Pengguna KRL Diimbau Tak Bicara dan Balita Dilarang Naik Saat New Normal

Automotive | Selasa, 2 Juni 2020 19:36
Pengguna KRL Diimbau Tak Bicara dan Balita Dilarang Naik Saat New Normal

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Lansia masih boleh naik, tapi pada jam tertentu.

Dream – Pengelola transportasi umum kereta api mengeluarkan aturan baru baru para penumpangnya. Setelah ketentuan buat pengguna kereta jarak jauh, kali ini PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengeluarkan sejumlah protokol baru pada masa kelaziman baru.

Aturan baru bagi penumpang kereta jarak dekat ini diantaranya melarang para penumpang untuk berbicara di kereta.

Dikutip dari akun @commuterline, Selasa 2 Juni 2020, manajemen KCI menerbitkan aturan dan tata tertib ini untuk menekan risiko kesehatan di tengah meningkatnya jumlah orang yang kembali beraktivitas.

“Untuk melengkapi masker yang sudah menjadi kewajiban selama berada di stasiun maupun KRL, kami juga mengimbau #RekanCommuters untuk tidak berbicara secara langsung maupun melalui telepon genggam,” tulis KCI.

Anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini menambahkan virus Covid-19 menular melalui droplet ataui cairan yang keluar dari mulut dan hidung saat batuk, bersih, dan berbicara. Masker memang bisa mengurangi potensi droplet menular. Tapi, itu tidak seluruhnya karena ukurannya yang mikroskopis.

“Di era kenormalan baru, pengguna KRL juga semakin banyak yang kembali beraktivitas. Dengan tidak berbicara, kita juga tidak perlu saling berhadap-hadapan di dalam KRL. Ayo Rekan Commuters, kita tetap prioritaskan kesehatan bersama dalam menggunakan transportasi,” tulis KCI.

 

 
 
 
View this post on Instagram

Sejumlah protokol kesehatan akan tetap berlaku di transportasi publik pada masa kenormalan baru. Selain itu akan ada aturan dan tata tertib tambahan untuk meminimalisir risiko kesehatan di tengah meningkatnya jumlah orang yang kembali beraktivitas. Untuk melengkapi pemakaian masker yang sudah menjadi kewajiban selama berada di stasiun maupun KRL, kami juga menghimbau #RekanCommuters untuk tidak berbicara secara langsung maupun melalui telepon genggam. Imbauan ini penting untuk kita ikuti bersama mengingat penularan virus Corona adalah melalui droplet atau percikan cairan yang keluar dari mulut dan hidung saat batuk, bersin, maupun berbicara. Masker dapat mengurangi potensi droplet keluar, tapi tidak seluruhnya karena ukuran droplet yang mikroskopis. Di era kenormalan baru, pengguna KRL juga akan semakin banyak yang kembali beraktivitas. Dengan tidak berbicara, kita juga tidak perlu saling berhadap-hadapan di dalam KRL. Ayo Rekan Commuters, kita tetap prioritaskan kesehatan bersama dalam menggunakan transportasi publik. #CovidSafeBUMN #newnormal #BUMNlawanCorona #BUMNUntukIndonesia #KCIlawanCorona

A post shared by Kereta Commuter Indonesia (@commuterline) on

2 dari 6 halaman

Balita Dilarang Naik KRL

Tak hanya berbicara, KCI juga mengimbang penumpang untuk tidak membawa anaknya yang masih balita naik KRL untuk sementara waktu. Sementara bagi penumpang lanjut usia (Lansia) masih diperbolehkan naik di luar waktu sibuk. Penumpang lansia di atas 60 tahun hanya diizinkan naik KRL pada pukul 10.00-14.00.

“Aturan ini dibuat untuk meminimalisir risiko bagi kelompok yang sangat rentan terhadap Covid-19,” tulis KCI.

Perusahaan ini menambahkan balita cukup berisiko terpapar dan tak punya kepentingan mendesak untuk keluar rumah dan naik KRL di tengah pandemi corona.

