Nasib Regulasi Mobil Listrik Indonesia

Automotive | Rabu, 20 Februari 2019 06:45
Nasib Regulasi Mobil Listrik Indonesia

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Menperin mengatakan konsultasi dengan DPR baru bisa dilakukan setelah masa reses berakhir.

Dream - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, mengatakan, Peraturan Presiden (Perpres) mengenai mobil listrik belum bisa terbit. Pemerintah masih menunggu konsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

" EV (electric vehicle) kan masih kami tunggu konsultasi dengan DPR," ujar Airlangga, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 19 Februari 2019.

Menurut Airlangga, saat ini DPR sedang dalam masa reses. Setelah reses, konsultasi baru bisa dijalankan.

Airlangga berharap pembahasan aturan tersebut segera terbit. Tetapi, dia tidak dapat memastikan kapan ketentuan yang mengatur kendaraan berbasis energi listrik ini terbit. " (Terbit) setelah reses DPR," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/ Septian Deny

2 dari 4 halaman

Jalanan Indonesia di 2025 Bakal Dipenuhi Mobil Listrik?

Dream – Pemerintah menargetkan kendaraan bermotor listrik, baik sepeda motor maupun mobil, bisa diproduksi secara penuh pada 2025. Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan infrastruktur dan fasilitas fiskal untuk mendukung upaya masuk ke dalam industri kendaraan bermotor listrik.

“ Sepeda motor listrik kan salah satu, kalau sepeda motor kan dalam arti secara praktek lebih sederhana dan kita sampaikan target dalam 2025 baik itu motor maupun mobil itu 20 persen secara keseluruhannya menggunakan listrik,” kata Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, di Jakarta, dikutip dari setkab.go.id, Selasa 15 Januari 2019.

Airlangga mengatakan pemerintah sedang menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk kebijakan fiskalnya plus persyaratan-persyaratan siapa yang eligible memenuhi syarat untuk menggunakan fasilitas tersebut.

Pada tahap awal, insentif yang diberikan adalah bea masuk 0 persen untuk kendaraan listrik dan selanjutnya pajak Pajak Pembelian Barang Mewah (PpnBM).

Dia juga mengatakan pemerintah terbuka terhadap pemegang merek kendaraan motor dari luar negeri yang akan masuk ke Indonesia.

Karena tahap awalnya pasti akan dimulai dengan bea masuk 0 persen untuk kendaraan berbasis electric vehicle ini. Kemudian PPnBM-nya juga diturunkan. Ketentuan ini berlaku untuk mobil hybrid atau electric vehicle.

“ Yang dibuka adalah sistem dan fasilitas apakah itu mau pemegang merk atau merk baru itu semua terbuka,” kata Airlangga.

Ketika ditanya tentang penyelesaian regulasi, Airlangga mengatakan aturan ini baru rampung kalau sudah berkonsultasi dengan menteri keuangan dan Komisi XI DPR RI.

“ Produksi belum (bisa) 2019,” kata dia.

Namun, lanjut Airlangga, sudah ada produsen yang membuat motor listrik dengan berbagai merek. Kalau regulasinya sudah jelas, produksinya akan dipacu.

“ Ya, Insya Allah dalam waktu dekat,” kata dia.

3 dari 4 halaman

Aturan Mobil Listrik Tinggal Tunggu Tanda Tangan Jokowi

Dream – Pemerintah terus mendorong percepatan realisasi proyek mobil listrik. Saat ini, aturan terkait proyek mobil listrik ini tinggal menunggu tanda tangan Presiden Joko Widodo. 

“ Sudah di Sekretariat Negara. Tinggal tanda tangan. Kami harapkan dalam waktu dekat, sudah keluar,” kata Direktur Teknik dan Lingkungan Ketanagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Munir Ahmad di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Kamis, 25 Januari 2018.

Menurut Munir, salah satu hal yang diatur dalam beleid ini adalah tugas-tugas kementerian terkait dan PT PLN (Persero) untuk mendorong percepatan mobil listrik.

 Ketika Jokowi Jajal Mobil Listrik Buatan Anak Bangsa

“ Setiap kementerian punya tugas masing-masing, Kementerian Perindustrian apa (tugasnya), Kementerian Perdagangan apa, dan kami apa. Kemudian, PLN menyiapkan SPLU-nya,” kata dia.

4 dari 4 halaman

Lagi Tren, Produsen Otomotif Ini Malah Malas Pakai Istilah Mobil Listrik

Dream – Divisi mobil Ford Motor Company, Lincoln, bakal menghadirkan Lincoln Aviator generasi kedua pada 2020. Lincoln Aviator generasi dua ini merupakan mobil plug in hybird yang menggunakan baterai dan BBM sebagai bahan bakarnya.

Alih-alih menyebut mobil ini sebagai PHEV (plug in hybird electriv vehicle), produsen mobil asal Amerika Serikat ini justru menyebut mobil ini dengan sebutan Grand Touring.

“ Sederhananya, apa yang dilakukannya sehingga membuat kendaraan lebih menarik untuk dikendarai. Ini adalah definisi paling murni dari Grand Touring,” kata Kepala Pemasaran Lincoln, Robert Parker dikutip dari Carbuzz, Rabu 5 November 2018.

Parker mengatakan perusahaan memang ingin mengubah citra mobil ramah lingkungan menjadi menyenangkan.

Alasan lain mereka enggan menggunakan kata listrik untuk mobil hybird agar lebih menarik minat masyarakat. Dikatakan bahwa masyarakat menyukai kata-kata yang artinya tak diketahui.

Sekadar informasi, Aviator Grand Touring ini memiliki dua mode pengendaraan, yaitu Pure EV dan Preserve EV. Mobil pure EV hanya menggunakan motor listrik, sedang Preserve EV menggunakan V6. Perpaduan motor listrik dan mesin twin turbo V6 berkapasitas 3,6 liter akan menyemburkan daya 450 Tk.

Representasi Feminisme Versi Barli Asmara
Join Dream.co.id