Minuman Bir `Zero Alkohol`, Halal Atau Haram?

Culinary | Selasa, 23 Februari 2016 09:46
Minuman Bir `Zero Alkohol`, Halal Atau Haram?

Reporter : Eko Huda S

Banyaknya produk-produk `bir zero` itu memunculkan pertanyaan dari sebagian umat Muslim.

Dream - Saat ini banyak beredar merek bir yang mengeluarkan produk -yang diklaim- tidak mengandung alkohol. Sebut saja Green Sands, Bintang Zero, atau Dr. Pepper.

Banyaknya produk-produk " bir zero" itu memunculkan pertanyaan dari sebagian umat Muslim, apakah produk-produk itu sudah bersertifikat halal? Dan apakah halal pula dikonsumsi?

Salah satunya disampaikan oleh Muhammad Vizky Nuralfachri, warga Anyer, Banten, ke Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Terkait pertanyaan itu, LPPOM MUI menyatakan produk-produk seperti Green Sands, Bir Bintang Zero, Guiness Zero, maupun Dr Pepper tidak memiliki sertifikat halal.

Produk-produk itu juga tidak memenuhi syarat untuk diajukan permohonan sertifikasinya ke MUI, mengingat nama dan kandungan bahannya tidak sesuai dengan standar halal yang telah ditetapkan.

Berikut jawaban lengkap LPPOM MUI tentang produk-produk tersebut:

Menanggapi pernyataan Bapak dapat kami jelaskan bahwa Green Sands, Bir Bintang Zero, Guiness Zero, Dr. Pepper tidak memiliki sertifikat halal MUI, dan tidak memenuhi syarat untuk diajukan permohonan sertifikasinya ke MUI, mengingat nama dan kandungan bahannya tidak sesuai dengan standar halal yang telah ditetapkan.

Mengenai penindakan, MUI bukan merupakan lembaga polisional yang dapat serta merta melakukan tindakan hukum terhadap penjual yang ditengarai menjual produk yang tidak halal. Namun, terlepas dari hal itu, MUI terus melakukan sosialisasi dan edukasi akan pentingnya produk yang ber-SH MUI.

Hingga saat ini Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UU JPH) belum diberlakukan, sehingga belum ada kewajiban bagi para pelaku usaha untuk mencantumkan keterangan halal atas produk yang mereka jual. Oleh karena itu, pengawasan terhadap izin peredaran minuman jenis itu menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah.

Atas kondisi tersebut diatas diharapkan konsumen muslim lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi produk, pastikan produk yang dikonsumsi adalah produk yang bersertifikat halal MUI. Demikian penjelasan ini disampaikan. Semoga membantu. Terima kasih. Selengkapnya baca baca di sini.

2 dari 4 halaman

Waspada Pisang Goreng Haram!

Dream - Mungkin Anda akan kaget mendengar kabar bahwa pisang goreng, camilan favorit banyak orang Indonesia, ternyata bisa jadi haram.

Padahal buah pisang sendiri secara alami bersifat halal. Lantas, apa yang menyebabkan pisang goreng menjadi syubhat atau diragukan kehalalannya?

Ternyata, masalahnya terletak pada minyak yang digunakan untuk menggoreng pisang. Minyak goreng bisa jernih dan berwarna kuning keemasan tanpa bau tengik minyak mentah. Hal ini karena minyak goreng telah melalui proses penjernihan. Proses ini melibatkan karbon aktif.

Di industri makanan dan obat-obatan, karbon aktif digunakan untuk menyaring cairan serta menyerap dan menghilangkan warna, bau dan rasa yang tidak diinginkan.

Karbon aktif bisa dibuat dari bahan nabati seperti kayu dan tempurung kelapa yang diolah menjadi arang, maupun dari bahan hewani seperti tulang binatang yang diproses menjadi arang.

" Nah, kalau berasal dari tulang hewan, karbon aktif harus diteliti dulu lewat proses sertifikasi halal. Jangan sampai menggunakan tulang babi," ujar Ir Nur Wahid MSi, seperti dikutip dari situs LPPOM MUI.

Menurut Kepala Bidang Pembinaan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Daerah itu, tulang babi banyak dimanfaatkan sebagai karbon aktif di negara-negara Eropa.

Di sana, stok tulang babi sebagai limbah rumah pemotongan hewan melimpah. Selain itu, tempurung kelapa dan kayu juga sulit didapat.