“Untuk itu, balita akan dilarang sementara menggunakan KRL,” tulis KCI.

Namun, jika ada kepentingan yang mendesak baik balita dan lansia, misalnya untuk mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, bisa dikomunikasikan kepada petugas di stasiun. 

 

      View this post on Instagram

#RekanCommuters , mulai 8 Juni 2020 akan berlaku sejumlah aturan tambahan dalam menggunakan KRL. Untuk sementara, anak-anak dan adik-adik kita yang berusia di bawah lima tahun (balita) akan dilarang naik KRL, sedangkan bagi orang tua kita yang sudah masuk kelompok lanjut usia diatur untuk menggunakan KRL hanya pada waktu-waktu di luar jam sibuk. Aturan ini dibuat untuk meminimalisir risiko bagi kelompok yang sangat rentan terhadap Covid-19, yaitu lanjut usia atau mereka yang telah berumur enam puluh tahun atau lebih. Mengingat adanya potensi kepadatan pengguna KRL pada jam sibuk, maka bagi lansia hanya diizinkan untuk naik KRL pada pukul 10:00 hingga 14:00 WIB. Sementara anak-anak balita selain cukup berisiko juga tidak memiliki kepentingan mendesak untuk keluar dari rumah dan menggunakan transportasi publik termasuk KRL di tengah situasi pandemi Covid-19 ini. Untuk itu, balita akan dilarang sementara menggunakan KRL. Meskipun demikian, bila ada kepentingan yang sangat mendesak bagi balita maupun lansia untuk naik KRL antara lain untuk mendapat perawatan medis rutin ke Rumah Sakit, maka dapat berkomunikasi dan menjelaskan keperluan tersebut kepada petugas di stasiun. Mohon informasi ini dapat disampaikan juga kepada anak-anak, adik-adik, dan para orang tua kita, Rekan Commuters #CovidSafeBUMN #newnormal #BUMNlawanCorona #BUMNUntukIndonesia #KCIlawanCorona

A post shared by Kereta Commuter Indonesia (@commuterline) on

3 dari 6 halaman

Selain Masker, Penumpang Kereta Jarak Jauh Wajib Pakai Face Shield

Dream - Para penumpang kereta api sebaiknya mulai membeli pelindung wajah (face shield) saat menggunakan moda transportasi umum ini. Saat memasuki era adaptasi kebiasaan baru, The new Normal, PT Kereta Api Indonesia (Persero) akan mewajibkan penumpang kereta api untuk memakai face shield dan masker.

Ketentuan baru tersebu tmengikuti protokol kesehatan baru saat pemberlakukan The New Normal. 

" Pada konsep New Normal, masker dan face shield harus dipakai saat naik KA," kata Vice President Public Relation KAI, Joni Martinus, kepada wartawan, Senin 1 Juni 2020. 

 Peraturan KAI© Ditjen Perkeretaapian

Untuk kamu penumpang kereta api jarak jauh, perusahaan akan menyediakan fasilitas face shield yang akan diberikan secara cuma-cuma. Perlengkapan untuk mencegah paparan virus corona ini harus dipakai bersamaan dengan masker selama perjalanan berkereta. 

" Face Shield tersebut wajib digunakan penumpang hingga keluar dari area stasiun kedatangan," kata dia.

Namun Martinus tak bisa memastikan kebijakan penyediaan face shield ini untuk penumpang kereta listrik.

" Untuk KRL, mungkin bisa langsung confirm ke bu Anne (VP Communication PT KCI,red)" ujarnya.(Sah)

4 dari 6 halaman

Tiket KLB Kereta Diperpanjang hingga 7 Juni 2020, Ada Syaratnya

Dream – PT Kereta Api Indonesia (Persero)/KAI memperpanjang masa operasional Kereta Api Luar Biasa (KLB) hingga 7 Juni 2020. Operasional KLB ini bertujuan untuk melayani masyarakat yang dikecualikan dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sebelumnya, KLB ini berakhir hingga hari ini, 31 Mei 2020. “ Perpanjangan operasional KLB ini kami tujukan untuk melayani masyarakat yang dikecualikan sesuai dengan aturan pemerintah,” kata Vice President Public Relations KAI, Joni Martinus, di Bandung, Jawa Barat, dikutip dari keterangan tertulis KAI.

