Kenapa Makanan Olahan Beri Dampak Buruk

Culinary | Selasa, 18 Juni 2019 06:42
Kenapa Makanan Olahan Beri Dampak Buruk

Reporter : Cynthia Amanda Male

Apakah kamu sering konsumsi makanan olahan?

Dream - Keripik, soda dan pizza cenderung kaya akan gula, garam dan lemak (GGL). Tapi, kini para ilmuwan berusaha memahami, jika ada hal lain yang menjadi alasan mengapa makanan olahan berdampak buruk bagi kesehatan.

Makanan ringan kemasan seringkali diklaim sebagai penyebab meningginya tingkat obesitas di seluruh dunia.

Namun saran untuk membatasi makanan olahan tampaknya tidak membantu. Mengingat betapa mudahnya makanan tersebut dan banyaknya produk yang masuk dalam kategori ini.

 shutterstock

Sementara tiga studi baru-baru ini memberikan lebih banyak bukti, tentang bagaimana jumlah makanan olahan yang semakin meningkat dapat mempengaruhi kesehatan kita.

Mereka juga menegaskan betapa sulitnya ilmu gizi dan saran bisa mengubah pola hidup seseorang. Inilah yang mereka katakan.

2 dari 4 halaman

Uji Klinis

Makanan kemasan murah bisa ditemukan di berbagai tempat. Seperti di pom bensin, bahkan mesin penjual otomatis.

Uji coba klinis yang dilakukan selama empat minggu ini mungkin dapat memperdalam pemahaman, tentang mengapa hal itu mampu memicu obesitas.

Para peneliti di National Institutes of Health membandingkan orang yang mengonsumsi rata-rata 500 kalori ekstra dalam sehari dengan mayoritas makanan olahan, dengan orang yang sama diberi makan sedikit makanan olahan.

Para peneliti mencoba mencocokkan jumlah nutrisi seperti lemak, serat dan gula.

3 dari 4 halaman

Hasilnya

Ke-20 peserta diizinkan makan sebanyak atau sesedikit yang mereka inginkan, dan diperiksa ke klinik sehingga kesehatan dan perilaku mereka dapat dipantau.

Dalam studi lain berdasarkan hasil kuesioner, para peneliti di Perancis membuktikan orang yang makan lebih banyak makanan olahan lebih berpotensi mengidap penyakit jantung.

 shutterstock

Sebuah penelitian serupa di Spanyol membuktikan, mereka yang lebih banyak menyantap menu olahan memiliki risiko kematian lebih tinggi.

Ketika mengonsumsi sedikit makanan olahan, orang-orang dalam penelitian tersebut menghasilkan lebih banyak hormon yang menekan nafsu makan, dan lebih sedikit hormon pemicu rasa lapar.

4 dari 4 halaman

Alasan Biologis

Alasan biologisnya masih belum jelas. Namun, temuan lainnya membuktikan bahwa seseorang mengonsumsi makanan olahan lebih cepat dicerna.

" Makanan olahan cenderung lebih lunak dan lebih mudah dikunyah serta ditelan," kata Kevin Hall, pemimpin penelitian di National Institutes of Health.

Tantangan lain adalah banyaknya jenis makanan olahan, dan membedakan mana yang mungkin lebih baik atau lebih buruk.

Apalagi, kini produsen makanan terus merekayasa produk untuk membuatnya tampak lebih sehat.

 shutterstock

Jadi di samping penelitian terbaru memberi lebih banyak alasan untuk menghindari makanan olahan, mereka juga masih sulit menemukan solusi terbaiknya.

(ism, Sumber: Misskyra.com)

Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone
Join Dream.co.id