Diberi Kado Ultah, Pemuda Ini Mendadak Jadi Orang Terkaya Dunia

Dinar | Selasa, 29 Oktober 2019 09:12
Diberi Kado Ultah, Pemuda Ini Mendadak Jadi Orang Terkaya Dunia

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Sebelum jadi miliarder, pemuda banyak bergaul dengan selebritas dunia. Siapa dia?

Dream – Seorang pria multijutawan mendapatkan hadiah dari orang tuanya senilai US$3,8 miliar atau sekitar Rp53,45 triliun. Hadiah ini menjadikan pria berusia 24 tahun sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Dikutip dari Next Shark, Senin 28 Oktober 2019, hadiah yang merupakan kado ulang tahun itu berupa 2,7 miliar lembar saham perusahaan milik orang tuanya di Hong Kong, Sino Biopharmaceutical.

Menurut Bloomberg, hadiah yang diterima oleh pria bernama Eric Tse, seperlima dari saham yang dimiliki oleh perusahaan.

Selain saham, Erick juga mendapatkan promosi di perusahaan. Orang tuanya menjadikan pria muda itu sebagai direktur eksekutif di Sino. Sekadar informasi, pria itu bekerja di Sino sejak setahun yang lalu.

Sebagai seorang direktur eksekutif, Eric dipastikan akan menerima sekitar US$500 ribu (Rp7,03 miliar) per tahun.

2 dari 7 halaman

Siapa Eric Tse?

Eric lahir dari pasangan Tse Ping dan Cheng Cheung Ling. Pemuda itu lahir di Seattle, Amerika Serikat.

Kini, Eric dinobatkan Forbes sebagai orang terkaya ke-546 di dunia. Namun, perusahaan menyebut Eric sebenarnya tak mau dimasukkan ke daftar orang kaya dunia.

Dia menyabet gelar sarjana keuangan di Wharton School, University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Eric terkenal suka bergaul dengan selebritis sebelum jadi miliarder.

Di akun media sosialnya, Eric pernah berpose dengan Rihanna, Bella Hadid, dan pebasket Yao Ming. Malah, dia juga pernah berpose dengan Putri Charlene dari Maroko.

3 dari 7 halaman

Dulu Tukang Sayur, Kini Jadi Miliarder Berharta Belasan Triliun

Dream – Tak pernah terbayang dari benak Masaru Wasami bahwa dia akan menjadi miliarder. Kini, dia menjadi orang kaya-raya di Jepang dengan harta belasan triliun rupiah.

Dikutip dari Bloomberg, Senin 14 Oktober 2019, cerita ini bermula dari Masaru yang menjadi karyawan paruh waktu saat berusia 12 tahun. Dia ingin membantu mencari uang untuk pengobatan sang ibu yang mengidap tuberkulosis (TBC). Tiga tahun kemudian, Masaru berhenti sekolah dan berbisnis full time.

Pada 1970, Masaru merintis bisnis truk di bawah bendera Maruwa Unya Kikan Co. Bisnisnya bergerak di bidang pengiriman produk. Awalnya, dia hanya punya satu truk. Beberapa tahun kemudian, jumlah truk yang dimilikinya sampai 100 truk.

Semula dia berbisnis pengiriman produk, kini bisnisnya berkembang menjadi pengiriman obat-obatan dan logistik supermarket di seluruh Jepang.

Kini, Masaru menjadi orang kaya-raya di Jepang dan keberhasilannya tak lepas dari peran Amazon Inc.

4 dari 7 halaman

Tak Ada Ide

Saat berkisah pertama kalinya memantapkan hati untuk berbisnis, Masaru mengaku tak ada ide. Saking tak ada pikiran, pria ini tak bisa tidur.

Lalu, pagi harinya, Masaru menemani temannya untuk mengambil paket dari pabrik benang. Tapi, dia tidak mampu menangani pengiriman parsel. Inlah yang menjadi alasan Masaru untuk berbisnis pengiriman paket.

Pemilik 60 persen ini tak keberatan menggandeng Amazon dan Rakuten—online retailer di Jepang—untuk mengembangkan bisnisnya. Masaru menawarkan jasa pengiriman “ same day delivery” kepada dua e-commerce raksasa itu.

Selain kerja sama dengan dua e-commerce, kenaikan harga saham Maruwa turut mengerek kekayaan Masaru. Bloomberg mencatat kekayaan pria berusia 74 tahun ini senilai US$1 miliar (Rp14,14 triliun).

Masaru juga menggandeng perusahaan parsel terbesar, Yamato Holdings Co. Sama dengan Rakuten dan Amazon, dia menawarkan bisnis pengiriman same day delivery.

5 dari 7 halaman

Tak Mau Melebihi Batas

Pada 2017, bisnis parsel Yamato berkembang tiga kali lipat dan mendorong volume pengapalan dari ritel e-commerce. Kenaikan bisnis ini tentu saja berakibat pada bisnis pengiriman.

 Tak Mau Melebihi Batas

Meskipun sedang moncer, Masaru enggan menerima permintaan kelebihan pengiriman. Dia tak mau ngoyo terhadap bisnis pengiriman barang dari perusahaannya dan ogah melebihi kapasitas.

“ Perusahaan kami juga menawarkan gaji yang kompetitif untuk sopir truk,” kata Masaru.

6 dari 7 halaman

Belum Puas

Dia menuturkan, Maruwa bisa menghasilkan uang senilai 7,2 juta yen (Rp939,92 juta) dengan mengirimkan lebih dari 150 paket per hari.

Sekadar informasi, pendapatan Maruwa melesat 15 persen menjadi 85,6 miliar (Rp1,12 triliun) per 31 Maret 2019. Logisitik dan ritel makanan tetap menjadi bisnis terbesar Maruwa. Kini, paket e-commerce juga memberikan sepertiga pendapatan perusahaan Masaru.

Meskipun sudah sukses dan tajir, Masaru tetap tidak puas. Dia mengatakan penjualannya seharusnya beberapa kali lebih besar karena dia menghabiskan waktu hampir 50 tahun untuk berbisnis.

“ Saya belum menghasilkan yang terbaik,” kata dia.

7 dari 7 halaman

Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik
Join Dream.co.id