6 Cara Perbaiki Kondisi Keuangan Usai Uang Habis Karena Banjir

Dinar | Rabu, 8 Januari 2020 09:12
6 Cara Perbaiki Kondisi Keuangan Usai Uang Habis Karena Banjir

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Pasca banjir, tak dapat dipungkiri kamu akan mengeluarkan banyak uang.

Dream - Pasca banjir Jakarta dan sekitarnya, para korban terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk renovasi atau mengganti barang-barang yang terendam air. Kondisi ini semakin membuat pening jika kamu tak memiliki dana darurat. 

Banyaknya biaya yang keluar tak terduga tentu membuat rencana keuangan di tahun ini berantakan. Mereka yang tak punya dana darurat terpaksa menggunakan kartu kredit atau mengajukan pinjaman demi menutup pengeluaran akibat banjir. 

Kondisi keuangan seperti ini tentu mengganggu kestabilan finansial. Apalagi kebutuhan harian untuk menjalankan kehidupan sehari-hari setelah banjir surut juga terus jalan. 

Bagaimana caranya memperbaiki kondisi keuangan setelah menjadi korban banjir?

Hal pertama yang harus kamu lakukan seperti dikutip dari CekAja, Rabu 8 Januari 2020, adalah kembali bekerja. Aktivitas ini bisa dilakukan setelah kegiatan bersih-bersih rumah telah selesai.

Jika kamu pemilik usaha, segeralah menjalankan operasional bisnis seperti biasa. Ini penting untuk diprioritaskan agar pendapatanmu bulan berikutnya bisa terjamin karena pasti kamu akan memerlukan banyak biaya.

Langkah kedua adalah mulai hitung jumlah kerugian. Kamu bisa melakukan analisis termasuk membuat daftar inventaris dan menghitung jumlahnya. Tetapkan skala barang-barang apa saja yang harus diperbaiki atau diganti.

Setelah memiliki inventaris barang, kamu melangkah ke tahap Ketiga yaitu memperbaiki hal-hal penting di rumah. Misalnya kerusakan rumah, instalasi listrik, dan pompa air. Selain untuk membeli makanan dan minuman, prioritaskan danamu untuk kepentingan perbaikan hal-hal penting ini.

2 dari 6 halaman

Jangan Lupa Klaim Asuransi

Langkah keempat mungkin yang paling berat akan kamu jalani. Cobalah mentahan diri untuk membeli hal-hal yang kurang penting. Jangan dulu berpikir membeli sofa atau mobil baru, kecuali cukup banyak uang untuk itu.

Kamu memang akan tergoda dengan banyaknya toko atau penyedia jasa yang menawarkan diskon dan kredit. Coba untuk tahan godaan itu dan fokus pada hal-hal krusial terlebih dahulu.

Kelima, klaim asuransi. Kalau punya asuransi, kamu beruntung, kamu bisa mengajukan klaim atas biaya-biaya yang dibutuhkan akibat menjadi korban banjir, misalnya biaya kesehatan, perbaikan rumah, dan kerusakan mobil.

Musibah banjir yang melanda mungkin akan membuat kamu berpikir untuk mulai memiliki asuransi. Uang dari asuransi akan sangat membantu saat-saat seperti ini.

Hal terakhir yang bisa dilakukan adalah mulai mencari penghasilan tambahan. Meskipun sudah berusaha berhemat, biaya yang dikeluarkan tetap masih banyak dan menguras tabungan. Tak ada salahnya mencoba atau memperoleh penghasilan tambahan dari jasa bersih-bersih, laundry, dan mengumpulkan barang bekas.(Sah)

3 dari 6 halaman

PNS Korban Banjir Bisa Ajukan Cuti Sampai 1 Bulan

Dream - Banjir melanda Jakarta, Tangerang, dan Bekasi beberapa hari ini. Tanpa memandang status, air hujan yang turun dengan intensitas tak normal ini membuat banyak rumah menjadi korban. 

Beberapa pegawai yang menjadi rumahnya dilanda banjir umumnya mengajukan cuti ke perusahaan. Kesempatan cuti juga berlaku untuk para Aparatur Sipil Negara (ASN). 

Mengutip akun Instagram, @kemenpanrb, Jumat 3 Januari 2020, PNS korban banjir bisa mengambil cuti maksimal 1 bulan. Hal ini berdasarkan Peraturan Kepala BKN No. 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti PNS.

Menurut ketentuan tersebut, ASN bisa mengajukan cuti maksimal 1 bulan oleh pejabat yang berwenang. Penentuan cuti bergantung kepada penilaian dan kebijakan masing-masing pimpinan instansi/Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK).

Selama ini, ketentuan cuti di kalangan PNS terbagi atas tujuh jenis yaitu cuti tahunan, cuti besar, cuti sakit, cuti melahirkan, cuti karena alasan penting, cuti bersama, dan cuti di luar tanggungan negara.

Khusus untuk banjir, PNS bisa mengajukan cuti karena alasan penting. Cuti ini diberikan jika keluarga sakit keras atau meninggal dunia, mengurus hak-hak anggota keluarga yang meninggal dunia, melangsungkan pernikahan, istri menjalani operasi sesar, serta mengalami musibah kebakaran atau bencana alam.

