Tak Perlu Merasa Sepi, Makan Saja Bareng Panda Saat Social Distancing

Culinary | Jumat, 29 Mei 2020 11:48
Tak Perlu Merasa Sepi, Makan Saja Bareng Panda Saat Social Distancing

Reporter : Mutia Nugraheni

Konsep ini diterapkan di berbagai restoran di dunia

Dream - Thailand termasuk negara yang bisa menekan laju pandemi Covid-19 dengan baik. Meski demikian, penerapan social distancing masih dilakukan hingga kini dengan sejumlah protokol kesehatan.

Restoran dan kedai diperbolehkan bukan dan menerima pelanggan untuk makan di tempat. Tempat duduk tapi harus berjauhan. Vietnam Maison Saigon, sebuah restoran Vietnam di Thailand membuat konsep makan yang unik.

Boneka-boneka panda ditempatkan di kursi untuk menjaga jarak sekaligus sebagai 'teman' bagi mereka yang datang untuk makan sendirian. Boneka panda super gemas berukuran besar bakal setia menemani saat pengunjung bersantap.

 Menu di Maison Saigon© Instagram

(Foto: Instagram maison.saigon)

Dari foto yang diunggah di akun Instagram @maison.saigon, panda-panda tersebut dibersihkan secara teratur, didisinfektan bahkan berjemur. Siang harinya mereka bakal ditempatkan lagi di kursi tamu untuk menemani makan para pengunjung.

 

2 dari 7 halaman

Penerapan Sistem di Berbagai Restoran di Dunia

Beberapa restoran di dunia juga telah menerapkan sistem social distancing. Seperti The Moomin Cafe yang ada di Tokyo. Caranya sedikit berbeda, yaitu menaruh boneka Moomin raksasa di kursi untuk tetap menjaga jarak.

 Panda Berjemur© Instagram maison.saigon

(Foto: Instagram maison.saigon)

Lalu di Five Dock Dining Restaurant, Sydney, Australia juga mengisi kekosongan kursi dengan meletakan pajangan kardus berbentuk manusia. Lalu di Washington D.C juga telah menerapkan sistem ini dengan mengisi kekosongan kursi dengan boneka-boneka mannequin.

Selengkapnya baca di sini.

3 dari 7 halaman

Terungkap Alasan Virus Corona di Restoran Wuhan Cuma Menulari Sedikit Pengunjung

Dream - Pada Januari 2020 di sebuah restoran di Guangzhou, China, seorang pengunjung yang terinfeksi virus corona dengan gejala ringan telah menularkan penyakit ini kepada sembilan orang lainnya.

Diduga, pendingin ruangan di dalam restoran tersebut ikut berperan dalam penularan dengan menyemburkan partikel virus corona.

 Restoran© Instagram

Ada 73 pengunjung lain yang makan di lantai yang sama di restoran tersebut pada hari itu. Kabar baiknya, mereka tidak tertular. Begitu juga dengan delapan karyawan yang bekerja di lantai yang sama pada saat itu.

Peneliti China menggambarkan insiden itu dalam sebuah makalah yang akan diterbitkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat dalam jurnal berjudul Emerging Infectious Diseases edisi Juli 2020.

Sayangnya, penelitian tersebut punya banyak keterbatasan. Salah satunya, peneliti China tidak melakukan eksperimen melalui simulasi bagaimana virus corona menjadi aiborne (menular melalui udara).

4 dari 7 halaman

Tantangan Baru bagi Restoran

Meski begitu, ilustrasi dalam jurnal tersebut memunculkan sebuah tantangan baru bagi sebuah restoran jika ingin beroperasi di masa mendatang.

Ventilasi dengan sistem AC ternyata berperan dalam menciptakan pola dan arah aliran udara sehingga virus tetap melayang di udara.

Ketentuan penataan kursi dan meja restoran dalam jarak 2 meter seperti yang direkomendasikan CDC selama ini mungkin tidak cukup untuk melindungi pelanggan restoran dari tertular virus corona.

5 dari 7 halaman

Kebiasaan Masyarakat Saat Makan di Restoran

Kebiasaan masyarakat ketika makan di restoran juga bisa meningkatkan risiko mereka tertular virus corona dengan mudah.

Semakin lama mereka berlama-lama di area yang terkontaminasi, semakin banyak partikel virus yang kemungkinan mereka hirup.

Selain itu, makan juga merupakan salah satu aktivitas yang tidak bisa dilakukan tanpa melepas masker.

Sehingga, droplet berisi virus bisa muncrat ke udara saat orang bernapas dan berbicara, tidak hanya melalui batuk dan bersin.

6 dari 7 halaman

Arah Aliran Udara Jadi Faktor Kunci

Di sisi lain, semua orang yang tertular di restoran tersebut berada di meja yang sama dengan orang yang terinfeksi atau di salah satu dari dua meja di dekatnya.

Fakta bahwa orang-orang yang berada agak jauh dari meja orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala menunjukkan harapan baru bahwa virus corona hanya menular melalui droplet berukuran besar.

Jenis droplet tersebut akan jatuh lebih cepat dalam jarak kurang atau sama dengan dua meter dibandingkan dengan yang berukuran lebih kecil yang disebut aerosol. Droplet berbentuk aerosol ini bisa melayang di udara selama berjam-jam.

" Kami menyimpulkan bahwa ventilasi dengan sistem AC juga berperan dalam penularan droplet dalam wabah ini. Faktor kunci terjadinya penularan berada pada arah aliran udara (dalam restoran)," tulis peneliti China dalam jurnal itu.

7 dari 7 halaman

Langkah yang Harus Dilakukan

Harvey V. Fineberg, yang memimpin Standing Committee on Emerging Infectious Diseases and 21st Century Health Threats di Akademi Sains, Teknik, dan Kedokteran Nasional di AS menyebut temuan peneliti China ini menarik dan cukup mencengangkan.

Dia mengatakan restoran sudah harus memperhatikan arah aliran udara dalam mengatur meja mereka.

Untuk membunuh partikel udara berisi virus, restoran sebaiknya memasang lampu ultraviolet anti-kuman.

" Jurnal tersebut tidak hanya berguna bagi restoran dan tempat hiburan, tapi juga tempat di mana Anda bekerja," kata Fineberg.

(Sah, Sumber: ChicagoTribune.com)

Join Dream.co.id