Ini Dampak Buruk Teknologi Autonomous untuk Pengemudi

Automotive | Kamis, 18 Juli 2019 15:12
Ini Dampak Buruk Teknologi Autonomous untuk Pengemudi

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Penelitian mengungkap fakta mengerikan tentang dampak teknologi autonomous bagi para pengemudi.

Dream – Belakangan ini, produsen otomotif getol mengembangkan teknologi autonomous. Tapi, tahukah kamu bahwa teknologi ini bisa membuat keterampilan mengemudimu memburuk?

Dikutip dari Auto Evolution, Kamis 18 Juli 2019, sebuah studi yang dilakukan oleh University of Nottingham, Inggris, mengungkapkan bahwa pengemudi terlalu banyak bergantung dengan teknologi autonomous. Ketika diminta tidak menggunakan teknologi ini, mereka cenderung lamban membuat keputusan.

Penelitian ini mengamati 49 pengemudi dari beragam usia dan jenis kelamin, lalu diminta untuk mengendarai otomatis selama setengah jam per hari selama lima hari berturut-turut.

Hasilnya, pengemudi menjadi lebih puas ketika mengemudi secara driveless. Tapi, ketika diminta kembali ke mode manual, respons pengemudi jadi lebih lambat dan membuat kesalahan yang buruk.

Pada hari pertama penelitian, pengemudi diberi tahu bahwa mereka akan mulai dalam mode manual, kemudian beralih ke otonom setelah mencapai jalan tol. Mereka juga akan menerima peringatan mendapatkan head up 60 detik untuk kembali ke mode manual.

Pada hari pertama, mereka mengambil kendali atas mobil. Tapi, pengemudi-pengemudi ini melakukan kesalahan, seperti bablas sejauh 2 meter, kecepatan bervariasi, dan berbelok melintasi jalur.

Pada hari terakhir, mereka memiliki waktu respons lambat ketika mengambil kembali mobil. Responden memerlukan waktu untuk kembali beraksi saat terjadi keadaan darurat.

2 dari 7 halaman

Ada Kekhawatiran

Peneliti kajian itu, Gary Burnett, David Large, dan Davide Salanitri, mengatakan bahwa kekhawatiran utama adalah pengemudi bisa kikuk ketika beralih dari otonom ke manual. Sebab, saat teknologi ini diaktifkan, para pengemudi tak diharuskan ikut memantau, membuat keputusan, atau memberikan input fisik untuk tugas mengemudi.

“ (Teknologi) ini mengurangi persepsi dan pemahaman tentang elemen dan perisitwa di lingkungan serta kemampuan untuk memproyeksikan masa depan dari kesadaran situasional,” kata para peneliti.

Direktur RAC Foundation Steve Gooding, mengatakan membawa mobil autonomous di jalan umum menjadi tantangan terbesar. Kalau kendaraan ini diizinkan mengaspal di jalan umum, desainernya harus menerapkan konsep pengemudi dilibatkan atua diminta mengambil alih kendaraan. 

3 dari 7 halaman

Indonesia Ketinggalan, Malaysia Siap Kembangkan Mobil Nirsopir

Dream – Perkembangan industri otomotif di Malaysia lebih maju daripada Indonesia. Setelah mengembangkan mobil nasional, Malaysia siap melangkah ke jenjang yang lebih tinggi: mobil nirsopir.

Dikutip dari Paultan, Rabu 23 Januari 2019, Malaysia Autotomotive Roboitics dan IoT Institute (MARii) memberikan beberapa rincian tentang autonomous vehicle test bed (AVTB). Teknologi kendaraan nirsopir ini akan dikembangkan pada tahun ini.

CEO MARii, Datuk Madani Sahari, mengatakan rencananya pihaknya akan menguji berbagai teknologi yang berkaitan dengan kendaraan otonom. Mereka akan menyesuaikan teknologi ini dengan infrastruktur dan lingkungan di Malaysia.

“ Kami akan menguji semua teknologi ini untuk memastikan kendaraan ini aman dan dapat diandalkan sesuai dengan lingkungan di Malaysia,” kata Madani.

 

 Indonesia Ketinggalan, Malaysia Siap Kembangkan Mobil Nirsopir

 

Dia mengatakan MARii akan bekerja sama dengan kementerian dan lembaga lain seperti Futurise, GreenTech, Departemen Transportasi Jalan, dan Institut Riset Keselamatan Jalan Malaysia untuk mendirikan lembaga pengujian di Cyberjaya.

Lembaga ini bertujuan untuk memulai tes dalam dua tahap tahun ini, yaitu tahap perencanaan pada paruh pertama 2019 dan tahap kedua adalah pengujian.