"Bencana banjir yang menerjang Jakarta dan daerah lainnya turut menimpa sejumlah #RekanASN. Merespon terjadinya bencana alam, termasuk banjir di Jabodetabek, Menteri PANRB Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terdampak banjir diperkenankan mengajukan cuti karena alasan penting. Mekanisme pengajuan cuti telah diatur dalam Peraturan Kepala BKN No. 24/2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil (PNS). Secara ringkas, informasi tersebut dapat dibaca pada gambar di atas ya!," tulis @kemenpanrb.

 

      View this post on Instagram

Bencana banjir yang menerjang Jakarta dan daerah lainnya turut menimpa sejumlah #RekanASN. __ Merespon terjadinya bencana alam, termasuk banjir di Jabodetabek, Menteri PANRB Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terdampak banjir diperkenankan mengajukan cuti karena alasan penting. __ Mekanisme pengajuan cuti telah diatur dalam Peraturan Kepala BKN No. 24/2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil (PNS). Secara ringkas, informasi tersebut dapat dibaca pada gambar di atas ya! __________ #KemenPANRB #MenPANRB #TjahjoKumolo #Banjir #CutiASN

A post shared by KEMENTERIAN PANRB (@kemenpanrb) on

4 dari 6 halaman

Gratis Biaya Urus Dokumen Kependudukan yang Hilang Akibat Banjir

Dream - Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil, Zudan Arif Fakrulloh, mengatakan, Kementerian Dalam Negeri akan menggratiskan biaya mengurus dokumen yang rusak atau hilang akibat banjir. Kebijakan ini merupakan pelayanan bagi masyarakat yang sedang terkena musibah.

" Berkenaan dengan musibah banjir ini, banyak dokumen kependudukan yang hilang dan rusak," ujar Zudan dikutip dari Merdeka.com, Jumat 3 Januari 2020.

" Sebagaimana langkah Dukcapil setiap ada bencana seperti gempa NTB, tsunami di Banten dan Lampung, serta Sulteng, dan lainnya, kita langsung bergerak aktif mendata dan mengganti dokumen yang hilang rusak tersebut dengan gratis," tambah dia.

 

 Gratis Biaya Urus Dokumen Kependudukan yang Hilang Akibat Banjir © Dream

 

Menurut Zudan, dokumen kependudukan yang biaya kepengurusannya digratiskan adalah kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK), dan akta lahir. Nantinya, pengurusan dokumen dari warga yang terkena banjir akan dilakukan secara kolektif.

" Nanti akan berikan pelayanan lagi pascabanjir secara kolektif. Sehingga masyarakat tidak perlu datang satu per satu ke RT/RW masing-masing," kata dia.

Untuk itu, Zudan meminta masyarakat segera mengurus dokumen kependudukan mereka yang rusak atau hilang akibat banjir. " Tolong segera dilakukan mulai hari ini atau setelah banjir surut," kata dia.

5 dari 6 halaman

Keluarga Korban Meninggal Akibat Banjir Dapat Santunan Rp15 Juta

Dream - Menteri Sosial, Juliari Batubara memastikan keluarga korban meninggal dunia akibat banjir yang melanda di awal tahun 2020 akan mendapat santunan senilai Rp15 juta dari pemerintah.

Masyarakat yang hendak mengajukan pencairan dana bantuan itu diimbau untuk menyiapkan data-data sesuai persyaratan agar lolos verifikasi dari pemerintah daerah. 

" Kalau dinyatakan clear, confirm, ada suratnya, kita kasih, itu prosesnya cepat sekali lah," ujar Juliari dikutip dari Merdeka.com, Jumat, 3 Januari 2020.

Juliari menyatakan Kementerian Sosial (Kemensos) saat ini terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait jumlah data korban.

Hingga pagi tadi, BNBP merilis jumlah korban meninggal dunia mencapai 43 orang. Rata-rata, korban meninggal dunia akibat terseret aliran air dan tanah longsor.

(Sumber: Merdeka.com/ Muhammad Genantan Saputra)

6 dari 6 halaman

Korban Meninggal Banjir Jabodetabek Bertambah Jadi 43 Orang

Dream - Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi (Kapusdatinkom) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo, mengatakan jumlah korban banjir Jabodetabek terus bertambah.

Berdasarkan data yang diterima BNPB pada Jumat, 3 Januari 2020 pukul 09.00 WIB, tercatat korban meninggal sebanyak 43 jiwa.

" Korban meninggal dunia banjir besar di Jabodetabek adalah 43 jiwa," ujar Agus dalam Keterangan tertulisnya.

Agus menjelaskan penyebab korban meninggal dunia paling banyak disebabkan terseret arus banjir. Jumlahnya mencapai 17 orang.

Penyebab lainnya yaitu tanah longsor 12 orang, hipotermia 3 orang, tersengat listrik 5 orang. Sementara ada 5 korban lain dalam pendataan, 1 hilang.

Berikut jumlah korban meninggal dunia di masing-masing wilayah.

1. Jakarta Pusat: 1 orang
2. Jakarta Barat: 1 orang
3. Jakarta Timur: 7 orang
4. Kota Depok : 3 orang
5. Kota Bekasi: 3 orang
6. Kota Bogor: 1 orang
7. Kota Tangerang: 1 orang
8. Kota Tangerang Selatan: 1 orang
9. Kabupaten Bogor: 16 orang
10. Kabupaten Bekasi: 1 orang
11. Kabupaten Lebak: 8 orang.

Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak
Join Dream.co.id