Karena itu, tentu karbon aktif dari tulang babi jadi lebih murah. Apalagi, di negara-negara Barat umumnya tak ada pertimbangan halal-haram.

Para ulama di Komisi Fatwa (KF) MUI juga telah menetapkan fatwa, tidak boleh ada pemanfaatan babi dalam proses pengolahan produk pangan.

Karena itu, proses sertifikasi halal oleh LPPOM MUI dan penetapan fatwa halal oleh KF MUI adalah usaha memastikan bahan dan produksi pangan, obat-obatan, dan kosmetik benar-benar bebas dari unsur haram menurut syariah.

(Ism, Sumber: LPPOM MUI)

3 dari 4 halaman

Dream - Dalam kemasan makanan terkadang kita menemui kode E. Banyak yang bertanya, apakah arti kode tersebut, dan saat mencari tahu melalui internet banyak informasi yang simpang siur.

Ada yang menyebut bahwa kode E itu berarti bahwa makanan itu mengandung bahan dari babi. Benarkah kode E dipastikan mengandung unsur babi?

Ternyata, kode E atau E-number menurut UK Food Standard Agency merupakan kode untuk bahan tambahan atau aditif makanan yang telah dikaji oleh Uni Eropa.

Memang, terkadang keterangan tentang komposisi bahan yang tertera pada kemasan produk pangan tertentu hanya tertulis dalam bentuk kode saja, E. Padahal dalam peraturan, untuk kepentingan perlindungan konsumen, produsen tidak dibolehkan menginformasikan bahan makanan dalam bentuk kode-E saja.

Penulisan kode E seharusnya disertai keterangan padanan nama bahannya. Supaya tidak terjadi informasi yang menyesatkan. Karena ada orang yang alergi dengan bahan pangan tertentu. Jika dimunculkan dalam bentuk kode-E saja, tidak semua orang bisa mennerjemahkan kode tersebut.

Kode E memang menunjukkan bahan makanan itu kemungkinan bersumber dari hewan, tapi tidak otomatis berasal dari babi. Harus ada sekelompok ahli yang bisa memastikan bahwa bahan-bahan tersebut apakah halal atau haram.

Berkaitan dengan aspek kehalalan, berikut arti kode E sebagaimana dikutip Dream dari laman halalmui.org:

Berkaitan dengan aspek kehalalan, berikut arti kode E sebagaimana dikutip Dream dari laman halalmui.org:

E-100 adalah curcumin merupakan ekstrak kunyit yang berfungsi sebagai pewarna (halal)

E 110 adalah sunset yellow yang merupakan pewarna terutama bagi produk-produk fermentasi yang mendapat perlakuan panas (halal)

E 120 adalah cochineal yang juga merupakan pewarna merah alami yang berasal dari sebuah serangga yang dalam keadaan bunting yang sebenarnya adalah carminic acid. Kehalalannya sangat tergantung wujudnya. Jika cair sangat tergantung pelarut yang digunakan

E 140 adalah chlorophyl adalah pewarna hijau alami yang bisa berasal dari bayam, rumput, dan tanaman lain. Proses ekstraksinya bisa menggunakan pelarut tertentu termasuk etanol. Jika cair, kehalalannya sangat ditentukan sisa pelarut etanol yang terdapat di dalam produk tersebut. Tetapi jika berbentuk bubuk, kehalalannya sangat ditentukan oleh bahan tambahan lain disamping klorofilnya.

E 141 adalah copper complexes of chlorophyl and chlorophyllins halal dengan catatan sama denan E 140

E 153 adalah carbon black yang bisa berasal tanaman atau tulang hewan (bisa saja dari hewan yang tidak halal seperti babi atau hewan sapi, kerbau, yacht yang tidak disembelih secara Islam)

E 210 adalah calcium sorbat (halal) E 213 adalah potasium benzoate (halal)

E 214 adalah calcium benzoate (halal)

E 216 adalah ethyl 4-hydroxybenzoate (halal)

E 234 adalah 2- (thyazol-4-yl) benzimidazole (halal)

E 252 adalah sodium nitrate (halal)

E 270 adalah calcium acetate (halal)

E 280 adalah propionic acid (halal)

E 325 adalah sodium lactate (syubhat, tergantung dari media fermentasi asam laktat yang digunakan)

E 326 adalah potasium laktat (sda)

E 327 calcium lactate (sda)

E 337 (potasium sodium L-(+)-tartrate atau sodium potasium tartrate (halal) ,

E 422 adalah glycerol adalah hasil samping produksi sabun, sehingga harus dipastikan sumber asam lemaknya (bisa saja hewan (mungkin saja babi) atau tanaman, atau dari propilen (halal)

E 430 adalah polioksietilen stearat

E 431 adalah polyoksietilen (40) stearate harus dipastikan sumber asam stearatnya (hewani atau tanaman)

E 432 adalah polioksietilen (20) sorbitan monolaurate (sumbernya bisa hewan atau tanaman)

E 433 polyoksietilen (20) sorbitan mono oleat

E 434 adalah polioksietilen (20) sorbitan monopalmitate

E 435 Polioksietilen (20) sorbitan monostearat

E 436 polioksietilen (20) sorbitan tristearate.