“ Kami telah mengunjungi fasilitas test-bed yang sama di tempat lain, termasuk Singapura, Eropa dan Jepang,” kata dia.

Sekadar informasi, kendaraan nirsopir merupakan aspek yang akan dimasukkan ke dalam tinjauan yang akan datang dari Kebijakan Otomotif Nasional, termasuk kendaraan listrik.

4 dari 7 halaman

Ngeri, Mobil Nirsopir Bisa Dibajak Hacker?

Dream – Mobil nirsopir menjadi salah satu tunggangan yang tengah dikembangkan oleh produsen otomotif. Tentunya, mereka juga mengetes teknologi yang digunakan untuk mobil ini.

Apalagi untuk unsur keamanannya. Dikendalikan sepenuhnya oleh teknologi buatan, pembuat mobil nirsopir tentu tak ingin ciptannya disusupi peretas.

Kalau sistem komputernya dibajak, mobil ini akan berubah menjadi senjata.

Dilansir dari Carscoops, Selasa 18 September 2018, Chief Executive Blackberry, John Chen, mengatakan mobil autonomous bisa dibajak dan bisa berubah menjadi mobil membahayakan. Chen menjelaskan mobil tanpa sopir memiliki lebih banyak kode dibandingkan pesawat jet tempur. Kode-kode itu membuka peluang bagi para peretas untuk mengacau.

“ Sebuah mobil bisa dengan mudah terinfeksi virus dan pada dasarnya penuh senjata. Kalau peretas bisa menguasainya, kamu bisa membayangkan apa yang akan dilakukan,” kata dia.

Chen mengatakan saat ini Blackberry sedang mengembangkan teknologi mobil driveless dan bekerja sama dengan peramban internet, Baidu. Pihaknya juga masih mewaspadai risiko mobil tanpa sopir.

“ Saya bisa membuat mobil yang 90 persen bebas virus. Tapi, setelah mengaspal dan digunakan, mobil ini harus dicek rutin,” kata dia.

5 dari 7 halaman

Asuransi, Salah Satu Tantangan Driveless Car

Chen mengatakan masih banyak tantangan yang harus diatasi sebelum kendaraan swakemudi menyapa konsumen.

“ Peraturan dan teknologi keamanan perlu ditetapkan dengan baik sebelum mengizinkan mobil ini di jalan. Mobil itu masih memiliki banyak kesalahan manusia dan kontrol keamanan,” kata dia.

Mobil driveless juga akan menjadi tantangan bagi perusahaan asuransi dan anggota parlemen. Mereka mempertanyakan pihak yang akan bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan. 

6 dari 7 halaman

Indonesia Tertinggal, Malaysia Jajal Mobil Tanpa Pengemudi

Dream – Kalau Indonesia heboh dengan mobil listrik, Malaysia sudah selangkah di depan. Negeri jiran itu telah menguji mobil autonomous berteknologi 5G.

Dikutip dari Paultan, Senin 22 April 2019, mobil autonomous yang digunakan adalah Proton Exora. Proton menggandeng perusahaan teknologi Celcom untuk membuat mobil “ pintar” itu.

Perdana Menteri Malaysia, Tun Mahathir Mohamad, dan Menteri Komunikasi dan Multimedia, Gobind Singh Deo, menjajal mobil Proton Exora.

 

 Indonesia Tertinggal, Malaysia Jajal Mobil Tanpa Pengemudi

 

Mobil autonomous ini dibekali dengan kamera, radar, dan sensor LIDAR untuk mendeteksi lingkungansekitar. Teknologi ini terhubung dengan sistem dari eMooVit Technology—startup yang fokus kepada teknologi autonomous yang berbasis di Singapura. Sistem ini bisa mengizinkan mobil untuk “ berjalan” sendiri.

Tapi, pengemudi tetap harus berada di balik setir. Setir dan pedal tak bisa dilepas dari kabin.

7 dari 7 halaman

Terhubung ke Server Pusat

Tak hanya itu, sistem ini juga terhubung ke server pusat untuk memastikan mobil ini bisa memberikan informasi pemetaan.

Komunikasi kendaraan ini berjalan dua arah. Sistem akan mengirimkan pembaruan yang bisa bermanfaat bagi kendaraan lain, seperti penghalang atau bahaya di jalan.

Komunikasi seluler vehicle to everything ini bergantung kepada data seluler. Kecepatan yang ditawarkan konektivitas 5G menjadi relevan.

Kalau ada masalah di jaringan, mobil akan mengandalkan sistem onboard alias pengemudi mengambil alih. Karena ini adalah mobil uji coba, tombol darurat sangat penting agar pengemudi bisa mengambil alih mobil sepenuhnya.

Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi
Join Dream.co.id