19 Tahun Tak Pernah Masuk Restoran, Kini Bos Rumah Makan

Dinar | Kamis, 11 Oktober 2018 10:15

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Rumah makannya ada di 300 tempat.

Dream – Seorang pria di China ini tak pernah mencicipi sedapnya hidangan restoran selama 19 tahun sejak dia lahir ke dunia. Tapi siapa sangka, 30 tahun kemudia dia malah menjelma menjadi seorang taipan restoran sukses dunia. 

Tak hanya satu, bisnis restorannya telah memiliki 300 jaringan rumah makan yang tersebar di seluruh dunia.

Dengan kondisinya saat ini, pengusaha ini telah mengelola sebuah perusahaan yang ditaksir bernilai lebih dari US$3,9 miliar (Rp59,27 triliun).

Dilansir dari CNBC, Kamis 11 Oktober 2018, pria itu bernama Zhang Yong. Pria berusia 47 ini ternyata tak pernah lulus SMA. 

Kondisi itu bukan penghalangnya untuk menjadi sukses. Zhang saat ini adalah Cofounder Haidilao International Holding, perusahaan induk dari jaringan restoran Tiongkok, Haidilao. Di restoran ini, dia menghadirkan makanan hotspot untuk karyawan.

Tahun lalu, restoran berbasis di Beijing ini memiliki pendapatan sebesar US$1,6 miliar. Pada September 2018, restoran ini meraup US$1 miliar (Rp15,19 triliun) ketika IPO dan nilai perusahaannya mencapai US$12 miliar (Rp182,36 triliun).

Zhang dan istrinya, Shu Ping, memiliki 58 persen saham Haidilao. IPO ini membuat kekayaan keduanya sebesar US$8 miliar (Rp121,58 triliun).

19 Tahun Tak Pernah Masuk Restoran, Kini Bos Rumah Makan
Bos Restoran Senilai Rp59 Triliun Ini Dulunya Belum Pernah Makan Di Restoran, Lho. (Foto: China.org)
2 dari 3 halaman

Nekat Keluar dari Pabrik

Cerita bisnis ini bermula saat Zhang yang putus sekolah SMA mengambil pekerjaan pengelasan di pabrik traktor. Dia keluar dari pabrik setelah terlibat perselisihan dengan para majikan pada 1994.

Ketika itu, permohonan apartemen perusahaan untuk dirinya sendiri dan sang istri (ketika itu masih berstatus tunangan) ditolak.

Sebagai seorang pemuda, dia memberanikan diri keluar dari pekerjaannya untuk merintis bisnis restoran di desanya, Jianyang, Tiongkok. Ketika diwawancarai Bloomberg pada 2017, Zhang mengaku tak tahu-menahu tentang bisnis restoran dan makanan hotpot. Yang ada dia sering makan di kantin pabrik dan tak pernah makan di restoran sungguhan.

Nekat memang. Ketika membuka restoran, dia memberikan layanan berupa semir sepatu dan manikur kuku gratis kepada pelanggan sembari menunggu meja kosong. Ketika sedang memesan mie, karyawan Haidilao melakukan “ tarian mie” untuk menghibur pembeli. Alasannya sederhana. Dia percaya layanan pelanggan yang unggul itu penting.

“ Saya berasal dari pedesaan di mana orang-orang pedesaan percaya bahwa jika kamu mengambil uang dari mereka dan tak bermanfaat baginya, kamu adalah pembohong,” kata dia.

3 dari 3 halaman

Restorannya Berkembang Pesat

Dengan konsep hotpot tradisional, Haidilao bisa berkembang pesat. Restorannya tak hanya ditemukan di Tiongkok, tetapi juga di Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Singapura.

Zhang mengatakan sebagian keberhasilan perusahaannya berasal dari insentif keuangan yang ditawarkan kepada para manajer yang mengelola restoran Haidilao. Dia memberikan 3 persen keuntungan restoran kepada manajer. Insentif ini sebagai motivasi ekstra bagi manajemen untuk meraih target.

Lalu, dia juga tak lupa memberian apresiasi kepada karyawan yang datang dengan ide-ide kreatif. Ide-ide ini diterapkan di seluruh lokasi Haidilao.

Misalnya, memberikan tas plastik kepada pelanggan untuk menyimpan ponsel sehingga tak jatuh ke kaldu panas yang mendidih. Restoran juga memberikan ikatan rambut kepada pelanggan yang berambut panjang.

“ Kalau menginginkan kreativitas, kamu harus membiarkan karyawanmu menciptakan dan menggunakan kreasinya,” kata dia kepada The Wall Street Journal.

Join Dream.co.id