Perpanjangan KLB ini menyesuaikan dengan terbitnya Surat Edaran Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub No UM.006/A.518/DJKA/20 tanggal 29 Mei 2020 tentang perubahan atas Surat Edaran Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub No. UM.006/A.218/DJKA/20.

Dinyatakan bahwa KLB dioperasikan hingga 7 Juni 2020. Dalam hal operasional KLB, KAI masih tetap mengoperasikan 6 perjalanan KLB yang melayani tiga rute, yaitu Gambir – Surabaya Pasarturi Lintas Selatan, Gambir – Surabaya Pasarturi Lintas Utara, dan Bandung – Surabaya Pasar Turi.

Mulai 1 Juni, perjalanan KLB dari arah Surabaya hanya akan beroperasi setiap tanggal ganjil, dan KLB dari arah Jakarta dan Bandung akan beroperasi setiap tanggal genap.

Untuk membeli tiket KLB, penumpang masih tetap diharuskan membawa seluruh persyaratan sesuai SE Gugus Tugas Covid-19 Nomor 5 Tahun 2020 ditambah Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) DKI Jakarta bagi calon penumpang yang keluar atau masuk Provinsi DKI Jakarta.

Penjualan tiket hanya dilakukan di stasiun keberangkatan mulai h-2 keberangkatan dan tidak dapat diwakilkan.

5 dari 6 halaman

Perusahaan pelat merah ini membatasi kapasitas angkut dengan menjual tiket 50 persen dari kapasitas kereta, membuat batas antre dan marka di tempat duduk stasiun dan kereta, menerapkan aturan jaga jarak dan menyediakan alat pengukur suhu tubuh.

Selain itu, KAI juga menyediakan ruang isolasi hingga wastafel portable di stasiun dan rutin menyemprotkan cairan disinfektan di fasilitas penunmpang.

“ Dengan diperpanjangnya jadwal perjalanan KLB, maka layanan angkutan barang yang dirangkaikan dengan KLB juga tetap KAI sediakan. Hal ini agar masyarakat semakin mudah untuk mengirimkan barang seperti dokumen, paket, produk industri, produk UMKM, e-commerce, makanan, sayur mayur, sepeda, motor dengan tarif yang menarik,” kata Joni.

Dia mengatakan itu merupakan bentuk komitmen KAI untuk tetap melayani angkutan penumpang dan barang di tengah pandemi Covid-19 sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“ Kami harap masyarakat terbantu dengan adanya perjalanan KLB. Layanan KLB ini juga akan terus dievaluasi pengoperasiannya,” jelas Joni.

6 dari 6 halaman

Sementara itu, pengoperasian 6 KLB dari perjalanan pertama 12 Mei 2020 hingga 30 Mei 2020, KAI telah melayani 2.680 penumpang. Rute yang paling diminati penumpang adalah Surabaya Pasarturi - Gambir dengan 411 penumpang Gambir - Surabaya Pasarturi dengan 355 penumpang, dan Surabaya Pasarturi – Bandung dengan 193 penumpang.

Hingga 30 Mei juga, terdapat total 1.110 calon penumpang yang ditolak oleh Satgas Covid-19 di stasiun untuk pembelian tiket KLB karena tidak melengkapi persyaratan. Satgas tersebut merupakan gabungan dari internal KAI, Kemenhub, TNI, Polisi, BPBD, Satpol PP, dan Dinas Kesehatan masingmasing daerah.

“ Kami menerapkan protokol pencegahan Covid-19 yang ketat dan terus melakukan kordinasi dengan unsur-unsur Satgas Covid-19 yang bertugas di posko stasiun-stasiun guna memilah dengan cermat calon penumpang yang benar-benar memenuhi syarat untuk menggunakan KLB ini,” kata Joni. (mut)

Join Dream.co.id