2 Orang Indonesia Masuk Daftar Sosok Paling Dermawan se-Asia

Dinar | Rabu, 4 Desember 2019 16:12
2 Orang Indonesia Masuk Daftar Sosok Paling Dermawan se-Asia

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Siapa saja?

Dream - Dua pebisnis Indonesia masuk dalam deretan orang paling dermawan di Asia. Keduanya masuk dalam daftar 13th Heroes of Philantrophy yang baru dirilis media bisnis ternama, Forbes.

Mengutip laman Forbes, Rabu 4 Desember 2019, daftar “ 13th Heroes of Philanthropy”. diisi kalangan miliarder, pebisnis, dan selebritis di kawasan Asia Pasifik.

Miliarder India, Azim Premji, tercatat sebagai orang kaya yang paling dermawan. Dia mendonasikan saham Wipro senilai US$7,6 miliar (Rp107,19 triliun) untuk yayasan pendidikan. Yayasan ini bekerja sama dengan 200 ribu sekolah umum India untuk melatih para guru dan menyediakan kurikulum pendidikan yang lebih baik.

Total sumbangan yang diberikan Azim sepanjang hidupnya adalah US$21 miliar atau sekitar Rp296,21 triliun.

Selain itu, ada juga Jack Ma yang baru saja mendapatkan penghargaan Malcom S. Forbes Lifetime Achievement Award. Setelah mundur dari posisi ketua Alibaba, dia meluangkan waktu lebih banyak untuk kegiatan amal di bidang kesehatan, perawatan lansia, dan perlindungan hewan liar.

Dalam daftar ini, ada dua miliarder Indonesia, lho, yang masuk daftar “ pahlawan filantropi”. Siapa saja? Berikut ini adalah daftarnya.

2 dari 6 halaman

Theodore Rahmat

Pendiri Triputra Group ini tercatat mendonasikan dana senilai hampir US$5 juta (Rp70,52 miliar) melalui yayasan amalnya, A&A Rachmat Compassionate Service Foundation. Yayasan ini bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan panti asuhan.

Yayasan tersebut dirilis sejak 1999 sebagai dana beasiswa. Ada 21 ribu penerima sumbangan dan total kontribusi Rachmat mencapai US$12,5 juta (Rp176,31 miliar).

Untuk memastikan penerima bantuan tetap berada di sekolah dan belajar, yayasan ini juga menggelar program latihan tahunan untuk guru SD. Pada 2005, yayasan ini memperluas bidangnya menjadi perawatan kesehatan dengan membangun klinik di daerah pedalaman. Klinik ini mengenakan biaya kurang dari Rp14 ribu untuk sekali kunjungan.

3 dari 6 halaman

Belinda Tanoto dan Anderson Tanoto

Tanoto bersaudara ini memimpin yayasan keluarga yang bernama Tanoto Foundation. Pada 2019, yayasan ini menyumbang senilai US$16,7 juta (Rp233,55 miliar) atau naik 30 persen dari 2018. Sumbangan ini menyasar ke sektor pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi. Sumbangan ini juga membantu menghambat stunting bagi anak-anak Indonesia.

Tercatat Belinda paling aktif di yayasan dan fokus kepada pengembangan anak-anak yang duduk di bangku SD.

Sekadar informasi, Tanoto Foundation telah melatih 15 ribu guru dan memberikan beasiswa di 7.500 universitas.

Sementara itu, Anderson memberikan seperlima waktunya untuk pelatihan program kepimpinan dan memberikan dukungan kepada tujuan pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan oleh PBB.

4 dari 6 halaman

Berharta Rp146 Triliun, Miliarder Ini Doyan Ngutang

Dream - Kalau punya berpikir miliarder tak punya utang dan kaya karena bisnisnya memang sukses, itu salah besar. Karena ada miliarder yang justru punya utang menumpuk.

