Ini Sebab Masyarakat Tak Paham Keuangan Syariah

Dinar | Rabu, 15 Januari 2020 12:36

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Mereka menilai keuangan syariah tak sekadar pinjaman tanpa bunga dan pembagian bagi hasil.

Dream - Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) ingin mengubah mindset masyarakat Indonesia. Apalagi, pandangan masyarakat tentang sistem keuangan itu masih dipengaruhi oleh ustaz yang dipercayai.

“ Mereka masih dengar kata ustaznya. Kalau kata ustaznya enggak boleh, mereka ikut. Ini tugas asosiasi memberikan edukasi karena mindset harus benar dulu," ujar Ketua AFSI, Ronald Yusuf Wijaya, di Jakarta, Selasa 14 Januari 2020.

Selama ini, masyarakat beranggapan keuangan syariah merupakan pinjaman tanpa bunga dan ada pembagian bagi hasil. Padahal, keuangan syariah tak hanya seputar dua poin tersebut. " Bukan sekadar satu (konvensional) bunga dan satu (syariah) bagi hasil," tabah Ronald.

Menurutnya, selama ini masyarakat belum mengenal secara mendalam mengenai perbedaan keuangan konvensional dan syariah.

" Terbukti, selama 25 tahun lembaga keuangan (syariah) yang saat ini ada tidak berhasil memberikan edukasi tersebut kepada masyarakat," kata Ronald.

Ini Sebab Masyarakat Tak Paham Keuangan Syariah
Keuangan Syariah Tak Hanya Berkaitan Dengan Bebas Riba Dan Ada Bagi Hasil. (foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Pakai Strategi Ini

AFSI ingin mengubah cara pandang masyarakat tentang keuangan syariah tersebut. Di dalam keuangan syariah, ada yang namanya unsur kepercayaan dan konsultasi.

" Kami pakai analogi satu (konvensional) dipinjamkan, yang satu (syariah) dapat partner pembiayaan," kata dia.

Ronald mengatakan dengan mitra pembiayaan, masyarakat bisa saling konsultasi dengan pinjamannya. Kalau uang pinjaman sudah ada, peminjam bisa langsung mengembalikannya. Kalau di pinjaman konvensional, peminjam harus menunggu waktu jatuh tempo.

" Kalau lebih cepat, ya, balikin dong. Itu namanya membangun kepercayaan. Di kami tadi betul investor berulang kali masuk. Kalau mereka sekali percaya, akan percaya terus. Jadi, membetulkan midsetnya dulu," kata dia.

3 dari 6 halaman

12 Fintek Kantongi Izin OJK, Yakin Dorong Pembiayaan UMKM

Dream - Sebanyak 12 fintek (Financial Technology) peer to peer (P2P) lending mengantongi izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) optimistis penyaluran dana usaha ke sektor mikro, kecil, dan menengah akan semakin meningkat dengan semakin banyak fintek P2P yang berlisensi dari OJK.

Sekadar informasi, kini sudah ada 25 penyelenggara fintek lending yang berlisensi resmi.

Dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Jumat 20 Desember 2019, Kepala Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI, Tumbur Pardede, mengatakan fintek lending yang berlisensi berkewajiban untuk menyalurkan pembiayaan minimal 20 persen dari total pinjaman ke sektor UMKM.

Partisipasi penyelenggara Fintech Lending akan membuka lebih luas akses pembiayaan kepada masyarakat yang unbanked, underserved, atau yang belum terlayani lembaga keuangan konvensional.

“ Terima kasih kepada OJK yang terus memperkuat industri Fintech Lending yang tentunya akan semakin mendorong peran anggota AFPI dalam meningkatkan penyaluran pinjaman ke sektor UMKM,” kata Tumbur di Jakarta.

Sebanyak 12 fintek P2P lending yang mengantongi izin usaha OJK per 13 Desember 2019, yaitu PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran), PT Mediator Komunitas Indonesia (Crowdo), PT Dana Pinjaman Inklusif (PinjamanGo), PT Ammana Fintek Syariah (Ammana), PT Esta Kapital Fintek (Esta), PT Mekar Investama Sampoerna (Mekar), PT Pohon Dana Indonesia (Pohon Dana), PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami), PT Lunaria Annua Teknologi (Koinworks), PT Tri Digi Fin (Kreditpro), PT Fintegra Homido Indonesia, dan PT KUFI (Rupiah Cepat).

Dia mengharapkan perolehan sertifikat ini bisa menginspirasi anggota lainnya yang masih berproses. “ Untuk menjadi penyelenggara Fintech P2P Lending harus comply terhadap regulasi dan aturan dari OJK maupun dari asosiasi demi menjaga kredibilitas industri,” kata Tumbur.

4 dari 6 halaman

Kredibilitas Makin Tinggi

Ketua Harian AFPI, Kuseryansyah menambahkan pemberian izin usaha dari OJK menandakan kredibilitas industri fintek pinjaman semakin tinggi. Hal ini terlihat dari meningkatnya angka penyaluran pinjaman dari seluruh anggota AFPI kepada masyarakat.

Berdasarkan data OJK hingga Oktober 2019, total penyaluran pinjaman dari Fintech Lending mencapai Rp68 triliun, meningkat 200 persen dari posisi Oktober tahun lalu.

Rekening lender (pemberi pinjaman) juga meningkat 178,62 persen menjadi 578.158 entitas. Begitu juga rekening borrower (peminjam) bertambah 266,71 persen menjadi 15.986.723 entitas.

“ Kehadiran AFPI, yang saat ini ada 144 anggota terdaftar, akan terus mendorong penguatan industri Fintech Lending di Indonesia sebagai pilihan akses keuangan masyarakat yang unbanked, underserved,” kata Kusersyansyah.

Dia mendukung program pemerintah untuk meningkatkan inklusi keuangan masyarakat. “ Dengan demikian, pemanfaatan fintek lending diharapkan lebih maksimal untuk mengisi credit gap di masyarakat,” kata Kusersyansyah.

5 dari 6 halaman

133 Fintech Pinjaman Online Ilegal Ditindak OJK

6 dari 6 halaman

Total 1.477 Fintech Ditindak

Join Dream.co.id