Peneliti Jepang Teliti Dampak Mobil Listrik Buat Indonesia, Hasilnya?

Automotive | Jumat, 1 Februari 2019 08:15
Peneliti Jepang Teliti Dampak Mobil Listrik Buat Indonesia, Hasilnya?

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Ada hal yang harus disiapkan pemerintah agar proyek ini bisa berjalan mulus. Apa itu?

Dream – Pemerintah Indonesia mendorong pengembangan kendaraan listrik, termasuk mobil. Langkah ini bertujuan untuk menekan emisi gas buang dan penurunan konsumsi bahan bakar.

Namun, listrik yang digunakan masih berasal dari pembangkit listrik yang berfokus pada penggunaan batubara.

Apakah kendaraan listrik sebetulnya ramah lingkungan?

Dikutip dari Liputan6.com, Jumat 1 Februari 2019, hasil studi dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), menunjukan penggunaan mobil listrik di Indonesia tidak bakal berdampak besar.

Senior Research Fellow The Institute of Energy Economics Japan (IEEJ), Ichiro Kutani, mengatakan pembangkit listrik di Indonesia masih fokus kepada penggunaan batubara. Kutani mengatakan penggunaan batubara masih menjadi masalah serius di Indonesia karena mengotori lingkungan.

“ Walaupun kendaraan listrik banyak diproduksi, itu tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap perbaikan lingkungan,” kata dia di Jakarta.

Kutani mengatakan, dilihat dari inisiasi pemerintah tentang energi baru terbarukan, semakin banyak kendaraan listrik yang diproduksi, akan meningkatkan energi hybrid. Situasi ini akan mendorong peningkatan dari pembuatan baterai yang dipasok ke kendaraan listrik.

“ Dampaknya, terhadap pengembangan energi terbarukan tidak terlalu signifikan,” kata dia.

2 dari 2 halaman

Bagaimana Dampaknya terhadap Ekonomi?

Kalau dilihat dari dampak ekonomi, impor energi atau minyak akan turun.

Kutani melihat minat program mobil ramah lingkunganini harus memperhatikan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. Jika minat masyarakat terhadap kendaraan elektrik ini tinggi, otomatis itu akan merangsang industri investasi di Indonesia.

Namun dia mengingatkan program ini harus berjalan seiring dengan harga mobil atau motor listik yang murah bagi konsumen.

" Membuat energi terbarukan juga mahal, dan harga ini akan sulit untuk turun, masih akan tetap tinggi,” kata dia.

Untuk menekan harga pembuatan mobil yang cukup tinggi, Kutani menilai pemberian subsidi diperlukan. Subsidi ini bisa berdampak kepada dana yang digunakan untuk mengembangkan energi terbarukan dan menekan mahalnya harga mobil listrik untuk konsumen.

“ Supaya kendaraan listrik bisa dibeli masyarakat banyak, diperlukan subsidi yang besar," pungkasnya.

(Sumber: Liputan6.com/Arief Aszhari)

ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen
Join Dream.co.id