Prajurit TNI AD Ciptakan Ban Anti Kempes dan Tahan Peluru

Automotive | Jumat, 4 Desember 2020 17:12
Prajurit TNI AD Ciptakan Ban Anti Kempes dan Tahan Peluru

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Ide ban tersebut mengadopasi ban serupa yang dipakai di kendaraan militer AS

Dream – Politeknik TNI AD mensyaratkan mahasiswa tingkat akhir untuk membuat tugas akhir khusus jika ingin mendapatkan gelar Sarjana Sains Terapan. Salah satunya adalah menciptakan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) yang mendukung tugas operasi militer perang.

Dari beberapa karya mahasiswa akhir, seorang prajurit TNI menciptakan ban anti kempes.

Dikutip dari Liputan6.com, Jumat 4 Desember 2020, ban khusus itu diciptakan oleh Letnan Dua Farid Hendro Wibowo dan kawan-kawan. Mereka menciptakan ban mobil yang diadopsi dari ban tanpa udara pada mobil rantis tentara Amerika.

Farid mengaku mengadopsi ban tanpa udara yang digunakan pada mobil rantis tentara Amerika.

“ Kalau modelnya itu kita ambil contoh dari luar memang, dari ban michelin. Kalau desain, ukuran distribusi daya dan sebagainya itu dari kita sendiri. Istilahnya idenya dari luar tapi kalau bahan dari sini," ujar dia di Poltekad Malang, Jawa Timur.

2 dari 5 halaman

Konsultasi dengan Pakar

Sejak 2017, Farid mencari tahu material dari bahannya itu. Dia pun berkonsultasi bersama para pakar atau praktisi-praktisi di Malang.

Dia berhasil menemukan tiga komponen penting yakni velg dari baja campuran, jari-jari menggunakan polyurethane, dan bagian tapak menggunakan natural rubber dan serat nylon.

“ Kita riset memang dari nol, kita campur beberapa raw material. Kita uji, kalau tidak kuat maka kita teliti lagi. Sampai ketemu komposisi yang pas,” kata Farid.

(Sumber: Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

3 dari 5 halaman

Tekanan Angin Ban Mobil Niaga Enggak Boleh Luput dari Perhatian

Dream – Kecelakaan truk oleng, terguling, dan kehilangan kendali, masih kerap terjadi. Berdasarkan data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), ada 80 persen kecelakaan, baik mobil pribadi maupun niaga, disebabkan oleh ban kempis atau pecah.

Peristiwa nahas ini dipicu oleh berbagai hal, seperti muatan yang berlebih dan gaya mengemudi yang kurang baik.

Namun, sebenarnya, penting mengetahui apa yang membuat ban bereaksi dengan kondisi tersebut, yaitu dengan memahami cara kerja tekanan angin pada ban. Ban dapat mengalami kerusakan hingga pecah jika digunakan dengan tekanan angin yang tidak sesuai dengan muatan beban dan kecepatan mengemudi.

 

Tekanan Angin Ban Mobil Niaga Enggak Boleh Luput dari Perhatian© Dream

 

National Sales Manager Hankook Tire Sales Indonesia, Ahmad Juweni, menganjurkan pengemudi kendaraan niaga untuk memperhatikan dan memeriksa tekanan angin pada ban secara berkala. Tujuannya untuk memastikan keamanan berkendara.

“ Pemeliharaan tekanan angin sangat berpengaruh terhadap kinerja ban, kestabilan mengemudi, kemampuan pengereman yang lebih baik, bahkan penggunaan bahan bakar yang lebih hemat,” kata Ahmad di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis Hankook Tire Sales Indonesia, Jumat 23 Oktober 2020.

4 dari 5 halaman

Sesuaikan Tekanan Angin dengan Muatan

Ada tiga tips yang bisa dilakukan untuk memastikan ban kendaraan niaga aman. Pertama, menyesuaikan tekanan angin dengan berat muatan yang diangkut. Pengemudi truk maupun manajer armada harus memastikan bahwa tekanan angin sudah sesuai dengan beban yang diangkutnya.

Usahakan untuk tidak memberikan tekanan angin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Ban dengan tekanan angin terlalu tinggi dapat menyebabkan aus di bagian tengah, serta membuat ban lebih mengembang secara tidak wajar, sehingga mudah pecah jika terkena benturan.

Daya cengkram ban juga akan berkurang dan membuat kendaraan terasa melayang saat laju kendaraan tinggi di jalan tol. Ini yang membuat truk sulit dikendalikan dan berpotensi pada kecelakaan.

Selanjutnya, ban yang diisi dengan tekanan rendah juga akan menyebabkan keausan pada bagian sisi ban (shoulder). Ban dengan tekanan angin rendah dapat mengalami kerusakan separation (lapisan ban terlepas). Tekanan angin yang rendah membuat laju kendaraan semakin berat, sehingga membuat mesin bekerja lebih keras dan menurunkan efisiensi bahan bakar.

“ Pengemudi kerap kali menyepelekan tekanan angin pada ban, padahal nyawa ban sendiri terletak dari tekanan angin yang ideal. Secara umum, jika beban muatan lebih besar dari standar, maka, tekanan angin harus ditambah dan kecepatan harus dikurangi,” kata Ahmad.

5 dari 5 halaman

Periksa Tekanan Angin Setiap Dua Minggu Sekali

Kedua, usahakan untuk memeriksa tekanan angin setiap 2 minggu sekali atau setiap akan melakukan perjalanan. Sebaiknya pengecekan tekanan angin dilakukan saat suhu ban sedang dingin.

Saat suhu panas, tekanan angin sedang meningkat sehingga pembacaan tekanan angin menjadi tidak akurat. Selain itu, alat ukur tekanan angin (pressure gauge) perlu diperhatikan keakuratannya dengan melakukan kalibrasi secara berkala.

Ketiga, perhatikan juga kondisi telapak dan dinding samping ban. Jika ditemukan batu-batu atau benda tajam yang menyelip di antara telapak ban, lepaslah untuk menghindari kerusakan atau kebocoran ban. Jika ada luka pada telapak ban karena paku atau benda tajam lainnya, segera lepas ban dan perbaiki untuk menghindari kerusakan yang lebih serius.

Join Dream.co.id