Kinerja Positif Asuransi Syariah Diprediksi Berlanjut hingga Akhir Tahun

Dinar | Selasa, 21 September 2021 18:13

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Berkat PPKM yang dilonggarkan?

Dream – Asuransi syariah mencetak kinerja yang positif pada kuartal II 2021. Industri asuransi syariah optimistis performa positif berlanjut hingga akhir tahun ini.

“ Harapan kami, bisa mempertahankan kinerja yang hampir sama dengan kuartal II 2021,” kata Ketua Bidang Riset dan Inovasi Asuransi Jiwa Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia, Ronny Ahmad Iskandar, dalam paparan “ Kinerja dan Analisis Industri Asuransi Syariah di Indonesia Triwulan II (April-Juni 2021)” secara virtual, Selasa 21 September 2021.

Ada beberapa hal yang membuatnya optimistis, yaitu PPKM yang mulai dilonggarkan dan perekonomian yang kini berjalan. Ronny menyebut perekonomian yang membaik ini akan bisa memulihkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

“ Perputaran ekonomi akan berjalan dengan baik,” kata dia.

Sekadar informasi, aset industri asuransi syariah naik 4,83 persen dari Rp40,84 triliun pada kuartal II 2020 menjadi Rp42,83 triliun pada kuartal II 2021. Kontribusi bruto meningkat 51,89 persen dari Rp7,6 triliun pada Juni 2020 menjadi Rp11,55 triliun pada Juni 2021.

“ Ini menunjukkan ada indikasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” kata Ronny.

Laporan: Syifa Putri Naomi

Kinerja Positif Asuransi Syariah Diprediksi Berlanjut hingga Akhir Tahun
Industri Asuransi Syariah Optimistis Kinerjanya Positif Hingga Akhir Tahun 2021. (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Kinerja Asuransi Syariah Membaik Berkat Perekonomian yang Mulai Pulih

Dream – Kinerja asuransi syariah di Indonesia meningkat pada kuartal II 2021. Peningkatan kinerja ini disebabkan oleh perbaikan ekonomi di Indonesia.

Ketua Bidang Riset dan Inovasi Asuransi Jiwa Syariah Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Ronny Ahmad Iskandar, mengatakan, kontribusi bruto asuransi syariah naik 51,89 persen dari Rp7,6 triliun pada kuartal II 2020 menjadi Rp11,51 triliun pada kuartal II 2021.

“ Ini menunjukkan ada indikasi perbaikan pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” kata Ronny dalam konferensi pers virtual “ Kinerja dan Analisis Industri Asuransi Syariah di Indonesia Triwulan II (April-Juni 2021)”, Selasa 21 September 2021.

Klaim brutonya naik 72,77 persen dari Rp5,64 triliun pada Juni 2020 menjadi Rp9,75 triliun pada Juni 2021.

Investasinya tumbuh 2,34 persen dari Rp34,25 triliun pada kuartal II 2020 menjadi Rp35,06 triliun pada kuartal II 2021. Hasil investasi asuransi syariah masih minus, namun mulai membaik. Hasil investasi asuransi syariah pada Juni 2020 minus Rp2,35 triliun, lalu naik 85,45 persen pada Juni 2021 menjadi minus Rp342 miliar.

“ Sekarang sudah mendekati yang signifikan,” kata Ronny.

Selain itu, lanjut dia, penetrasi asuransi syariah di Indonesia naik tipis, dari 0,1 persen pada Juni 2020 menjadi 0,15 persen pada Juni 2021.

3 dari 6 halaman

Kuartal I 2021, Kontribusi Asuransi Syariah Melesat 45,2 Persen

Dream – Di tengah pandemi COVID-19, industri asuransi syariah tumbuh baik pada kuartal I 2021. Hal ini terlihat dari pertumbuhan aset dan kontribusi premi yang naik.

“ Alhamdulillah, asuransi syariah dapat meningkat dari berbagai aspek,” kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Tatang Nurhidayat, dalam konferensi pers virtual “ Kinerja Industri dan Analisa Asuransi Syariah Indonesia Triwulan I (Jan-Mar) 2021”, Senin 7 Juni 2021.

