Cerita Pria Non-Muslim Pertama Kali Ikut Puasa, Kaget Saat Ketahui Ini

Community | Selasa, 13 April 2021 11:01
Cerita Pria Non-Muslim Pertama Kali Ikut Puasa, Kaget Saat Ketahui Ini

Reporter : Cynthia Amanda Male

"Ibu saya Kristen dan ayah Buddha, tetapi mereka memberi saya kebebasan untuk menemukan jati diri saya".

Dream - Bagi banyak ekspatriat non-Muslim yang tinggal di Uni Emirat Arab (UEA), Bulan Suci Ramadan mungkin terasa seperti hari-hari lainnya. Namun tidak demikian bagi Jason Loo Jih Sheng.

Pelatih pribadi berusia 33 tahun yang telah tinggal di UEA selama sembilan tahun ini memilih untuk menjalani puasa satu bulan penuh, meskipun dia bukan Muslim.

Pria campuran Malaysia-Tiongkok ini mengatakan kepada Khaleej Times bahwa sejak pindah ke UEA, ia merasa termotivasi untuk belajar lebih banyak tentang budaya, sejarah dan warisan dari UEA yang unik. Dia juga ingin mengetahui tentang Islam.

Sheng, seorang pelatih pribadi untuk keluarga Al Fahim di Abu Dhabi, mengakui bahwa ia selalu tertarik dengan Islam.

 

2 dari 7 halaman

" Ibu saya Kristen dan ayah Buddha, tetapi mereka memberi saya kebebasan untuk menemukan jati diri saya," katanya.

Dia menganggap bahwa Ramadan akan memberikan kesempatan besar untuknya dalam mengalami apa yang dirasakan oleh jutaan Muslim lainnya di UEA.

" Malaysia juga merupakan negara Muslim, jadi saya mencoba untuk berpuasa ketika saya masih sekolah di sana. Tapi saya tidak bisa melakukannya, karena saya tidak terlalu termotivasi oleh orang-orang dan lingkungan sekitar saya," ujarnya.

3 dari 7 halaman

Tapi di UEA, Sheng merasa memiliki motivasi yang kuat untuk berpuasa. Sheng mengakui meskipun puasa tidak mudah baginya, namun pengalamannya telah memberinya kepuasan.

" Sebagai seorang pelatih pribadi, sulit sekali berpuasa, karena saya terbiasa memiliki diet yang diprogram, jadwal rutin, dan mempertahankan gaya hidup sehat.

" Tapi itu semua tentang perasaan mendapatkan kepuasan yang saya alami setelah berpuasa dengan tegukan pertama dari air yang saya minum saat berbuka. Itu sangat berarti bagi saya," katanya.

Sheng mengatakan keluarga tempat ia bekerja sebagai pelatih pribadi juga telah memotivasi dan mendorongnya untuk belajar tentang Islam.

" Lingkungan keluarga itu tinggal memiliki sebuah masjid, dan ada guru Islam yang selalu menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Mereka memperluas pandangan saya."

4 dari 7 halaman

Sheng juga menikmati waktu berbuka. Bukan hanya karena ia akhirnya bisa melahap hidangan khas Emirat, tapi dengan berbuka puasa, dia bisa berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang budaya dan agama.

" Saya suka duduk dengan majikan saya di majlis dan berbuka puasa dengan mereka. Kami berkumpul untuk menghargai makanan yang kami terima."

Sheng menganggap sepuluh menit terakhir sebelum waktu berbuka sebagai saat-saat yang istimewa, karena dia dan orang-orang dalam majlis saling membantu mempersiapkan meja untuk berbuka puasa.

Dia mengatakan bahwa Ramadan bukan hanya tentang puasa, tetapi juga tentang menyediakan bantuan untuk mereka yang membutuhkan.

" Meskipun saya tidak dilahirkan Muslim, saya memutuskan untuk berpuasa karena saya ingin memahami bagaimana rasanya. Lagi pula, Anda tidak pernah tahu apa yang akan orang-orang rasakan kecuali jika Anda berbagi pengalaman mereka."

(Sumber: khaleejtimes.com)

5 dari 7 halaman

Anaknya Mualaf Jalani Puasa, Tindakan Ayah Non-Muslim Bikin Haru

Dream - Setiap orangtua tentu ingin anaknya menjadi pemeluk agama yang sama dengannya. Kebanyakan ayah atau ibu takkan rela jika anaknya -apalagi masih usia kecil- menganut agama berbeda.

Tetapi, kisah Lim Hun Kheng, 44 tahun, asal Malaysia, cukup menginspirasi. Alih-alih marah dan memusuhi, Lim justru memberi dukungan penuh kepada anaknya, Mohammad Firdaus Hong Abdullah, 12 tahun, yang telah menjadi mualaf.

" Saya tidak pernah menghalangi Firdaus memeluk Islam, saya beri dukungan dan semangat sebagai seorang ayah," ujar Lim, dikutip dari Berita Harian.

Saat Ramadan seperti saat ini, Lim tak pernah lupa membangunkan anaknya untuk makan sahur. Meski berbeda agama, dia ingin anaknya taat pada perintah Tuhan.

Lim juga ingin Firdaus tumbuh menjadi anak yang sholeh. Dia pun selalu mengingatkan anaknya agar menyempatkan diri menuntut ilmu agama Islam di sela aktivitas belajarnya yang padat.

6 dari 7 halaman

Usai sahur, dia selalu memastikan anaknya sholat Subuh. Setelah itu, Lim mengantarkan Firdaus ke sekolah umum pagi hari dan Kelas Agama dan Fardlu Ain, semacam madrasah diniyah, saat hari menjelang petang.

" Meskipun kegiatan hariannya padat, saya tetap ingin Firdaus bisa mendalami agama Islam dan dia memang berteman dan belajar agama dengan keluarga angkatnya," ucap Lim.

Selanjutnya, Lim mengatakan anaknya memang sudah tertarik menjadi Muslim sejak duduk di bangku kelas I. Menurut dia, Firdaus selalu meraih nilai cemerlang di mata pelajaran Agama Islam.

" Dia selalu dapat nilai A dalam ujian Pendidikan Islam. Saya dan bersama guru-gurunya mengantarkan Firdaus ke pejabat agama Islam Daerah Kubang Pasu untuk memenuhi keinginannya memeluk Islam," ucap Lim.

7 dari 7 halaman

" Saya memang tidak keberatan, justru mengizinkan dia masuk Islam, karena dia punya minat mendalam pada Islam," lanjut dia.

Sementara, Firdaus mengaku sangat gembira menyambut datangnya Ramadan. Dia sangat ingin sholat Tarawih di masjid atau mushola bersama teman-temannya.

Setiap kali petang hari, sang ayah menjemputnya di KAFA dan mengajaknya ke bazar Ramadan. Di sana, sang ayah akan membelikan makanan kegemarannya, ayam bakar.

" Itu kegiatan yang saya tunggu di bulan Ramadan namun yang lebih penting sejak memeluk Islam, saya sudah mendapat jawaban atas pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran saya sebelumnya, yaitu bagaimana manusia tercipta dan dari mana asalnya." kata Firdaus.(Sah)

Join Dream.co.id