Relawan Dompet Dhuafa Berangkat ke Palu Demi Misi Kemanusiaan

Community | Kamis, 25 Oktober 2018 11:15
Relawan Dompet Dhuafa Berangkat ke Palu Demi Misi Kemanusiaan

Reporter : Dwi Ratih

Setiap relawan memiliki cerita tersendiri di setiap keberangkatannya dalam misi kemanusiaan.

Dream - Dalam setiap pekerjaan kemanusiaan, terdapat kisah menarik di baliknya yang begitu inspiratif untuk disimak. Setiap relawan memiliki cerita tersendiri di setiap keberangkatannya dalam misi kemanusiaan.

Banyak dari mereka rela meninggalkan rutinitasnya, berpisah sejenak dengan keluarga di rumah, keluar dari zona nyaman serta melepaskan pekerjaannya demi membantu para pengungsi. Hal inilah yang sedang dialami oleh beberapa relawan dari Dompet Dhuafa.

Dompet Dhuafa© dream.co.id

Dokter Muhammad Syahrimal Ishak salah satunya. Dokter relawan Dompet Dhuafa yang berani melepas kenyamanan sebagai dokter di puskesmas untuk berangkat ke medan bencana.

Kini ia resmi melayani para korban gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi tengah.

“Saya merasa ini adalah panggilan hati untuk menjadi relawan di kawasan bencana. Mungkin ini juga karena cinta, yang menguatkan terjun sebagai relawan. Bismillah,” ucap dr. Muhammad Syahrimal Ishak.

Dompet Dhuafa© dream.co.id

Di sisi lain, Absharina Izzaty sempat mengalami kegundahan hati karena beratnya meminta izin ke mertua. Di sisi lain, ia harus segera menangani trauma masyarakat di pengungsian. Kuatnya keinginan untuk menangani trauma pengungsi, membuatnya penuh yakin untuk misi kemanusiaan ini.

“Alhamdulillah akhirnya saya bisa berangkat sebagai relawan tim Psycological First Aid Dompet Dhuafa dengan beragam upaya izin, dan suami mengijinkan. Dari sanalah (Lombok), saya mendapatkan insight luar biasa bagi kehidupan. Itu yang menambah kebahagiaan saya, bisa berbagi dan bermanfaat untuk orang lain,” tutur Izzaty, berkaca-kaca.

Dompet Dhuafa© dream.co.id

Kemudian ada cerita dari  Narwan, salah satu tim respon Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa harus meninggalkan istri tercintanya untuk membantu proses evakuasi korban gempa dan tsunami di Sulawesi tengah.

Narwan baru saja menikahi istrinya dua hari sebelum keberangkatan. Sebagai pengantin baru, tentu saja ada rasa berat saat meninggalkan sang pujaan hati.

“Kamis pagi saya nikah, terus Jumatnya dapat kabar Palu gempa dan tsunami. Eh, Sabtu Subuhnya, saya sudah harus terbang kesana. Dibilang rindu ya pastilah, tapi alhamdulillah istri sudah memahami pekerjaan ini,” cerita Narwan.

Langkah kebaikan tersebut yang mempersatukan tekad kuat dari dr Imal, Izzaty, Narwan dan ratusan bahkan ribuan relawan lainnya. Atas nama kemanusiaan, mereka bersatu membantu sesama.

Join Dream.co.id