Buka-bukaan Kinerja Keuangan Pertamina yang Merugi Rp11 Triliun

Dinar | Selasa, 25 Agustus 2020 15:47
Buka-bukaan Kinerja Keuangan Pertamina yang Merugi Rp11 Triliun

Reporter : Syahid Latif

Manajemen Pertamina yakin kinerja keuangan perusahaan akan menjadi positif sampai akhir tahun 2020.

Dream - PT Pertamina (Persero) menjadi sorotan masyarakat setelah melaporkan kerugian hingga Rp11 triliun hingga kuartal II-2020. Warganet mengaitkan kinerja BUMN raksasa Indonesia itu dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang duduk sebagai komisaris utama.

Kondisi keuangan tersebut membuat netizen kembali mengungkit soal pernyataan Ahok yang pernah dilontarkan jika Pertamina akan tetap untung meski bekerja sambil memejamkan mata.

Terlepas dari polemik tersebut, kinerja Pertamina sepanjang tahun ini memang mendapat pukulan keras dari dalam dan luar negeri.

VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman dalam keterangan tertulisnya menjelaskan, Pertamina sepanjang semester I-2020 menghadapi triple shock yakni penurunan harga minyak mentah dunia, penurunan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri serta pergerakan nilai tukar dollar yang berdampak pada rupiah sehingga terjadi selisih kurs yang cukup signifikan.

“ Pandemi COVID-19, dampaknya sangat signifikan bagi Pertamina. Dengan penurunan demand, depresiasi rupiah, dan juga crude price yang berfluktuasi yang sangat tajam membuat kinerja keuangan kita sangat terdampak,” ujar Fajriah dalam keterangan tertulis Pertamina.

Penurunan demand tersebut terlihat pada konsumsi BBM secara nasional yang sampai Juni 2020 hanya sekitar 117 ribu kilo liter (KL) per hari atau turun 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang tercatat 135 ribu KL per hari. Bahkan pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota besar terjadi penurunan demand mencapai 50-60 persen.

 

2 dari 3 halaman

Begini Kondisi Keuangan Pertamina

Merujuk pada laporan keuangan Pertamina yang bisa diakses di laman perusahaan diketahui penjualan dan pendapatan usaha perusahaan yang turun cukup tajam di semester I-2020. Pertamina mencatat penjualan sebesar US$20,48 miliar atau turun 19,8 persen dari setahun yang lalu sebesar US$ 25,55 miliar.

Penurunan pendapatan Pertamina terbesar berasal dari penjualan dalam negeri yang mencapai 20 persen menjadi US$16,57 miliar dari semula US$20,94 miliar. Sumber pemasukan lain yang juga berkurang adalah dari pos penggantian biaya subsidi dari pemerintah yang turun sampai 30,8 persen menjadi US$1,74 miliar.

Sebaliknya, Pertamina justru mencatat kenaikan pemasukan dari pos penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi, dan produk minyak sebesar 9,31 persen menjadi US$1,76 miliar.

Penurunan pendapatan Pertamina juga berasal dari pendapatan usaha dari aktivitas operasi lainnnya yang berkurang menjadi US$414,8 juta.

Di tengah penurunan pemasukan tersebut, Pertamina berhasil menekan beban pokok penjualan dan beban langsung lainnya menjadi US$18,87 miliar. Dengan posisi ini, Pertamina sebetulnya masih mendapatkan laba kotor sebesar US$1,61 miliar meski turun tajam 54,77 persen dibandingkan periode tahun lalu yang mencapai US$3,56 miliar.

Laporan keuangan Pertamina juga mencantumkan beban perusahaan yang semakin bertambah berat dengan adanya rugi kurs yang mencapai US$211,83 juta. Padahal setahun sebelumnya, Pertamina masih bisa untung 64,59 juta dari pos ini.

Dengan laba kotor yang turun ditambah beban biaya operasional lainnya dan pajak, Pertamina melaporkan mencatat kerugian bersih US$767,91 miliar di paruh pertama 2020 ini.

 

3 dari 3 halaman

Yakin Akhir Tahun Bisa Untung

Namun Pertamina optimistis sampai akhir tahun akan ada pergerakan positif yang diproyeksikan berdampak pada laba perusahaan. Tanda-tanda itu terlihat dari harga minyak dunia yang perlahan sudah mulai naik dan konsumsi BBM baik industri maupun retail juga semakin meningkat.

Fajriyah juga optimistis kinerja Pertamina sampai akhir tahun akan tetap positif karena melihat keberhasilan pencapaian kinerja positif pada laba operasi Juni 2020 sebesar US$443 juta dan EBITDA sebesar US$ 2,61 milyar yang menunjukkan kegiatan operasional Pertamina tetap berjalan dengan baik.

Pertamina juga sudah melakukan sejumlah inisiatif untuk perbaikan internal dengan tetap melakukan penghematan sampai 30 persen. Perusahaan juga melakukan skala prioritas rencana investasi, renegosiasi kontrak eksisting serta refinancing untuk mendapatkan biaya bunga yang lebih kompetitif.

“ Pertamina juga terus meningkatkan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) sehingga menurunkan tekanan kurs dan bisa menekan biaya secara umum,” imbuh Fajriyah.

Kendati mengalami rugi bersih, Fajriyah memastikan Pertamina tetap memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat agar pergerakan ekonomi nasional tetap terjaga.

" Meski demand turun, seluruh proses bisnis Pertamina berjalan dengan normal. SPBU tetap beroperasi, pendistribusian BBM dan LPG juga tetap terjaga baik, kami memprioritaskan ketersediaan energi bagi rakyat," tegas Fajriyah.

Terkait
Join Dream.co.id