 

 Kuartal I 2021, Kontribusi Asuransi Syariah Melesat 45,2 Persen© Dream

 

Aset asuransi syariah meningkat 7,32 persen dari Rp41,12 triliun pada Maret 2020 menjadi Rp44,14 triliun pada Maret 2021. Rinciannya, aset asuransi jiwa syariah senilai Rp35,92 triliun, asuransi umum Rp6,14triliun, dan reasuransi syariah Rp2,08 triliun.

Aset asuransi jiwa syariah dan asuransi umum syariah naik, kecuali reasuransi syariah yang turun 1,8 persen.

4 dari 6 halaman

Kontribusi Asuransi Syariah Naik Double Digit

Sementara itu, kontribusi bruto melesat 45,2 persen dari Rp4,01 triliun pada Maret 2020 menjadi Rp5,83 triliun pada 2021. Rinciannya, kontribusi asuransi jiwa syariah senilai Rp5,17 triliun, asuransi umum syariah Rp510 miliar, dan reasuransi syariah Rp221 miliar.

“ Artinya, (pertumbuhan kontribusi) hampir setengahnya dari kuartal I 2020 ke kuartal I 2021,” kata Tatang.

Dia juga menambahkan bahwa pembayaran klaim asuransi syariah meningkat 88,17 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp2,28 triliun pada Maret 2021. Investasi asuransi syariah pun juga ikut naik 3,20 persen menjadi Rp36,28 triliun pada Maret 2021.

“ Tentu ini menjadi hal yang patut disyukuri bersama dan juga menjadi modal perasuransian syariah untuk terus tumbuh lebih baik lagi,” kata Tatang.  

5 dari 6 halaman

Kewajiban Spin Off Dorong Pelaku Usaha Asuransi Syariah Kerja Keras

Dream – Industri asuransi mengakui kewajiban spin off unit usaha syariah (UUS) pada 2024 akan bersinggungan dengan cost dan persiapan yang matang bagi perusahaan. Namun, kewajiban ini akan mendorong para pelaku usaha untuk lebih fokus dan bekerja keras untuk mengembangkan industri asuransi syariah.

“ Kalau melihat dari perusahaan-perusahaan yang sudah terdahulu melakukan spin off, memang ada perubahan paradigma serta strategi yang diterapkan dalam berbisnis,” kata Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia, Tatang Nurhidayat, “ Smart Syariah Radio Smart FM: Prospek Asuransi Syariah Pasca Spin Off” dikutip dari keterangan tertulis, Rabu 24 Februari 2021.

 

 Kewajiban Spin Off Dorong Pelaku Usaha Asuransi Syariah Kerja Keras© Dream

 

Dia mengatakan fase spin off ini memang akan terasa sulit. Dari sekian banyak unit asuransi syariah yang ada saat ini, tidak semua bisa melewati fase ini.

“ Namun bagi yang lolos dalam fase ini, akan menjadi perusahaan asuransi syariah yang kuat, mandiri, fokus, serta memiliki ciri khas tersendiri,” kata Tatang.

Tatang juga mengatakan, penetrasi pasar akan terus meningkat dan produk-produk asuransi syariah berkembang. Bagi pemegang saham, tentunya ini menjadi spektrum sebagai growth engine baru dalam menggarap pasar industri asuransi syariah ini.

6 dari 6 halaman

Peran Pemerintah Besar dalam Industri Asuransi Syariah Pasca Spin Off

Peran pemerintah, kata dia, juga besar dalam pertumbuhan industri asuransi syariah setelah spin off. Misalnya, dalam pembentukan konsorsium asuransi barang milik negara, lanjutnya, jika perusahaan asuransi syariah dapat diikutsertakan dalam konsorsium.

“ Tentu ini menjadi value tersendiri bagi industri asuransi syariah. Memang dalam hal ini, pemerintah menjadi peserta asuransi dan sebagai pihak tertentu,” kata dia.

AASI selalu siap untuk menjadi mediator bagi pelaku usaha asuransi syariah dengan pemerintah dan regulator. Termasuk dalam memastikan proses spin off ini berjalan dengan lancar, mengoptimalkan potensi, serta memperkecil efek samping yang muncul dengan kewajiban pemisahaan ini.

“ Sejauh ini AASi juga telah berusaha mengoptimalkan potensi industri asuransi syariah, di antaranya dengan mengusulkan agar industri asuransi syariah mendapatkan porsi bisnis yang layak dari berbagai pihak,” kata dia.

Join Dream.co.id