E 470 sodium, potasium dan calsium of fatty acid

E 471 mono dan digleserida

E 472 acetylated mono dan digleserida

E 473 sucrose esters of fatty acid

E 474 sucroglyceride

E 475 polyglycerol ester of fatty acid

E 476 poliglicerol poliricinoleate

E 477 propilen glikol ester of fatty acid

E 478 lactilated fatty acid esters of glycerol and propane -1,2-diol

E 481 sodium stearoyl-2-lactylate

E 482 calcium stearoyl-2-lactilate

E 483 stearyl tatrate

E 491 sorbitan monostearate

E 492 sorbitan tristearate

E 493 sorbitan monolaurate

E 494 sorbitan mono-oleate

E 495 sorbitan monopalmitae

E 570 stearic acid

E 572 magnesium stearate.Semua bahan yang ada asam lemak (fatty acid seperti oleat, stearat, palmitat) nya maka statusnya menjadi syubhat karena ada kemungkinan dari bahan yang haram (bisa dari lemak babi, bisa dari lemak hewan lain, atau lemak nabati).

E 440 amidated pectin (halal),

E 542 edible bone phosphate (berasal dari tulang hewan sehingga ada kemungkinan dari babi)

E 631 sodium 5-inosinate (syubhat, dapat dihasilkan dari ekstrak daging),

E 635 sodium 5-ribonukleotida (syubhat tergantung dari media fermentasi yang digunakan)

E 904 shellac (halal)

4 dari 4 halaman

Nama-nama Lain Daging Babi dalam Makanan

Dream - Masyarakat Indonesia tengah dihebohkan oleh adanya salah satu restoran yang diragukan kehalalannya, lantaran diyakini menyajikan hidangan dengan unsur babi.

Kasus semacam ini tentunya membuat masyarakat muslim khawatir, jika secara tak sengaja mengonsumsi makanan yang mengandung unsur babi di dalamnya.

Nah untuk mengantisipasi hal tersebut, ada baiknya Sahabat Dream kenali beberapa istilah tentang daging babi di dalam komposisi makanan.

Sebagai contoh, banyak yang belum memahami bahwa label yang tertulis " this product contain substance from porcine" , artinya produk tersebut mengandung bahan dari babi.

Begitu juga dengan istilah " the source of gelatin capsule is porcine" , yang artinya kapsul dari gelatin babi.

Nah lebih lengkapnya, berikut ini istilah yang digunakan dalam produk yang mengandung atau menggunakan unsur babi dilansir dari laman Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI): 


PIC

Istilah umum untuk seekor babi atau sebenarnya babi muda, berat kurang dari 50 kg.

PORK
Istilah yang digunakan untuk daging babi di dalam masakan.

SWINE
Istilah yang digunakan untuk keseluruhan kelompok spesies babi.

HOG
Istilah untuk babi dewasa, berat melebihi 50 kg.

BOAR
Babi liar/celeng/babi hutan

LARD
Lemak babi yang digunakan untuk membuat minyak goreng dan sabun.

BACON

Daging hewan yang disalai, termasuk/terutama babi.

HAM
Daging pada bagian paha babi.

SOW
Istilah untuk babi betina dewasa (jarang digunakan).

SOW MILK
Susu babi

PORCINE
Istilah yang digunakan untuk sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi. Porcine sering digunakan di dalam pengobatan/medis untuk menyatakan sumber yang berasal dari babi.

Di tengah-tengah masyarakat juga dikenal istilah-istilah lain yang mengacu pada babi, misalnya charsiu, cu nyuk, mu, chasu, yakibuta, nibuta, B2, dan lain-lain.

Mengetahui istilah-istilah tersebut sangat penting agar Anda tak " terjebak" , mengonsumsi makanan yang mengandung unsur babi secara tak sengaja. 

 

Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam
Join Dream.co.id