.

Menurut data dari Central Intelligence Agency (CIA), Korea Utara menghadapi kekurangan pangan yang diperkirakan mencapai 860 ribu ton atau sekitar dua hingga tiga bulan konsumsi makanan.

Join Dream.co.id