Pelarangan Sampah Plastik, Efektif Atau Tidak?

Community | Rabu, 30 September 2020 12:42
Pelarangan Sampah Plastik, Efektif Atau Tidak?

Reporter : Dwi Ratih

Belum ada pengganti plastik dari segi emisi karbon, fungsi, durabilitas, dan harga.

Dream - Pelarangan penggunaan plastik sekali pakai jadi isu yang marak, setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengetok palu regulasi pelarangan penggunaan plastik sekali pakai untuk kantong berbelanja.

“ Kebijakan ini tentu saja akan berdampak pada aspek lain, seperti tenaga kerja, setidaknya lebih dari 170 ribu orang yang bekerja di industri plastik di Indonesia akan terkena dampaknya jika mentalitas ‘pelarangan’ seperti ini terus dibudayakan,” ujar Wahyudi Sulistya Direktur Kemasan Group, dan Prispolly Lengkong Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia pada Selasa, 29 September 2020.

Sampai saat ini, lanjut Wahyudi, belum ada pengganti plastik dari segi emisi karbon, fungsi, durabilitas, dan harga.

" Setiap hari, kita ini menggunakan plastik karena kita membutuhkannya, ketika larangan penggunaan single-use untuk tas berbelanja disahkan, tas bungkusan pengganti yang saat ini menjadi opsi dan banyak digunakan untuk bungkusan," sambungnya.

Ia juga menyebutkan pengganti plastik seperti spunbound ataupun paper bag pun juga memiliki lapisan plastik Polypropylene atau PP, yang membuat lapisan plastik seperti water-proof.

2 dari 4 halaman

Ada Program Daur Ulang

Yok Yok Ayok Daur Ulang! (YYADU!), sebuah program inisiasi daur ulang keberlanjutan yang dibuat PT Trinseo Materials Indonesia dan juga didukung Kemasan Group pada 2019 silam, melakukan edukasi mengenai kebijakan larangan plastik sekali pakai dari beberapa perspektif.

Sebagian opsi subtitusi kantong plastik, saat ini juga ternyata masih memiliki lapisan plastik, belum lagi, harganya yang juga tidak murah jika dibeli konsumen dibandingkan dengan kantong plastik.

" Lapisan plastik sangat kita butuhkan sehari-hari, apalagi di tengah pandemi. Jika perhatian pemerintah dan masyarakat ada pada sampah single-use plastic, harusnya sampah masker juga menjadi perhatian, yang sekarang sudah menumpuk,” ujar Wahyudi.

“ Artinya, memang solusinya tidak bisa kita larang plastiknya, melainkan waste management,” tutupnya.

 

3 dari 4 halaman

Ilustrasi© Shutterstock

Di kesempatan yang sama, Doktor Jessica Hanafi mengatakan, “ Reusable bags yang dirancang untuk digunakan berkali-kali mempunyai dampak lingkungan yang lebih rendah daripada single-use plastic Polyethylene (PE) bag. Namun tergantung dari jenisnya, reusable bag harus digunakan sampai puluhan kali bahkan lebih dari 150 kali untuk tas dari bahan katun."

Tergantung dari perilaku konsumen, kata Doktor Jessica, jumlah ini bisa saja tidak tercapai.

Sementara itu, untuk material biodegradable dalam praktek manajemen limbahnya harus dikondisikan sedemikian rupa dalam penanganannya agar dapat terurai dalam sistem komposting.

Selain itu, menurut Doktor Jessica, solusi dari masalah sampah lingkungan bukanlah pelarangan, melainkan waste management.

Sudah seharusnya terdapat tata kelola sampah yang baik dari hulu ke hilir, dan ini bisa dicapai melalui kerjasama yang sinergis antara masyarakat, pemerintah dan swasta.

 

4 dari 4 halaman

Dianggap tidak menyelesaikan masalah

Ilustrasi© Shutterstock

Problematika pelarangan penggunaan single-use plastic yang saat ini marak, ternyata dianggap tidak dapat menyelesaikan masalah lingkungan berdasarkan pemaparan para narasumber di atas.

“ Solusi dari masalah ini sudah seharusnya difokuskan kepada pengelolaan sampah dengan prinsip ekonomi sirkular, suatu hari nanti, sampah plastik akan menjadi sangat berharga, karena sudah banyak penelitian dan pengembangan bahkan di Indonesia yang sudah berhasil mengkonversikan sampah plastic apapun menjadi benda berharga lain, termasuk menjadi energi, ataupun BBM,” tutup Wahyudi.

(Laporan: Savina Mariska)

Join Dream.co.id