Dikutip dari Liputan6.com, Senin 2 Desember 2019, orang kaya itu adalah Sun Hongbin. Dia adalah miliarder asal Tiongkok dengan kekayaan mencapai US$10,4 miliar (Rp146,41 triliun).

Tetapi, utang Sun sangat banyak karena kebiasaan bisnisnya yang nekat. Malah, kariernya disebut-sebut laiknya roller coaster, naik turun secara drastis. 

 

 Berharta Rp146 Triliun, Miliarder Ini Doyan Ngutang © Dream

 

Saat perusahaan di Tiongkok mengurangi pinjaman karena ekonomi dunia melambat, Sun malah jor-joran mengeluarkan uang. The Financial Express menyebut orang tajir ini justru membeli tanah bermasalah yang merupakan aset dari Dalian Wanda Group Co., developer yang membangun kawasan bisnis.

Pria ini juga membeli saham senilai US$2,2 miliar (Rp30,97 triliun) dari LeEco. Padahal, perusahaan teknologi dan media ini terancam bangkrut.

5 dari 6 halaman

Hasilnya Mengejutkan

Pembelian saham ini ternyata malah mengerek saham perusahaan Sun naik 212 persen. Tapi, rasio utang perusahaan juga naik hingga 394 persen atau lima kali dari perusahaan lain. Padahal, dia punya 84 persen saham di Sunac China Holdings, yang tidak lain perusahaannya sendiri.

Tak lama kemudian, harga saham Sunac China Holdings turun 1,6 persen. Dampaknya, perusahaan memutuskan penerbitan obligasi sebagai solusi bayar utang.

Meski demikian, analis memprediksi obligasi itu hanya laku US$1 miliar (Rp14,08 triliun).

Yang mengejutkan pertumbuhan top line perusahaan Sun justru mengagumkan. Penjualan properti meningkat dua kali lipat pada 2016 karena pembangunannya terbukti berhasil.

Strategi yang dikembangkan Sun dinilai cerdas oleh beberapa investor sehingga mereka membeli saham Sunac China Holdings.

(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)

6 dari 6 halaman

Harta Miliarder Ini Melayang Rp90 Triliun Gara-Gara Saham

Dream – Hilangnya kekayaan tak selamanya akibat bisnis bangkrut. Kebijakan pemerintah juga bisa membuat seorang miliarder kehilangan harta mencapai triliunan. Nasib apes inilah yang dialami seorang bos perusahana properti, Hui Ka Yan. 

Kekayaan Hui Ka Yan mendadak berkurang 21 persen atau Rp 45 miliar yuan (Rp90,20 triliun). Meski berkurang, Hui masih orang tajir. Kekayaannya saat ini masih mencapai 170 miliar yuan (Rp340,75 triliun).

Dikutip dari South China Morning Post, Kamis 7 November 2019, kekayaan Hui Ka Yan itu hilang setelah harga saham perusahaan, Evergrande, babak belur di bursa saham setempat. Saham Evergrande anjlok sampai 22 persen tahun ini.

 

 Harta Miliarder Ini Melayang Rp90 Triliun Gara-Gara Saham © Dream

 

Ekspansi besar-besaran yang dilakukan perusahaan sebelumnya telah menggerus aset perusahaan properti ketiga terbesar di Negeri Tirai Bambu itu.

Alhasil, kini Evergrand harus mengurangi asetnya untuk meringankan beban utang perusahaan.

Tak hanya dari faktor internal, kinerja Evergrande juga terpukul oleh kebijakan pemerintah yang melarang pembiayaan langsung kepada pengembang yang belum mendapat persetujuan untuk memulai konstruksi. Pembiayaan ini mencakup pasar ekuitas dan surat utang.

Belum lagi pemicu dari kebijakan Partai Komunis China kepada pemerintah yang mendesak untuk tidak lagi menggenjot properti sebagai sarana pendorong pertumbuhan ekonomi.

Terkait
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna
Join Dream.co.id