Cara Membedakan Cairan Rem DOT3 dan DOT4

Automotive | Jumat, 12 Juli 2019 16:24
Cara Membedakan Cairan Rem DOT3 dan DOT4

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Ada banyak jenis cairan rem di pasar, misalnya DOT3 dan DOT4.

Dream – Banyak orang salah kaprah tentang cairan rem. Mereka sering menyebut cairan rem sebagai minyak. Padahal, cairan yang dimaksud ini bisa menyatu dengan air biasa, bukan minyak.

Selama ini pemilik kendaraan mengenal cairan di pasar berstandar DOT3 dan DOT4. Namun tahukah kamu apa perbedaan kedua jenis cairan REM ini?

Dikutip dari OTO.com, Jumat 12 Juli 2019, pada dasarnya, standar DOT3, DOT4 dan seterusnya, terbuat dari bahan yang dapat menyerap air dan uap air (kelembaban) atau juga bersifat higroskopis.

Yang membedakannya adalah bahan kimia yang dikandung dan titik didihnya.

Tidak selamanya DOT 4 bekerja maksimal jika dipakai pada rem yang merekomendasikan DOT 3. Jika kamu sengaja memasukkan cairan yang bukan standarnya, komponen rem bisa rusak.

Quality Control and Research&Development Manager Autochem Industry, Inge Harsono, menjelaskan spesifikasi dua cairan ini berbeda dan penggunaannya tak boleh sembarangan.

Untuk cairan rem DOT4 titik didih tertinggi mencapai 255 dereajat Celsius, sementara DOT3 245 derajat Celsius. DOT4 sedikit lebih baik.

Misal selama pemakaian cairan DOT3, bisa tercampur air sebanyak 3 persen yang terjadi dalam tempo 1 tahun saja. Ini dapat menyebabkan titik didih turun dari 255 derajat Celcius menjadi hanya 145derajat Celcius. Artinya, cairan rem lebih mudah mendidih. Kita tahu air memiliki titik didih 100 derajat Celcius.

“ Ini berarti kandungan air dalam cairan rem mendidih lebih dahulu dan berubah menjadi uap air yang membentuk gelembung udara,” kata dia.

2 dari 6 halaman

Gelembung Udara Ini Bahaya

Inge menambahkan gelembung ini berbahaya karena mengurangi kemampuan cairan rem untuk menyalurkan tekanan rem yang mendorong kampas rem. Padahal kinerja sistem pengereman, sangat bergantung pada kemampuan cairan rem menekan kampas.

Jika terlalu lama tak diganti, kampas tidak bekerja. Ini yang disebut gejala rem blong. Jika spesifikasi kendaraan kamu bisa memakai DOT3/DOT4, sebaiknya gunakan DOT4 lantaran titik didihnya lebih baik.

Kemudian soal warna. Hanya di Indonesia yang memiliki cairan rem berwarna merah. Warna merah ini disukai karena lebih mudah untuk dikontrol apakah cairannya habis atau tidak.

“ Tapi ada juga konsumen yang suka warna bening, karena untuk menentukan apakah cairan masih berkualitas atau tidak. Biasanya kalau cairan jelek, warnanya keruh dan sedikit hitam. Ini lebih soal selera saja," tambahnya.

3 dari 6 halaman

Biasakan Kuras Cairan Rem Setahun Sekali

Karena itu, sebaiknya membiasakan menguras cairan rem setidaknya satu tahun sekali atau setiap 20 ribu km pada mobil dan 10 ribu km pada motor. Saat memeriksanya, sebaiknya kamu cek pula kondisi seal, piston dan kaliper rem.

Pengecekan rutin ini tidak memakan biaya besar, namun besar manfaatnya buat keselamatan kita.

Cara penggantian cairan rem yang baik adalah dengan mengurasnya. Seluruh cairan rem disedot dari bagian pangkal atau paling dekat dengan kaliper rem, bukan dari master rem.

Jika malas ke bengkel, sebetulnya bisa kamu lakukan sendiri. Cukup sediakan penyedot dan alat bantu suntik.

4 dari 6 halaman

Jangan Sepelekan Spesifikasi Minyak Rem!

Dream – Salah satu komponen vital di kendaraan adalah sistem pengereman yang berguna untuk memperlambat atau menghentikan kendaraan. Kalau diabaikan, kecelakaan yang mengancam jiwa adalah risiko terbesar.

Dikutip dari Auto2000, Jumat 24 Mei 2019, penting bagimu untuk mempertahankan perangkat pengereman. Salah satunya dengan mengganti minyak rem setiap dua tahun atau ketika jarak tempuh kendaraan sekitar 40 ribu kilometer (km).

Kalau ada cairan lain dalam kendaraan, seperti air radiator, gagal berfungsi, kamu dapat diingatkan melalui lampu indikator. Tapi, indikator ini tak ada di minyak rem.

Padahal, minyak rem yang gagal berfungsi bisa membahayakan jiwa pengendara. Kamu juga tidak tahu apakah minyak rem masih bekerja maksimal atau sudah turun performanya.

Tetapi indikator ini tidak ada di minyak rem.

Padahal jika cairan rem gagal berfungsi maka keselamatan jiwa dipertaruhkan lantaran Anda tidak tahu apakah minyak rem masih bisa bekerja maksimal atau sudah turun performanya.

5 dari 6 halaman

Perhatikan Titik Didih Minyak

Makanya penting untuk melakukan pemeliharaan sistem rem, terutama minyak rem. Begitu ada kandungan air dalam minyak rem, maka performa pengereman bakal menurun.

Cairan rem akan menyerap kadar air dari udara, sehingga setiap dua tahun harus diganti karena kandungan air dalam minyak rem akan mengurangi titik didih minyak dan mengganggu pengereman.

Untuk itu, minyak rem yang Anda pilih harus punya titik didih yang tinggi. Kalau tidak, minyak rem bisa gagal beroperasi karena timbul buih gelembung akibat suhu tinggi.

6 dari 6 halaman

Harus Punya Aditif Anti Karat

Yang tak kalah penting, minyak rem harus punya aditif anti karat. Kandungan ini bisa melindungi sistem pengereman dari serangan karat yang bisa mengakibatkan kebocoran di pipa minyak rem.

Makanya penting untuk melakukan pemeliharaan sistem rem, terutama minyak rem. Begitu ada kandungan air dalam minyak rem, maka performa pengereman bakal menurun.

Cairan rem akan menyerap kadar air dari udara, sehingga setiap dua tahun harus diganti karena kandungan air dalam minyak rem akan mengurangi titik didih minyak dan mengganggu pengereman.

Untuk itu, minyak rem yang kamu pilih harus punya titik didih yang tinggi. Kalau tidak, minyak rem bisa gagal beroperasi karena timbul buih gelembung akibat suhu tinggi.

Yang tidak kalah penting, minyak rem harus punya aditif anti karat, sehingga bisa melindungi sistem pengereman dari serangan karat yang bisa mengakibatkan kebocoran di pipa minyak rem.

Catat! Tips Tampil dengan Makeup Bold Ala Tasya Farasya-
Join Dream.co.id